Curahan Hati Seorang Mahasiswa Semester Akhir

Pembaca: 449 Orang
  •  

Penulis: Emanuel Natal

Menjadi Mahasiswa semester akhir memang sudah pasti memikul beban yang begitu berat. Tiap hari tiada waktu tanpa berkonsultasi, menanti Dosen di ruang tunggu, belum lagi menerima alasan untuk pembatalan konsul.

Revisian semakin saja terus menumpuk. Waktu tak lagi ada yang buang percuma, jikalau tak selalu berhadapan dengan laptop dan buku yang tercecer di sana-sini.

Kehidupan anak semester akhir, memang keras adanya. Terkadang, untuk makan saja bisa sampai dilupakan. Lupa dengan hari, lupa dengan jam istirahat, bahkan pacar pun bisa saja dilupakan dengan tanpa memberi kabar sedikit pun. Begitulah kehidupan Mahasiswa Semester akhir.

Pikiran pun hanya dipadati dengan teori para ahli, teori tentang cinta hilang begitu saja tanpa jelas ke arah mana.

Pacaran dengan anak semester akhir, memang perlu adanya pengertian dan tingkat kesabaran yang cukup besar.

loading...

Mereka yang sebelumnya selalu saja dekat, saat ini justru seperti orang asing disaat bertemu, belum lagi tak saling sapa lantaran buru waktu dan pesan WatsApp yang selalu saja berkaitan dengan tugas – tugas akhir.

Bukan cuma waktu untuk makan, istirahat, dan pacar saja yang dilupakan, justru sahabat dekat yang sebelumnya selalu saja hadir untuk menemani diri saat kesepian tiba dengan mengisi berbagai canda dan tawa dengan ditemani segelas kopi di kamar kos, kini telah hilang begitu saja entah kemana dengan adanya kesibukan masing-masing seperti ini.

Memang, hal seperti ini bukanlah faktor kesengajaan. Tetapi tuntutan tugas yang memaksa kita untuk tidak selalu bertatap wajah.

Tantangan yang sangat berat bagi Mahasiswa adalah ketika mendapatkan Dosen pembimbing yang killer dan sedikit dibilang ku’ak.

Dosen seperti ini tentu selalu saja menciptakan beban yang bertambah bagi Mahasiswa, Ia melalui itu dengan sesuka hatinya saja tanpa memikirkan resiko yang berat bagi Mahasiswa yang dibimbingnya, hingga akhirnya terus berlarut dalam waktu.

Revisian terus menumpuk, hari ini lain, esok juga lain, padahal tulisannya masih sama. Itu-itu saja. Lho, kemana saja sejak kemarin – kemarin, Pak, Bu? Kok hari ini baru dikoreksi, sementara sebelumnya biasa-biasa saja.

Tuhan saja tidak memberi cobaan yg melebihi kemampuan manusia. Kita ini sama-sama cipataan Tuhan, Pak, Bu. Jadi tolonglah! berikan kami keringanan sedikit saja. Jangan karena tulisan, harapan orang tua kami akan terhapus.

Ketahuilah, kedua orang tua kami begitu telah banyak berkorban untuk kami. Ingatlah! Dahulunya kalian juga seperti kami. Apa lagi kami yang anaknya orang tua lanta toko racap ini, akan menambah beban bagi mereka ketika kami belum selesai dari waktu yang mereka telah jauh perhitungkan.

Demikianlah sedikit curahan hati saya ini selaku Mahasiswa Semester Akhir di Universitas Politeknik Pertanian Negri Kupang. Mohon maaf apa bila ada kata dan kalimat saya yang menyinggung.

Namun ketahuilah untuk kalian para pejuang skripsi, bahwa untuk menggeserkan tali toga wisuda kalian dari kiri ke kanan, memang harus membutuhkan banyak pengorbanan.

Tetap semangat! Bangkitlah dari mimpi buruk kalian. Ingatlah! bahwa hasil tidak pernah menghianati proses.

Satu hal lagi yang perlu kalian ketahui. Bahwa disaat kamu lelah dan ingin putus asa, ingatlah bahwa kedua orang tua kalian masih sangat menanti dan merindukan kalian untuk duduk berdampingan dengan kedua orang tua kalian di acara wisuda kelak.

Semangat pejuang Skripsi !!!
Sukses selalu untuk kalian.

 


  •  
loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.