Dia dari Matim Kutemukan di Mabar Ternyata Milik Orang Manggarai

Pembaca: 2.125 Orang
  •  

Penulis: Remigius Nahal

Jika purnama yang terakhir selesai, barulah kamu boleh mencintaiku. Sebab bukan cinta namanya bila ada cinta lain yang dikhianati.”


Bulan Mei identik dengan musim pesta sekolah di bumi Nuca Lale. Di antara Mei sampai kisaran September adalah saat-saat yang sangat beruntung bagi kawula muda di Manggarai Raya. Bagi para remaja di tanah Congka Sae, pesta sekolah tetap menjadi medan untuk mendapatkan tambatan hati.

Rentang waktu dari bulan Mei hingga September ini juga adalah saat yang sangat baik bagi orang Manggarai Raya. Sebab, sedang menikmati musim petik kopi, panen padi dan yang terakhirnya musim kemiri. Beruntunglah, sehingga dompet terus membengkak.

Biasanya, jadi buruh petik kopi atau buruh angkut padi dari sawah tidak menjadi masalah. Hanya demi mendapatkan uang untuk biaya pergi pesta.

Saat itu aku berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota Malang, Jawa timur. Saat libur UAS di semester 2 aku pulang kampung.

loading...

Kampungku terletak di pesisir selatan Lembor Raya, Mabar (Manggarai Barat). Tepatnya di Nanga Lili. Disitulah aku dilahirkan dan dibesarkan oleh papa dan mama.

Tempat ini terkenal dengan pantainya yang indah. Orang Manggarai Raya menyebutnya pantai Nanga Lili. Pantai ini sering dikunjungi oleh warga Manggarai Raya untuk berwisata.

 

Sudah dua Minggu aku menikmati liburan. Dalam mengisi waktu liburanku ini, aku membantu Orang tua menjaga kios. Jika jenuh, aku sesekali pergi mandi ke pantai Nanga Lili yang jaraknya tak jauh dari rumahku.

Baiklah, biar tidak melebar terlalu jauh, izinkan aku mempersingkat alur cerita ini. Jadi ceritanya begini, pada saat itu giliran anaknya Pak Kades yang dipestakan.

Sehari sebelum acara pesta sekolah itu dimulai, kami muda-mudi kampung sudah menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta tersebut, termasuk memilih pakaian terbaik, sepatu terkeren, dan gaya cukur rambut termodern. Semua itu kami lakukan  demi bisa tampil maksimal di pesta itu.

 

Aku mempersiapkan sesuatu yang lebih, sebab aku dipercayakan untuk menjadi MC (Master Of Ceremony). Sebuah jabatan dalam kepanitian yang paling serem. Apalagi bagi orang yang kuped (Kurang percaya diri) sepertiku.

Tepat pukul 19:00 Wita, ketua panitia menginstruksikan kepadaku agar lekas membuka acara. Dengan sedikit gugup aku memegang mic, mengucapkan basi-basi yang biasa disampaikan oleh pembawa acara.

Satu menit kemudian, setelah aku menyampaikan kalimat pembuka, segerombolan muda-mudi dari kampung sebelah memasuki kemah dan menjawat pengantin pesta. Salah satu gadis di antara mereka berhasil membuatku tersihir.

Dia mengenakan dress warna merah maron. Dengan High Heels sebagai alas kakinya yang panjang. Dibandingkan denganku, gadis itu sepertinya sedikit lebih tinggi dariku.

Dia berjalan begitu anggun. Sehingga membuat dua orang teman wanitanya yang berjalan tepat dibelakangnya terlihat kampungan. Bukan ngeledek, tapi begitulah kenyataannya.

Sedangkan lima orang bujang jantan yang segerombolan dengan mereka tampil dengan tengiknya. Aku bisa menebak bahwa bujang-bujang itu adalah anak kuliahan yang lebih mencintai motor ketimbang buku-buku yang mereka beli.

Setelah mereka menjawat pengantin, Marsel yang menjabat sebagai pengantar tamu ke tempat duduk mempersilahkan mereka duduk di samping meja operator, tepat di sebelahku. Aku merasa terjebak di antara senang dan takut yang luar biasa  hebat.

Tetapi sebagai lelaki dan sebagai MC pada acara itu, aku berusaha bersikap biasa-biasa saja. Aku berusaha melawan ketakutan yang memberontak di dadaku.

“Hai. Namaku Jemi. Namamu siapa?” Ucapku sambil mengulurkan tangan.

Dia terkesiap. Lalu tersenyum canggung ke arahku. Matanya membidik tepat di bola mataku.

Aku tergelepek. Terdiam sejenak. Tersihir oleh keindahan matanya yang menghiasi wajahnya yang bulat melonjong. Betul-betul perpaduan yang sempurnah. Aku rasa dia diciptakan ketika Tuhan sedang bersafari ke Taman Firdaus/Eden.

“Namaku Ana,” sahutnya sambil menjabat tanganku.

Tangannya yang kecil mungil dan pajang terasa sangat halus. Mungkin lebih halus dari kain sutra terbaik yang pernah ada. Aku bisa menjamin, Ana bukanlah orang sembarangan. Aku bisa merasakannya. Auranya memancarkan pesona wanita keturunan kerajaan.

Aku menyalami teman-temannya juga, termasuk kelima bujang tengik tadi. Mereka bertanya beberapa hal kepadaku. Aku tidak begitu peduli. Aku hanya menjawab sekenanya saja. Sedangkan Ana hanya terdiam. Dia kalem dan tak banyak tingkah.

“Satu kampung dengan mereka Nela?” Tanyaku kepadanya.

“Tidak kaka, saya dari Matim (Manggarai Timur)” jawabnya.

“Hae, jauh bangat, datang pesta ke sini,” jawabku pura-pura dengan mimik penasaran.

“Heheheh, gini kaka, kebetulan saya dengan Nela sepupuan. Jadi saya datang libur di mereka. Pas ada pesta gini. Nela tadi ajak,” terang Ana dengan nada tenang.

“Gitu ya, Nu. Sori siapa tadi namanya. Saya lupa ewm. Heheheh,” tanyaku pura-pura. Biar makin lama ngobrol.

“Ana kaka,” jawabnya dengan senyuman.

“Nama yang bagus. Dan Pas,” cetusku.

“Emangnya kenapa kaka,” tanya Ana kembali.

“Hahahha. Tidak enu. Eh, Ana Maksudnya,” jawabku membuatnya semakin hangat diperkenalan itu.

Lalu tibalah kami di puncak acara. Detik-detik itu adalah waktu yang selalu ditunggu oleh kaum kami (Pemuda), sebab saat itu adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan pesona kami melalui Joget.

Sementara joget, aku selalu menyempatkan diri untuk menengok Ana. Dia tidak pernah ikut berjoget. Bahkan ini sudah lagu kelima. Berdansa juga tidak pernah. Banyak yang menawarinya, tapi dia menolak. Dia hanya memperhatikan orang-orang. Sesekali dia tersenyum ketika melihat gelagat om-om yang berjoget dalam keadaan mabuk.

“Apakah malam ini terlalu muram bagimu untuk berdansa?” Ucapku sembari duduk di sebelahnya. Saat itu musik dansa sedang berdendang. Dan dia baru saja menolak empat pria yang menawarinya berdansa.

“Aku tidak pandai berdansa. Lagi pula bukankah kita hanya boleh berdansa dengan orang yang tepat?” Jawabnya sembari meluncurkan sebuah pertanyaan yang  membuat aku kikuk.

“Bukankah jika sedang berpesta, kita boleh berdansa dengan siapa saja? Aku melempar pertanyaan tandingan.

“Aku rasa tidak,” jawab Ana dengan sedikit angkat dagu.

“Kalau begitu, maukah kamu berdansa denganku?” Pintaku.

Saat mengatakan itu, aku sengaja tidak memandanginya. Aku tidak mau dia melihat ketakutan yang tergaris di pelupuk mataku.

“Mungkin,” sahutnya polos.

“Kok mungkin? Aku butuh kepastian, rengekku yang sudah tidak tahan lagi ingin berdansa denganya.

“Setelah ini. Setelah musik dansa ini selesai, barulah kamu boleh mengajakku berdansa,” ucapnya.

Waktu itu, dia tidak menoleh ke arahku. ketika menjawab pertanyaanku. Seingatku, kami tidak lagi saling bertatap ketika aku memintanya berdansa. Kurasa dia sedang merona. Mungkin. Semoga saja.

Musik dansa yang berikutnya berlalu. Aku menagih janjinya tadi. Dia menepatinya. Akhirnya kami berdansa (tidak perlulah, aku menceritakan secara detail saat kami berdansa).

Musik dansa selanjutnya diputar lagi. Kami berdansa lagi. Begitu seterusnya. Dan yang bisa berdansa dengannya malam itu hanya aku seorang. Aku betul-betul orang paling bahagia malam itu.

“Mungkin kah ada decak kagum dalam hatinya untukku?” Ah…. Aku kege’eran sekali waktu itu.

Malam telah usai. Keramaian malam pesta hilang bersamaan dengan terbitnya cahaya di ufuk Timur. Aku merasakan rindu yang luar biasa berkecamuk. Padahal baru satu jam Ana beranjak pergi dari kampungku.

Malam itu kami tidak bisa berbagi cerita. Kami hanya bicara sebentar, lalu terdiam canggung. Selain karena kami baru kenal dan belum akrab, itu juga terjadi karena bunyi musik yang terlalu keras. Jadi percuma juga. Nanti pasti tidak saling mendengarkan.

Untunglah waktu itu aku berhasil mendapatkan nomor handphonenya. Sehingga ketika sore harinya, aku langsung menghubunginya via chat WhatsApp.

“Selamat sore. Semoga dansa kita tadi malam tidak lekas membuatmu tidur seharian,” pesan pertama yang kukirim ke Ana semenjak pesta itu.

“Aku bahkan belum tidur dari tadi pagi. Aku sedang merindukan malam,” jawabnya di pesan itu.

“Merindukan malam, apa merindukan aku?”Jawabku  singkat.

“Ah. Kamu kepedean deh,” timpal Ana.

“Hhaha.. Bercanda.  Tapi bolehlah, sesekali kita jalan-jalan ke Pantai Nanga Lili. Mumpung masih libur. Dan kamu masih berada disini.” Ajakku sengaja.

“Boleh. Kalau kamu ada waktu,” jawab Ana.

“Aku selalu ada waktu. Apalagi untuk menemani bidadari. Wkwkwk,,, Hari minggu bisa?”

“Hmm,, Mulai gombal sudah… Ok, bisa.”

Hari minggu telah tiba. Aku bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatu. Rambut yang kemarin baru dicukur tampak membuatku semakin ganteng. Aku ingin membuat Ana terpana. Sangat ingin.

Aku menghidupkan sepeda motor dinas milik Ayah. Tidak lupa aku mencopot pelat merah yang terpasang di sepatbor depan dan belakang, lalu membiarkannya kosong. Kemudian aku menjemput Ana ke rumahnya.

Jarak rumah mama kecilnya Ana dengan rumahku tidak terlalu jauh. Hanya empat kilo meter.

Ketika sampai di Pantai Nanga Lili kami berjalan kaki. Menyusuri pesisir pantai itu. Menikmati hangat pasir pantai yang mengenai telapak kaki kami. Lalu menyempatkan diri untuk duduk bersua di bawah rimbunnya pohon Ketapang yang tumbuh di pesisir pantai itu.

Aku kemudian mulai membuka topik pembicaraan dengan tema yang sangat relevan dengan batinku yang terus membisik tentang cinta. Ya itulah tema pembicaraan kami waktu itu, tentang cinta.

“Ana. Bagaimana jika aku mencintaimu?”

Ana terlihat tidak terkejut dengan pertanyaanku. Sepertinya dia sudah tahu, cepat atau lambat aku akan mengatakan kebenaran tentang perasaanku padanya. Dia pasti sudah menduganya. Aku tahu itu.

 

“Apakah itu artinya dia akan menerimaku?” Bisik kecil di hatiku saat itu.

Dia menatapku dan tersenyum, tetapi sunyi. Dia tidak mengatakan sesuatu. Lalu kemudian dia berpaling muka, menghadap ke laut. Dia seperti sedang merindukan sesuatu yang berada di seberang lautan itu.

“Di seberang sana, ada seorang lelaki yang sedang menungguku pulang. Dia lelakiku. Dia berasal dari Manggarai Tengah (Kab.Manggarai),” ucapnya dengan setengah menahan suara di tenggorokan.

“Jika purnama yang terakhir selesai, barulah kamu boleh mencintaiku. Sebab bukan cinta namanya bila ada cinta lain yang dikhianati,” lanjut Ana lagi.

Perkataan Ana ini adalah kalimat terakhir dari perbincangan kami waktu itu. Setelah penolakan yang disertai alasan yang tegas itu, aku mengasingkan diri dalam kesendirian. Hanya patah hati dan sunyi yang menjadi temanku waktu itu, bahkan sampai sekarang.

Aku kecewa pada waktu yang mempertemukan kami. Kenapa juga kami dipertemukan jika tidak untuk disatukan? Apakah Alam Semesta sedang menguji perasaanku?

Jika demikian maka pantaslah aku mengikhlaskan penolakan itu. Tetapi, lelaki selalu keras kepala bukan? Aku masih ingat waktu itu aku pernah mengirim pesan via chat WhatsApp kepadanya. Isi pesannya begini, “Ana. Cinta adalah nasib yang tersebar. Dan kamu boleh memilih. Termasuk memilihku menjadi kekasihmu. Kabari aku jika hatimu bersedia untuk aku bahagiakan. Dan ketahuilah aku akan selalu menunggumu hingga musim terakhir selesai.”

 

Dia sudah membaca pesan itu, tetapi tidak membalasnya. Mungkin baginya tidak penting. Tetapi aku tetap yakin, pertemuan kami di pesta sekolah waktu itu bukanlah sebuah kebetulan. Ada maksud terselubung yang direncanakan Semesta untuk kami. Aku yakin itu.

Masa liburanku hampir berakhir. Tidak ada yang istimewa dari liburan kali ini. Hanya merasakan cinta yang bersemi, yang bertepuk sebelah tangan. Miris sekali. Siapa pun akan merasa patah hati jika berada di posisi sepertiku.

Ana, gadis yang kutemukan di Pesta Sekolah bulan lalu terus saja mengusik ketenanganku. Aku merindukan sebuah cinta yang terlalu nihil untuk diharapkan. Mungkin, seumpama anak kecil yang ingin berseragam polisi. Kira-kira seperti itulah yang terjadi padaku. Aku terlalu yakin dengan sebuah kebersamaan yang singkat.

Jika saja Ana tidak ada di pesta sekolah waktu itu, mungkin tidak pernah ada perasaan yang tak karuan seperti ini. Mungkin aku akan menemukan gadis lain, yang tentunya masih sendiri. Yang belum ada kekasih. Tetapi nasib memang selalu tak terduga. Kita tidak bisa memilih. Betul-betul tidak bisa.

Hari ini aku pergi ke Ruteng, untuk menjual cengkeh. Kami berangkat pagi sekali dari rumah. Kata ibu, biar nanti kami bisa cepat sampai di rumah paman. Saudaranya ibuku. Ya, ibuku memang berasal dari Leda. Sebuah tempat yang terletak di pinggiran kota Ruteng. Tempat di mana orang sering membeku bersama angin dan kabut.

 

Sekitar pukul 08:00 pagi kami sampai di Ruteng. Kami langsung menimbang cengkeh. Ibu menyuruh pak Sopir agar menurunkan cengkeh-cengkeh itu di Toko Cahaya Golo Watu Ruteng. Tetapi seorang penumpang memberi saran agar menjualnya di Toko Karot Makmur. Kata penumpang itu, di Toko Cahaya Golo Watu, harganya memang bagus. Hanya saja yang punya toko biasanya bermain di dacing.

Aku tidak begitu mengerti maksudnya, tetapi kulihat ibu mengangguk setuju. Berkat informasi dari penumpang tersebut ibu akhirnya menurunkan cengkeh-cengkehnya di depan Toko Karot Makmur.

Ketika kutanya kenapa ibu percaya saja dengan ucapan penumpang tadi. Ibu hanya tersenyum dan bilang, “nana, kadang kita harus percaya dengan sesuatu yang kebetulan, siapa tahu ucapan penumpang tadi benar adanya.”

 

Aku sebetulnya ingin mengeluarkan kalimat pembelaan. Tetapi, sudahlah. Kubiarkan saja. Toh jika aku mengatakan harus membawa ke Toko Cahaya Golo Watu juga belum tentu lebih baik, karena yang kutahu toko-toko di sini sama saja. Sama-sama curang.

 

Lihat saja harga komoditi yang dijual ke sini. Para pemilik toko dengan seenaknya menetapkan harga. Penerapan pasar monopsoni di sini memang sangat kental. Aku tidak mengerti, kira-kira pemerintah yang bertugas mengontrol dan menyeimbangkan harga, ke mana?

Atau pun Wakil Rakyat yang bertugas mengawasi peran pemerintah, kira-kira mereka lagi ke mana? Ah, sudahlah. Percuma juga memikirkan hal yang terlalu rumit seperti ini.

Seperti yang diperintahkan ibu, aku kemudian mengangkat cengkeh-cengkeh itu, membawanya ke dalam toko. Senyum semringah dari sang pemilik toko tergurat di bibir tebalnya. Lipstik merah noraknya membuat perutku mual.

Dia kemudian berteriak memanggil anak buahnya, agar segera menimbang cengkeh yang aku bawa. Seorang pemuda jangkung dengan rambut tak terurus mendekatiku, lalu mengangkat cengkeh-cengkeh itu ke timbangan. Sesaat setelah itu pemilik tokoh itu memberikan nota pembelian berserta uang kepada ibu.

Kami kemudian melangkah keluar toko. Baru saja kami melewati batas pintu, seseorang memanggilku dari dalam mobil sedan berwarna hitam.

“Jem…Jemi…”

Aku menoleh pandang ke arah sumber suara. Seorang gadis sedang melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku.

Gadis itu adalah Ana. Gadis yang terus mengusik malamku yang sepih. Dia kemudian turun dari mobilnya. Melangkah ke arahku. Sedang aku tetap berdiri membeku bersama ketidaksiapanku menemuinya.

 

“Hai, kamu apa kabar? Sapanya sambil menjabat tanganku.

Lembut tangannya masih sama dengan yang aku rasakan sebulan yang lalu. Lagi-lagi ada gempita-gempita kecil yang bersorak di dadaku. Aku tak kuasa menahan gemetar urat nadi yang bergelora dalam batinku.

Aku sejenak tak bersuara, terbius oleh aroma kasmaran yang memuncak. Lalu imajinasiku berhenti tepat di menit ketika aku mengirim chat untuk yang terakhir kalinya dengan dia. Aku berniat untuk bertanya kepadanya saat itu. Tapi aku tidak berani.

 

“Jemi. kamu kok bengong. Kamu apa kabar?” hardiknya sembari menanyakan pertanyaan yang sama, yang belum sempat aku jawab tadi.

“Ka..kabar baik.. kamu apa kabar?” ucapku terbata-bata, sambil tersenyum. Saat itu aku telah memamerkan senyum terbaik yang kupunya.

“Kamu ngapain kesini? Tanyanya keheranan.

“Aku? Aku sedang menemani ibu menjual cengkeh di Toko ini.”Jawabku sembari menunjuk ke arah ibuku yang masih sibuk menghitung uang di depan pintu toko.

“Oh iya. Kebetulan sekali. Sebentar malam datanglah ke Villa ayahku. Tempatnya berada di atas bukit itu. Di Wae Lengkas. Kamu tahu kan tempatnya?” Katanya sambil menunjuk ke arah barat.

“Nanti deh, aku dan teman-temanku yang jemput,” lanjutnya.

“Tapi. Kita mau buat apa ke sana”. Tanyaku bingung bercampur senang. Bagaimanapun juga diajak oleh orang yang kita kagum rasanya benar-benar sesuatu sekali.

“Hari ini ulang tahunku. Dan aku membuat acaranya di tempat itu.” Jawabnya.

“Boleh minta nomormu. Soalnya handponeku hilang pas pulang ke Mano kemarin,” katanya lagi sambil mengeluarkan handpone dari saku tasnya.

“Boleh,” jawabku.

Aku membacakan nomorku untuknya. Setelah itu dia langsung pamit padaku dan juga pada Ibuku. Katanya dia mau pergi belanja untuk persiapan acaranya sebentar malam.

“Kelihatan sekali dia dari keluarga yang berada.”Gumamku dalam hati.

Setelah itu dia masuk mobil. Aku terus mengamati mobilnya hingga mobil itu hilang tertelan pengkolan di ujung jalan itu. Sementara itu gerimis tipis mulai tercurah. Langit sudah mulai mendung.

Kali ini memang musim hujan datang terlambat, bahkan di Kota ini. Kota yang sering dijuluki kota hujan. Hampir saja harapanku mengering bersama keinginan yang hampir pupus.

Tetapi  hari ini, semuanya kembali basah. Harapanku kembali hidup. Hujan yang tercurah hari ini dan pertemuan dengan Ana, merupakan sebuah petanda baik. setidaknya begitu menurutku.

Ibu yang dari tadi sibuk membeli kue-kue di penjual asongan di depan toko, kemudian memanggilku.

“Ayo kita ke rumah pamanmu.” Ajak ibu.

Lima belas menit kemudian kami sampai di rumah Paman. Tak banyak hal yang kami lakukan di sana. Hanya ibu yang begitu bersemangat menceritakan tentangku kepada Paman.

Ibu membesar-besarkan pekerjaanku sebagai wartawan di salah satu media daring lokal. Aku agak malu karena itu. Tetapi, memang begitulah orang tua selalu bangga dengan anak-anaknya.

Sore harinya, ketika kabut dan angin menyatu. Hawa dingin menusuk sampai ke sum-sum tulangku. Aku tersiksa menahan dingin yang tersalurkan melalui air keran di kamar mandi.

Sebetulnya saat itu aku dengan berat hati bersentuhan dengan air, tetapi demi menghadiri pesta ulang tahunnya Ana aku bersedia membanjiri tubuhku yang menggigil dengan air yang hampir membeku.

Ketika aku baru selesai saja ganti pakaian, bunyi klakson mobil dari depan rumah terdengar. Aku langsung menebak, itu pasti Ana dan kawan-kawannya. Aku pergi keluar rumah menemui mereka yang masih tidak keluar dari mobil.

“Kalian cepat juga. Perasaan aku baru mengirim lokasi beberapa menit yang lalu.” Ucapku sekadarnya. Biar ada bahan omongan.

Dua puluh menit yang lalu memang aku telah mengirim lokasiku kepada Ana. Lengkap dengan foto rumahnya pamanku. Rumah pamanku tepat berada di samping jalan raya. Jadi tidak sulit bagi Ana dan teman-temannya menemukan rumah ini.

“Iya dong.” Ucap Ana sambil tersenyum dengan manisnya.

“Ayo masuk.”Ajaknya lagi.

“Sebentar. Saya pamit ke ibu dan paman dahulu,” jawabku, sembari masuk ke rumah.

Kami akhirnya sampai di Vila, yang merupakan tempat tujuan kami. Beberapa menit kemudian pesta ulang tahunnya dipergelarkan. Aku memberikan sebuah kado kepada Ana. Kado yang tadi siang aku beli di Swalayan Pagi.

Acaranya sangat seru. Banyak teman-temannya yang hadir. Pria dan wanita. Tetapi aku tidak melihat kebahagiaan di mata Ana. Tawanya memang selalu pecah. Namun di ujung tawanya ada kesepian yang ter garis. Aku bisa melihatnya.

Lalu di penghujung acara, entah ada angin apa, Ana mengajak aku ke halaman depan Villa. Kami hanya berduaan di situ. Teman-temanya ada di dalam ruangan. Mereka sedang menikmati pesta itu dengan berbagai musik yang membuat kepalaku pening.

Langit malam berbinar. Cahaya purnama pertama di awal Oktober tahun ini memang memukau. Mungkin sedang bersuka karena salah satu bidadari di bumi ini sedang merayakan hari lahirnya. Mungkin.

“Jemi. Maaf aku tidak bisa membalas chatmu dahulu. Kesetiaan yang selalu kutempelkan pada pakaian yang aku kenakan tak bisa aku tanggalkan. Tetapi sebetulnya saat itu hatiku terbelah. Separuh untuknya, dan separuhnya lagi tertinggal di pertemuan pertama kita.” Ujarnya dengan sedikit menahan suaranya.

Seperti membisik, tetapi tegas. Sedang aku hanya diam. Senang dan bahagia, namun tertahan di ujung lidah.

“Tetapi, ternyata kesetiaan yang selalu kuusahakan, kandas tertindas oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh Paulus, kekasihku. Kau tahu, aku begitu kecewa,” ujarnya lagi.

 

Kali ini air mata berjatuhan dari matanya. Dia menangis terseduh-seduh. Kepalanya bersandar di bahuku. Aku membeku. Dia bersandar cukup lama.

“Lalu bagaimana selanjutnya. Maksudku hubungan kalian?” Tanyaku.

Antara penasaran dan prihatin. Aku tidak bisa membedakan keduanya. Jujur aku senang jika mereka putus, tetapi prihatin dengan tangisnya yang pecah. Jadi tidak adil juga jika aku terlalu senang.

“Sudah putus.” Jawabnya manja sembari menyeka air matanya.

“Oh, maafkan aku yang telah lancang menanyakan hal yang privat seperti ini.” Ucapku setengah merajut.

Jujur aku merasa bersalah. Tidak enak hati aku menanyakan hal tersebut kepadanya. Nanti aku dikira sedang kepoin plus modusin dia. Tetapi, sepertinya aku memang sedang melakukan keduanya.

“Tidak apa-apa kali.” Ucapnya seolah itu tidak penting baginya.

Kami kemudian menyepi berdua di depan teras Villa itu. Memandang langit malam yang begitu bersuka. Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami berdua. Hanya embusan napas yang bergantian keluar yang terdengar. Dan Ana masih betah menyandarkan kepalanya di bahuku.

Setelah pukul 24:00 Wita, aku diantar kembali ke rumah olehnya dan oleh teman-temannya. Ketika mereka sudah pergi aku langsung merindukannya. Aku merindukan dia yang tadi bersandar manja di bahuku. Aku merindukan dia yang tadi bercurhat manja denganku. Aku merindukannya.

Kami memang belum berpacaran. Dan dia bisa saja kembali kepada kekasihnya. Tetapi perihal di undang ke pesta ulang tahunnya dan berduaan di teras depan Vila tadi adalah sebuah awal yang baik.

Bagaimana pun, dia juga telah mengatakan bahwa separuh hatinya sempat tertinggal di pertemuan pertama kami. Kuharap hatinya masih di sana. Di tempat pesta sekolah sebulan yang lalu.

Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan dari kisah ini nantinya. Toh, hidup kita ini seperti lemparan dadu. Kita hanya bisa menebak, tapi tak kuasa mengatur dadu mana yang keluar.

Namun sebagai hamba yang percaya kepada Tuhan pantaslah kita berdoa agar sesuatu yang baik terjadi.

 

Hari ini aku berada di Bandara Ngurah Rai-Bali. Tujuanku kesini adalah untuk menjeput Ana. Dia adalah gadis yang telah membuatku jatuh cinta. Dia adalah gadis yang aku tulis di dua tulisanku sebelumnya.

Aku percaya bahwa tulisan ini pun belum merupakan babak terakhir dari yang perlu kuceritakan. Sebab sampai sekarang rasa cintaku kepadanya masih menggantung, mengambang, tidak ada kepastian yang mengikat.

Bahkan setelah pertemuan kami di Ruteng beberapa minggu yang lalu, tak juga mengantar kami pada sebuah hubungan yang biasa orang menyebutnya pacaran.

Ya, begitulah. Seperti yang aku bilang di tulisan pertama bahwa Ana bukanlah gadis sembarangan. Tak mudah baginya menyerahkan perasaannya kepada orang lain, yang walaupun dia telah dihempaskan oleh kekasih berengseknya.

 

Lima puluh menit telah berlalu, Ana belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aku menghubunginya tapi tidak tersambung. Katanya dua jam yang lalu, bahwa mereka sudah mulai terbang dari Labuan Bajo. Dan itu artinya, dia sudah sampai 1 jam yang lalu.

Tetapi kenapa dia belum muncul juga? Aku mulai khawatir. Jangan sampai hal buruk terjadi padanya. Aku betul-betul tidak mau.

Beberapa menit kemudian, saat kecemasan masih terus meneror ketenanganku, seorang sosok manis tinggi dengan celana jeans pendek dan atasan kaos putih polos muncul dari pintu kedatangan domestik.

Senyum semringah tergurat di bibirnya. Dia adalah Ana. Gadis yang membuat aku bersandar sabar menunggu di terminal kedatangan domestik ini.

“Kamu kenapa lama sekali?” Tanyaku dengan raut muka kesal. Namun tentu saja ekspresi itu hanya dibuat-buat.

 

“Tadi penerbangannya diundur. Pesawat kami tadi seharusnya take off pukul 12.00 Wita tapi di tunda ke pukul 12.45 Wita. Nah pas itu hpku lowbet, jadi tidak sempat deh aku ngasih tau kamu. Maaf ya,, maaf. Pliss,” ucapnya merajut dengan ekspresi manjanya.

Saya bisa jamin, ekspresi manjanya itu bisa meluluhkan semua hati kaum pria yang melihatnya.

“Iya, iya. Kali ini kumaafkan kau,” jawabku sembari mencubit ujung hidung peseknya.

“Ihh. Sakit tau,” hardiknya dengan roman muka ngambek. Tapi ngambek-ngambek manja, begitu. Jujur saja aku semakin tidak tahan melihatnya. Maunya bibir ini lekas mendarat di pipihnya. Tapi apa daya, aku tak punya kuasa untuk melakukan itu.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita, dan aku sudah lapar. Maka aku pun mengatakan kepadanya agar mampir sejenak di warung yang terletak tidak jauh dari Bandara. Dia mengiakannya.

Setelah makan, kami mendekati sebuah mobil taksi yang sedang parkir di parkirkan Bandara. Sopir taksi itu kebetulan lagi tidak ada penumpang. Dia begitu gembira ketika aku memintanya mengantar kami ke Terminal Ubung.

“Pak, sebentar kita mampir di Sesetan, ya. Aku mau mengambil barang-barangku yang tadi pagi aku titipkan di Kontrakan saudaraku,” pintaku kepada pak sopir.

“Baik, mas,” jawab pak sopir.

Oh, iya aku hampir lupa menceritakannya, kalau sebetulnya aku juga baru sampai di Bali hari ini. Tetapi aku menggunakan transportasi laut, yaitu Kapal Tilong Kabila.

Sebenarnya aku juga ingin naik pesawat. Biar bisa barengan sama Ana. Tetapi karena ada banyak barang yang mesti aku bawa, jadinya aku terpaksa naik Kapal.

Satu minggu sebelum ke sini aku pernah meminta Ana agar naik kapal saja. Tetapi dia menolak. Katanya Mamanya tidak memberikan ijin, sebab sekarang Indonesia lagi darurat gempa.

Ya, begitulah. Selalu ada penghalang yang menghentikan kami untuk bersama.
Tetapi aku yakin kali ini tidak lagi.

Perjalanan dari Bali menuju Malang tentu akan terjadi tanpa ada yang menghentikan kami lagi. Bahkan tidak oleh Paulus, mantan pacarnya.

“Bagaimana liburanmu,” tanya Ana, di sela-sela kantukku. Saat itu taksi yang kami tumpangi masih melaju dengan kecepatan normal.

“Bermakna sekali, sebab Tuhan mempertemukan aku dengan Bidadari,” jawabku menggodanya.

“Hmmm. Mulai gombal lagi,” jawab Ana, sambil menyungging sebutir senyum di bibirnya.

“Eh. Bukan Gombal. Aku serius,” ujarku sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku.

 

Biasanya umat kristiani meyakini itu adalah sumpah. Dua jari itu masing-masingnya melambangkan langit dan bumi. Artinya bahwa langit dan bumi yang menjadi saksi bahwa apa yang aku katakan itu benar adanya. Kurang lebih seperti itu.

“Tapi sayangnya Bidadari itu tak menaruh hati padaku,” lanjutku.

“Jangan bahas itu lagi ah,” kata Ana yang sepertinya tidak nyaman dengan obrolan itu.

“Baiklah Kanjeng Mami.” Jawabku dengan perasaan bersalah dan sedikit bercampur malu. Sedang Ana hanya menatapku sambil tersenyum dan sekali mengangguk.

Tak terasa kami sudah sampai di Terminal Ubung. Perjalanan dari Bandara ke sini, menghabiskan waktu kurang lebih satu jam-an.

Aku sedikit merasa kelelahan. Kurasa Ana juga begitu. Aku kemudian memberikan biaya ongkos ke Sopir taksi tersebut.

Ketika kami turun, kernet yang sedari tadi menghampiri taksi yang kami tumpangi langsung menggapai tasnya Ana. Katanya bahwa mereka menyediakan jasa transportasi ke Malang.

Tentu saja aku sedikit tensi melihat tingkah kernet tersebut, sebab dia tidak memiliki etika yang baik Tetapi untunglah Ana berhasil menenangkan aku, dan pertikaian pun berhasil dihindari.

Aku lalu mengambil kembali tas yang diambil oleh kernet tadi. Kemudian kami pergi ke konter yang merupakan tempat penjualan tiket bus. Beruntunglah, sebab tiket menuju Malang masih tersedia, dan akan berangkat dua puluh menit lagi.

Untuk mengisi waktu, sebelum berangkat, kami membeli beberapa bungkus snack, serta sebungkus rokok. Barang kali nanti bisa kuisap jika bus berhenti di perjalanan.

Setelah dua puluh menit, Kernet bus yang akan kami tumpangi, menyuruh kami agar lekas naik. Kami dengan semangat masuk dan mengambil tempat duduk paling belakang, meskipun sebetulnya tempat duduk harus sesuai dengan yang tercatat di tiket.

Tetapi dengan kemampuan negosiasiku yang lumayan hebat, akhirnya kami dipersilahkan duduk di belakang oleh kernet tersebut. Terserah kernet itu mau bilang apa saja dengan yang punya bangku belakang ini.

Perjalanan kami berdua pun dimulai. Ini merupakan perjalanan perdana yang melibatkan aku dan Ana, dan penumpang yang lain yang tentu tidak penting aku selipkan di tulisan ini nama-nama mereka.

Bus melaju dengan kecepatan yang stabil. Satu persatu rumah-rumah warga Bali kami tinggalkan.

Ada kesenangan yang mengalir di nadiku. Sebab untuk pertama kalinya aku satu bus dengan orang yang aku cintai. Apalagi perjalanannya akan lumayan panjang.

Yang membuat perjalanan ini bermakna adalah, ketika Ana sesekali tertidur manja di bahuku.

Ah, Ana, bahu ini memang sengaja diciptakan untuk disandari oleh gadis sepertimu. Di perjalanan juga Ana kerap berbicara manja sekali.

Dan aku, aku berperan seperti layaknya sudah menjadi kekasihnya. Aku merespons dengan manis sekali. (Kalian pasti mengertilah apa yang mesti kalian lakukan jika berada di posisiku).

Ketika sampai di Pelabuhan Gili Manuk, Bus yang kami tumpangi di periksa oleh petugas. Mereka memeriksa asal-asal saja. Lalu mempersilahkan pak Sopir Bus agar lekas melanjutkan perjalanan.

Aku melihat Ana masih tertidur. Ketika dia tidur aku dengan bebas memandanginya. Sumpah, wajahnya begitu ayu saat sedang tidur.

Benar kata orang bahwa pesona kecantikan wanita akan keluar ketika mereka tengah meraba alam mimpi. Buktinya hari ini aku melihat Ana semakin cantik saja.

Pukul 16.00 Wita kami sampai di sini, di Malang. Dari Bali menuju Malang menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh empat jam.

Begitulah. Perjalanannya cukup melelahkan, tetapi aku menikmatinya. Kuharap Ana juga demikian, bisa menikmatinya.

Di terminal, seseorang telah menjemput Ana. Kebetulan sekali, temannya itu juga merupakan teman kelasku di Universitas Kanjuruan Malang.

 

Namanya Maria. Nama lengkapnya Maria Oktaviani Banggur. Maria terkenal cantik dan heboh. Di kelas semua orang sangat senang dengannya. Termasuk aku. Tetapi tentu aku tidak sampai jatuh cinta dengannya. Hanya mengaguminya saja.

“Kok kalian bisa saling kenal. Kalian ketemu di mana?” Tanya Maria penasaran.

“Panjang ceritanya, Mar. Nanti minta Ana aja deh yang jelasin ke kamu,” jawabku.

Kami kemudian mencari mobil angkot yang bisa kami gunakan untuk mengantar kami ke kontrakan kami masing-masing.

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukan mobil angkot tersebut, sebab di sini tidak beda jauh dengan di Manggarai. Mobil-mobil angkot berhamburan cukup banyak di terminal.

Di perjalanan aku sempat meminta Ana agar besok jangan dulu langsung ke Surabaya. Sebab aku mau mengajaknya jalan-jalan keliling Kota Malang ini. Tetapi sayang sekali.

 

Katanya dia harus berangkat besok, sebab lusa mereka sudah mulai kuliah. Satu-satunya alasan dia kesini adalah ingin bertemu dengan Maria. Begitulah yang dia katakan tadi.

Aku kemudian tidak memaksanya. Sebagai gantinya, aku kemudian meminta kepadanya, agar nanti malam pukul 19.00 WIB, dia harus menemaniku minum kopi di kedai kopi yang letaknya tidak jauh dengan tempat kontrakannya Maria. Dan syukurlah dia mau.

Ketika sampai di depan kontrakannya Maria, mereka pun turun. Aku mengingatkan Ana sekali lagi, agar sebentar jangan sampai lupa dengan janji yang telah dia sampaikan tadi.

Tepat pukul 19.00 aku menjemput Ana di kontrakannya Maria. Kali ini Ana mengenakan celana panjang dengan baju kaos abu, dan jaket levis yang agak kusam. Sumpah kali ini Ana keren sekali, meskipun nyatanya aku selalu melihat dia begitu. Selalu keren.

Kami kemudian duduk di meja yang terletak di dekat jendela kaca. Aku memilih tempat duduk di situ, agar jika nanti kami kehabisan bahan obrolan, aku bisa berguyon tentang orang yang sementara lewat di jalanan. Begitulah yang aku pikirkan.

“Maria bilang apa tadi ketika aku menjemputmu?” Tanyaku sembari menggapai pegangan cangkir kopi.

“Tidak ada. Dia hanya pesan, agar aku jangan lama-lama,” jawabnya.

Tiga puluh menit telah berlalu. Sudah banyak sekali hal yang telah kami perbincangkan. Tetapi tidak termasuk hal asmara.

Aku tidak berani membuka topik itu lagi, sebab aku masih ingat yang disampaikan Ana di Perjalanan dari Bandara menuju Terminal Ubung kemarin. Katanya dia tidak mau membahas itu lagi.

 

“Jika kamu berada di posisiku. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan melepaskan kekasih yang telah mengkhianatimu? Yang notabene kamu sudah berpacaran dari sejak kamu SMP kelas dua,” tanyanya memecah keheningan.

Saat dia mengatakan itu, ada sedih yang tergurat di ujung matanya. Dia seperti merasa sangat sakit dengan apa yang telah dilakukan oleh Paulus, kekasihnya.

Aku kasihan juga kepadanya, sebab dia telah menjadi budak atas perasaannya sendiri. Selain itu dia juga menjadi korban dari hubungan yang hanya mementingkan durasi yang lama, yang sebetulnya kualitas dari hubungan itu sudah tercoreng. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis seayu Ana bisa disakiti oleh lelaki.

“Bukankah kamu sudah memilih putus dengannya?, perasaan pas di hari ulang tahunmu, kamu bilang sudah putus dengannya,” tanyaku penasaran.

“Betul. Tapi dia tidak mau,” jawabnya.

“Ya sudah. Jika kamu memang masih ingin mempertahankannya, silakan. Toh, kamu juga yang menjalaninya nanti,” ujarku.

Apa yang aku sampaikan itu sebetulnya tidaklah mewakili apa yang hatiku suarakan. Hatiku tentu saja ingin mengatakan agar mereka putus saja. Dan aku siap menjadi penghapus laranya. Tetapi tidaklah elok jika aku mengatakan itu kepadanya.

“Terima kasih ya, Jemi. Karena selalu ada untuk aku. Jika tiba waktunya, kuharap Tuhan bisa membuatku melupakan Paulus,” katanya.

“Aku sebenarnya mau-mau saja jika menjadi pacarmu sekarang. Tapi aku takut menyakitimu. Aku takut jika sewaktu-waktu kita sudah jadian, sebelum aku bisa melupakan Paulus secara sempurna, aku kemudian berpaling dan memilih bersama Paulus lagi. Aku hanya takut itu. Kamu tidak pantas untuk disakiti,” lanjutnya. Kali ini ucapannya terdengar sangat lirih.

“Tidak apa-apa. Aku tetap akan menunggumu di tempat di mana seharusnya aku berada. Jika di ujung penantian itu adalah kita, maka aku akan tunggu hingga detak detik berhenti di sana,” jawabku.

Saat itu aku sedikit tenang, sebab Ana sudah menjelaskan kenapa dia tidak juga membuka hatinya untuk aku. Yang meskipun ada separuh rasanya untukku. Tetapi karena dia menghargai hubungannya sudah terlampau lama, maka dia memutuskan untuk tidak gegabah mengambil keputusan. Aku rasa gadis seperti dia sangat jarang ada di bumi ini.

“Tetapi jangan sampai menungguku membuatmu terluka. Ingat!, aku tidak pernah memintamu menunggu,” katanya dengan roman muka serius.

“Iya. Aku tahu. Dan aku sadar konsekuensi. Santai saja,” ucapku sembari menggapai cangkir kopi yang isinya sudah hampir habis.

Pembicaraan kami pun berakhir ketika Maria menelepon dan meminta Ana agar lekas pulang, sebab dia juga kesepian sendiri di Kontrakannya. Aku kemudian membayar tagihan di Kasir lalu mengantar Ana kembali ke Kontrakannya Maria.

Besok katanya, Ana berangkat pagi sekali. Sekitar pukul 04.00 WIB. Jadi aku tidak bisa melihatnya lagi besok. Maka, aku mengatakan salam perpisahan malam ini juga.

“Kamu hati-hati ya, besok. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Jangan lupa saling mengabari. Jangan tunggu aku terus yang mendongengimu”. Ucapku.

“Iya. Terima kasih. Kamu juga baik-baik di sini ya. Aku akan selalu mengingatmu,” ucapnya.

Aku tahu saat dia mengatakan itu, sebetulnya ada kesedihan di matanya. Dia juga sepertinya merasa berat dengan perpisahan yang entah sampai kapan lagi bisa ketemu. Kuharap segera. Semoga juga dia berharap demikian.

Setelah itu aku langsung kembali ke kontrakanku. Di jalan aku melamun, membayangkan kira-kira apa yang terjadi selanjutnya. Apakah aku dan Ana akan menjadi kekasih, nantinya?Semoga saja.

Layaknya Kota Ruteng, Kota Malang pun demikian dinginnya. Sampai-sampai aku hampir membeku. Tetapi bagiku dingin yang disebabkan oleh atmosfer yang tipis ini hanyalah persoalan biasa. Sebab aku sudah terlatih dengan keadaan seperti ini. Bayangkan aku telah menetap di sini selama satu tahun lebih. Jadi, mudah saja bagiku mengatasi keadaan ini.

Tetapi yang menjadi persoalan adalah ketika dingin bertemu dengan rindu. Itu betul-betul sebuah perjumpaan yang langka, yang tidak bisa dihadapi oleh lelaki pemuja keindahan sepertiku.

Dingin ini tentu saja membuat aku mengenang kembali jemariku yang tersesat di helaan rambutnya Ana yang panjang. Dingin ini membuat aku teringat tentang Ruteng yang membawa aku ke pesta ulang tahunnya. Dingin ini membuat aku merindukannya.

“Ana. Apa kabar kamu?” Tanyaku kepada kabut yang beterbangan mencari angin ke puncak Gunung Bromo.

Saat itu aku berada di bawah kaki gunung Bromo. Aku pergi ke sana bersama dengan teman-teman kelasku. Karena ini merupakan perjalanan yang mewajibkan semua anggota kelas ikut, maka secara otomatis Maria juga ikut. Maria adalah temannya Ana, seperti yang sudah aku ceritakan di tulisanku sebelumnya.

Perjalanan kami memang sangat seru. Tetapi mungkin itu hanya dirasakan oleh teman-temanku, karena saat itu sebetulnya jiwaku telah pergi ke dimensi yang berbeda. Pergi bersama kabut untuk menemui angin. Pergi untuk menceritakan perihal rindu ini kepada angin.

“Kamu kenapa tidak terlihat senang dengan perjalanan ini? Kamu sedang merindukan sahabatku, ya?” Kata Maria mengejek.

Aku terperangah. Kaget, sebab tiba-tiba saja Maria muncul dan menepuk pundakku sembari menanyakan pertanyaan yang persis sama seperti yang sedang aku pikirkan. Khususnya di bagian yang merindukan Ana.

“Kamu ini, bikin kaget saja,” hardikku.

Saat itu aku sengaja tak menggubris pertanyaannya. Aku takut terbawa perasaan. Lagi pula semenjak keberangkatan Ana dari sini, dari Malang, Maria enggan membicarakan tentangnya. Bahkan ini sudah empat bulan lamanya. Aku juga tidak mau menanyakan tentang Ana kepadanya. Aku takut yang terdengar dari Maria hanyalah kekecewaan.

“Sengaja ya, kamu tidak membicarakan tentang Ana?” Telisik Maria. Dia tersenyum sembari mengangkat alisnya beberapa kali. Persis seperti orang yang sedang bermain mata.

“Kamu jangan asal bicara Mar,” jawabku menepis, tanpa memberikan pernyataan argumentasi.

“Terus, kenapa selama ini kamu tidak berbicara tentang Ana? Ayoo, kenapa coba?” Tanya Maria

“Untuk apa? Lagi pula kami hanya sebatas teman. Tidak lebih. Jadi tidak ada yang perlu aku ceritakan” Jawabku sedikit kesal.

“Seorang pria dan seorang wanita satu bus dari Bali menuju Malang itu bukan hal yang biasa loh. Apalagi jika sudah direncanakan berdua. Aiis. Itu sudah layak disebut dengan sesuatu yang lebih dari teman,” kata Maria lagi.

“Mungkin teman dekat,” timpalku.

“Jika hanya teman dekat, kenapa waktu itu kamu hanya ajak dia ke kedai kopi, sedangkan aku tidak kamu ajak?” Kata Maria.

“Mar, kamu sudah seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi tersangka pelaku kriminal saja sekarang,” kataku sembari menyeruput kopi.

“Ada yang perlu kuceritakan nanti setelah kita pulang dari sini. Ini tentang Ana,” ucap Maria sambil beranjak pergi dari hadapanku.

Hari itu, saat selepas kami UAS, Maria mendekatiku, dan duduk tepat di sebelahku. Bangku yang kami tempati terletak di lorong kampus. Tepatnya di depan taman. Teman-teman yang lain sudah pada pulang. Hanya ada beberapa anak BEM yang masih mondar-mandir di poskonya masing-masing.

 “Liburan kali ini kamu ke mana?” Tanya Maria membuka pembicaraan.

“Entahlah. Mungkin ke Manggarai. Pulang untuk menemui rumah lagi,” jawabku.

“Kenapa kamu tidak ke Surabaya saja, dan menemui Ana di sana.” Tanya Maria.

Aku memilih tidak menjawabnya. Membiarkan dia mencerna sendiri pertanyaannya. Sebab aku tahu dia sengaja mengumpan dengan pertanyaan yang seperti itu, biar pembicaraan kami cair. Tetapi sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya. Aku malah membeku bersama sebuah nama. Nama yang baru saja dia sebutkan.

Langit kala itu masih mendung. Cahaya matahari masuk menerobos melalui sela-sela awan yang menggumpal. Aku pun sudah bisa menebak bahwa sebentar lagi pasti akan hujan.

“Mendung tandanya akan hujan. Diam tandanya sedang merindu.” Gerutu Maria sambil menengadah ke langit.

“Jadi apa yang perlu kamu ceritakan kepadaku.” Tanyaku spontan saja kepada Maria.

“Ini tentang Ana, Jemi. Dia pernah bilang bahwa hatinya terbelah. Separuh untuk Paulus. Separuhnya lagi untuk kamu.” Ucap Maria sembari mengeluarkan minuman dari tasnya.

Aku tidak memotong pembicaraannya. Pernyataan Maria sangat menarik. Pernyataan itu juga pernah keluar sendiri dari mulutnya Ana, dan didengar oleh kupingku sendiri. Aku rasa Ana sangat serius tentang hatinya yang terbelah. Buktinya dia bahkan mengatakan hal yang sama kepada Maria.

Suara Maria yang masih jeda kemudian diisi oleh rintik-rintik hujan yang sudah mulai jatuh. Di seberang taman, satu persatu anak-anak BEM yang tadi sibuk di poskonya, bubar. Dan kini lingkungan kampus mulai sepih.

Sementara itu Pak Suripto yang adalah satpam di Kampus itu sedang mengelilingi kompleks Kampus. Barang kali dia sedang mengecek sesuatu yang tidak beres. Aku tentu tidak peduli dengan apa yang Pak Suripto lakukan. Aku hanya menunggu pernyataan Maria yang selanjutnya.

“Ana begitu jatuh hati padamu. Tetapi tidak mudah juga baginya untuk melepas Paulus. Mereka sudah terlalu lama bersama. Hubungan mereka sudah diketahui oleh keluarga mereka masing-masing,” lanjut Maria.

“Lantas apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku.

Akhirnya aku terpancing juga dengan tak-tik yang dimainkan Maria. Habisnya dia membahas dengan sangat blak-blakan. Aku melihat dia tersenyum. Dia mungkin bangga karena berhasil mengumpan suaraku keluar dari tenggorokan.

“Itu tergantung kamu, Jem. Jika memang hatimu begitu kuat memeluk rindu untuk Ana, maka berjuanglah. Hidup memang begitu. Keras dan tidak adil. Bahkan untuk cinta sekalipun. Jika kamu diam dan tak berusaha, maka jangan harap cinta sejati menghampirimu. Kejarlah jika kamu menginginkannya.” Ucap Maria sembari mengarahkan botol minuman ke mulut.

“Ok. Kalau begitu Natal kali ini kita ke Surabaya.” Kataku penuh semangat.

“Tetapi, apa kamu sudah menghubungi Ana?” Tanya Maria.

“Tidak. Kami bahkan tidak pernah saling mengabari.” Kataku lesu sambil menunduk pasrah.

Semenjak Ana ke Surabaya, semenjak itu pula jejak komunikasi kami hilang. Yang tersisa dari pertemuan dan kebersamaan singkat kami adalah rindu tak bertuan dan perasaan tak karuan ini.

Tidak ada yang lebih membuat perasaan tersiksa selain perasaan yang digantungkan. Ana mungkin menggantung perasaanku, tetapi aku yakin dia juga tersiksa karena itu, sebab seperti yang dikatakan Maria tadi bahwa hatinya sudah terbelah.

“Kalau begitu, kamu hubungi dia sekarang. Lalu kabari tentang rencanamu ke Surabaya.” Perintah Maria.

Tak terasa hari sudah sore. Hujan juga sudah redah. Kami hampir kehabisan kata-kata untuk menceritakan tentang Ana, gadis dari Matim yang telah memperbudak perasaanku. Ada banyak hal yang Maria ceritakan. Tetapi yang paling penting dari semuanya adalah perihal perasaan Ana untukku. Perasaan yang terbelenggu oleh kesetiaannya pada cinta yang telah berlangsung lama.

Aku berjanji pada Maria bahwa selepas pulang dari kampus, aku akan langsung menghubungi Ana. Aku akan menceritakan niatku untuk berlibur ke Surabaya. Ke kota yang menjadi tempat Ana tinggal.

Di Stasiun Kereta Tawang Alun aku dan Maria duduk menunggu kereta. Hari ini kami akan berangkat ke Surabaya. Aku membawa satu kover kecil dan satu tas ransel mini. Sedangkan Maria membawa satu kover besar, satu tas ransel sedang, dan satu tas kecil yang biasa dia pakai jika hendak jalan-jalan.

Setelah tiga puluh menit kami menunggu, barulah keretanya datang. Bunyi peluit panjang kondektur sungguh memekikkan telinga. Hiruk pikuk orang yang turun dari kereta membuat kepalaku pusing.

Ketika semua penumpang yang tadi diangkut kereta itu turun, kondektur di kereta itu pun langsung mempersilahkan kami masuk. Di samping jendela kereta, aku duduk.

Musim hujan kali ini sedang diam. Hujan seperti sedang mempersilahkan bumi untuk menghangatkan dirinya. Padi-padi yang terbentang di persawahan di samping kiri dan kanan rel kereta api itu menari dengan riangnya. Angin bertiup cukup kencang tapi lembut. Bunga-bunga dari padi-padi itu tersenyum genit.

Pertengahan Desember memang merupakan permulaan musim hujan yang berkepanjangan yang kalau dalam bahasa Manggarainya adalah “dureng”. Tetapi hari ini sepertinya tidak akan ada hujan. Hari ini mungkin hujan sedang jatuh cinta dengan matahari. Mungkin.

Di dalam kereta, aku kembali mengingat Ana. Aku ingat ketika kami berjumpa pertama kalinya di pesta sekolah yang diadakan oleh Kades di Kampungku. Aku ingat saat kami bersua di bawah teduhnya pohon ketapang di pesisir Pantai. Nanga Lili.

Kala itu aku sudah sangat yakin bahwa dia akan segera menjadi kekasihku. Tetapi kenyataan menjawab lain. Terkadang hidup memang begitu, dan semesta punya rencana tersendiri untuk mempertemukan dua insan.

Melalui pertemuan itu, semesta mencoba merancang sebuah proses yang sangat misterius. Sebuah proses yang tentunya memakan waktu yang bervariasi. Bahkan ada pertemuan yang terkadang hanya akan menjadi sebuah pertemuan biasa,  yang tak berlanjut ke sesuatu yang berarti, yang mungkin hanya akan berlalu seiring dengan bergantinya jarum jam dinding di kamar tidur.

Tetapi pertemuan Ana dan aku bukanlah pertemuan yang seperti itu. Pertemuan kami adalah sebuah pertemuan yang pasti akan berlanjut ke tahap yang lainnya. Setidaknya aku meyakini itu. Sebab jika tidak. Aku tentu tidak berada di dalam kereta ini sekarang.

Satu jam lagi kami akan sampai di Surabaya. Hatiku sudah mulai dag-dig-dug. Membayangkan bagaimana ekspresi Ana ketika melihatku nanti. Perasaan itu membuat aku tak sabar ingin cepat sampai di Stasiun Jayabaya.

Semoga saja pertemuan kami kali ini akan membuat kami bersatu dalam hubungan pacaran. Dan tidak lagi berputar dalam lingkaran yang tidak jelas, yang sama seperti selama ini sering aku rasakan.

Hiruk pikuk stasiun Jayabaya menggetarkan sukma yang sementara merindu. Dari dalam kereta aku dapat melihat orang yang sedang antri di stasiun. Mereka tampak bahagia.

Di antara krumunan orang-orang itu, berdirillah salah satu sosok yang selama ini aku rindukan. Wajahnya menampakan ekspresi ketidaksabaran. Aku menduga sosok itu mungkin sedang tidak sabar bertemu denganku.

Saat kereta berhenti, kulihat dia mulai tidak tenang. Matanya meyapu seluruh pintu keluar kereta. Rambut panjangnya beterbangan tertiup angin, itu semua ia tidak dihiraukannya. Dia hanya sibuk memerhatikan semua orang yang keluar dari pintu kereta.

Ketika saya turun, sosok yang selama ini aku rindukan yakni Ana langsung mendapatiku. Seyumnya merekah. Pipihnya merona. Aku bisa merasakan kesenangan yang menyelimuti hatinya sungguh bergelora. Aku juga begitu. Senang dan bahagia sekali.

“Aku senang sekali melihat kamu ada di sini sekarang,” ucapnya sambil menjawat tanganku. Bibirnya tidak mau berhenti tersenyum. Aku rasa dia memang tak kuasa menahan kebahagiaan dalam hatinya.

“Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi,” jawabku sembari tersenyum.

Ana juga menyalami Maria. Tetapi menyalam dengan cara mereka. Berpelukan tepatnya. Andaikan aku juga diberikan pelukan seperti itu, mungkin aku tidak akan melepaskannya lagi, dan membuat semua laki-laki yang kebetulan ada di tempat tersebut irih. Tapi apalah daya, itu tidak mungkin. Aku belum punya ijin untuk hal seperti itu.

Ana mengajak kami untuk segera mencari Angkot. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukannya, sebab ada pangkalan Angkot di dekat stasiun tersebut. Kami lalu menumpangi angkot itu dan berangkat menuju kosnya Ana.

Malam Natal akhirnya tiba. Semarak kebahagian terpancar di semua wajah yang berlabuh ke Gereja. Semua orang berbondong-bondong membawa suka cita yang mereka letakan di bagian paling dalam di hati mereka.

Aku, Ana dan Maria pergi mengikuti perayaam misa Natal bersama-sama. Oh iya, hampir lupa kuceritakan bahwa aku tidak menginap di kosnya Ana. Aku menginap di kosnya kawan lamaku. Teman SMA ku dulu. Jadi kalian (pembaca) tidak usah berpikir yang aneh-aneh.

Pada malam Natal itu, kami tidak mendapat tempat duduk di dalam Gereja karena keterbatasan ruangan dengan tumpah ruahnya umat yang hadir. Jadinya kami duduk di luar. Tidak apa-apa sebenarnya. Hanya saja yang aku khawatirkan adalah seandainya waktu itu hujan, maka kami pasti akan basah. Tetapi untungnya saja waktu itu tidak turun hujan. Tuhan merestui doa kami. Gumamku dalam hati waktu itu.

Doaku di malam natal itu, Tuhan…apakah Engkau sungguh ada? Aku tak pernah tahu tentang Engkau. Aku tak pernah melihat diriMu. Namun banyak orang mengatakan bahwa malam ini Engkau yang jauh di atas sana akan menjelma menjadi seorang manusia sama seperti diriku dan mendengarkan setiap harapan yang ada di dasar setiap hati. Tuhan kalau Engkau sungguh ada dan malam ini mengetuk hatiku, aku akan mengatakan kepadaMu bahwa aku sedang mengingkan Ana untuk menjadi kekasihku. Aku tahu bahwa harapanku ini bukanlah sesuatu yang baru, karena sejak perjumpaan pertama kami secara terus-menerus aku merindukan hal ini

Sebagaimana yang dirasakan oleh pria kebanyakan, malam natal ditemani oleh wanita idaman tentu rasanya bahagia sekali. Bahkan tidak ada puisi yang bisa menggambarkan kebahagianku saat itu. Namun belum sempat kebahagiaan itu sampai kepada puncaknya, Paulus muncul.

Lelaki jangkung itu tiba-tiba saja ada di sebelah Ana. Entah dari mana datangnya, aku tidak tahu. Ana juga sepertinya tidak tahu. Aku bisa melihat dari ekspresinya ketika dia menyadari keberadaan Paulus. Selain itu Ana juga tidak pernah bilang bahwa Paulus akan ke sini.

“Sejak kapan kamu ada di Surabaya?” Tanya Ana membisik ke telinga Paulus.

“Barusan sampai. Aku langsung ke sini,”  jawab Paulus dengan suara pelan juga.

Sejak Paulus berada di antara kami bertiga, kebahagian yang tadinya meluap-luap di dalam dadaku, pupus tersurut api cemburu yang membara. Semua seakan lenyap seketika. Suka cita natal hilang bersamaan dengan muncul lelaki jangkung itu.

Pendar cahaya lilin meredup dengan sendirnya. Jemaah gereja yang tadi terlihat bahagia olehku serentak menjadi seperti orang yang sedang bersedih.

 

Aku betul-betul merasa sakit sekali. Bagaimana mungkin Tuhan menghadirkan luka di antara suka cita natal yang sedang bergelora.

Kenapa harus malam ini. Kenapa tidak besok saja. Atau bila perlu jangan saja ada situasi yang seperti ini. Sungguh kehadiran Paulus merusak malam natalku.

Kami (Aku, Maria, dan Paulus) bersalaman. Tapi tidak ada suara yang keluar, sebab perayaan misa belum selesai, takut umat lain terganggu, hanya senyum getir yang terpancar dari bibirku.

Beberapa menit kemudian misa akhirnya selesai. Kami berencana pulang untuk naik angkot, tetapi kemudian semuanya berantakan sebab Paulus mengajak Ana untuk berboncengan dengannya menggunakan sepeda motor. Ana sebenarnya tidak mau, tetapi karena dipaksa olehku dan Maria, dia akhirnya mau.

Maria dan aku menumpangi angkot menuju kosnya Ana. Ketika kami sampai, sepertinya Ana dan Paulus sudah tiba lebih dulu. Mereka menunggu kami di teras depan kos. Aku melihat mereka duduk bersama, tapi saling mendiami. Mungkin mereka sedang cek-cok. Jika demikian, tentu senanglah hatiku. Harapanku memang jahat, tetapi begitulah adanya. Aku memang mengharapkan mereka putus saja. Begitulah yang kuinginkan saat itu.

Di sepanjang perayaan misa di Gereja tadi, aku tidak pernah memperhatikan Maria. Begitu pula di saat kami berada di dalam angkot. Keberadaan Maria, seperti tidak ada waktu itu. Hanya bayangan. Jahat memang. Tetapi begitulah yang terjadi waktu itu.

Melihat kami turun dari angkot Ana langsung berdiri dan memanggil kami. Kegirangan di wajahnya kembali terpancar. Sedangkan Paulus masih dengan ekspresinya yang datar, macam preman kurang makan.

Kebetulan di Gereja kami belum kenanalan. Jadi, setelah sampai di kosnya Ana akhirnya kami berkenalan. Sebuah perkenalan yang sebetulnya bagiku tidak perlu, sebab Ana sudah menceritakan semua tentangnya kepadaku, jauh sebelum Aku bertemu Paulus  di Gereja tadi.

Bahkan ketika kami bertemu di Gereja itu, aku sudah menebak bahwa dia adalah Paulus, lelaki brengsek yang tega menduakan kesetian yang selalu di perjuangkan Ana selama ini.

Aku juga tidak habis pikir, bagaimana mugkin dia tidak merasa malu dengan dirinya sendiri, ketika dia sudah jelas-jelas menduakan cintanya Ana, lalu kemudian datang dengan gelagat seolah tidak bersalah. Entahlah. Laki-laki memang kebanyakan memiliki tabiat serupa. Tidak berakhlak. Tidak berfaedah. Brengsek dan pecudang (Tentunya tidak termasuk aku).

Aku tidak bisa berlama-lama di situ, sebab jam sudah menunjukan pukul 24:00 WIB, sudah waktunya untuk tidur. Apalagi besok kami harus mengikuti misa pagi. Paulus juga begitu, dia juga mohon pamit.

Karena angkot tidak lagi ada yang lewat, Paulus pun menawariku untuk naik motorya. Waktu itu aku tidak punya pilihan lain, jadi aku terpaksa menerima tawarannya.

Di sepanjang  perjalanan Paulus menanyakan prihal bagaimana sampai aku bisa kenal dengan Ana dan Maria.

Aku tidak mengatakan yang sebenarnya, aku tidak menceritakan kepadanya tentang pertemuan pertama kami. Aku malah mengaku bahwa Maria adalah kekasihku. Jadi secara tidak sengaja aku dan Ana bisa menjadi teman. Begitulah, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi. Jangan sampai ada pertengkaran di antara kami. Bukankah itu keputusan yang bijak?

Sampailah aku di kos kawanku. Aku langsung tidur. Tidur dengan hati masih terbuka, tepatnya. Aku tak menghiraukan  teman-temanku yang masih asyik minum s##i.

Mereka terus memakasa menawariku, tetapi aku menolaknya. Bagiku mabuk bukanlah pilihan terbaik untuk menghapus luka hati. Bagi kebanyakan orang mungkin mabuk adalah pilihan terbaik ketika cinta mencambuk dirinya, tetapi bagiku tidak. Itu betul-betul  bukan pilhan yang bijak. Begitu menurutku.

Lalu dengan mata tertutup, dan dengan pikiran yang masih melayang, aku mencoba menghibur diri dengan membayangkan kebahagian yang lain. Misalnya, membayangkan, ketika bangun besok pagi, aku langsung mendapat kotak masuk di WhatsAap, bahwasannya surat lamaran yang aku kirim ke Redaksi Kompas diterima. Dan aku akhirnya menjadi wartawan di Media ternama itu.

Tetapi hayalan itu tidak bisa bertahan lama, ketika sekilas saja bayangan tentang Ana muncul. Apalagi ketika Paulus muncul di sela-selanya. Hancurlah semua. Kehadiran Paulus betul-betul tak terduga. Sebuah kejutan yang cukup menyakitkan tentunya bagiku.

Di tengah kegalauan yang memuncak aku merabah kantong celanaku, dengan mata masih tertutup tentunya. Aku kemudian memencet tombol On di smartponeku, sebab dari tadi sengaja aku matikan. Ketika sudah menyala, beberapa pesan WhatsAap masuk. Salah satu di antara pengirim pesan itu adalah Ana.

“Maaf, Jem. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung dan cemburu. Tetapi kehadiran Paulus di sini bukan atas permintaanku. Dia bahkan tidak pernah mengabariku untuk ke sini. Jadi, jangan berpikir bahwa aku sengaja membuat kecanggungan ini,” kata Ana dalam pesan WhatsAppnya.

“Iya, aku tahu kok. Santai saja. Tadi juga aku sudah bilang bahwa kita hanya teman, dan memang begitu adanya. Bahkan aku mengatakan kepadanya bahwa aku pacar sama Maria. Jadi sampaikan maafku  kepada Maria untuk pengakuan palsuku itu, ya,” balasku.

“Kenapa kamu tidak jujur saja kepadanya?” Balas Ana.

“Jujur tentang apa?” Jawabku.

Aku sempat menyelami maksud di balik apa yang disampaikan Ana. Tetapi kemudian usahaku untuk memahami ucapan Ana melalui WhatsAap itu buyar, sebab pesan balasan dari Ana kembali masuk.

“Tidak jadi. Lupakan saja. Selamat tidur ya. Have a good to night,” balas Ana mengakhiri chatingan kami waktu itu.

Pagi hari, besoknya, kami bertemu lagi di Gereja. Hari itu aku tidak bergairah untuk mengikuti perayaan Natal. Sebab, Paulus lagi-lagi ada di antara kita.

Sebagaimana yang telah aku ceritakan kepada Paulus bahwa aku dan Maria pacaran, maka saat itu aku berpura-pura menjadi pacarnya. Aku juga sudah meminta kepada Maria agar bisa bekerja sama. Untunglah Maria tidak keberatan.

Hari itu, bisa aku bayangkan merupakan hari yang penuh kepalsuan dan cemburu. Tetapi bagaimana pun juga, aku tidak bisa menutup lebih dalam lagi tentang perasaanku kepada Ana, dan Paulus sepertinya mulai menyadarinya.

Aku yakin begitu. Sebab aku sering tertangkap basah oleh Paulus ketika aku sedang memperhatikan Ana dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapan penuh rasa kagum yang luar biasa besarnya. Tatapan penuh cinta tentunya. Namun, Paulus tidak punya hak untuk melarang aku, bukan?

 

Tetapi akankah Paulus diam saja jika seadainya aku mengatakan kepadanya tentang kebenaran yang bersemayam dalam hatiku? Akankah dia memilih pergi dengan damai dan menghindari pertengkaran di antara kami berdua? Jujur saja aku tidak biasa bertengkar karena wanita. Tetapi jika pertengkaran adalah  jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan Ana, maka biarlah itu terjadi.

Mengikuti perayaan natal di Kota Surabaya sudah selesai. Seminggu aku di sana. Sementara Maria masih menunggu habis merayakan tahun baru, baru balik ke Malang.

Keputusanku untuk cepat balik ke Malang bukan tanpa alasan. Aku tidak mau menjadi penonton setia tentang romantika yang dilakoni Ana dengan Paulus.

Walaupun jujur, serpihan hati gadis dari Matim ini separuhnya telah dia persembahkan untukku, namun apalah daya kekuasaan cinta Paulus masih menguasainya.

Bersambung….

Penulis adalah Wartawan, Tinggal di Denpasar


  •  
  • 1.4K
    Shares
loading...

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.