oleh

Loke Nggerang

Penulis: Eman Jabur

Pada suatu malam, di bawah langit yang bertabur bintang, ayah pernah menasihatiku dengan sangat hati-hati. Suaranya yang pelan namun tetap tegas memukul batinku kian dalam. Beliau memang seperti itu, kata-kata yang diramunya selalu membuat lawan bicaranya tunduk. Di kampung ini beliau terkenal berkarisma, tegas, dan bijaksana. Tidak salah jika semua warga kampung mengangkatnya menjadi tua beo (baca: kepala kampung).

“Nak, Bapak tidak bisa merestui hubunganmu dengan Rueng. Gadis itu telah diincar oleh Raja Bima. Kita bukanlah apa-apa dibandingkan Raja Bima itu. Jadi menyerahlah! Buang perasaan cintamu itu demi keluarga kita. Jangan sampai ada pertumpahan darah demi rasa cintamu kepada wanita” kata Ayahku.

Aku bergeming, tidak berdaya. Sedih sekali rasanya ketika hati didera oleh sebuah ultimatum yang mustahil untuk dibantah. Hatiku bak sedang digerus kian hancur. Lembah duka seperti berada tepat lima senti meter di depan mataku. Kecuramannya tidak terukur, sehingga membuat aku yakin bahwa hidupku sebentar lagi akan menjadi tidak berguna sama sekali. Aku menyerapahi ketidakberdayaanku. Pikiranku  menjadi tidak karuan, terbagi. Separuhnya ada di sini bersama ayah, separuhnya lagi beterbangan, sibuk menyelami kenangan yang telah aku dan Rueng lalui. Gadis itu memang telah mengambil separuh dari jiwaku. Semenjak pertemuan pertama kami di mbaru gendang (baca: rumah adat) Ndoso beberapa bulan silam pada saat acara penti (baca: upacara adat syukuran masyarakat Manggarai), aku tidak lagi pernah bisa melupakannya. Rasa cinta yang ada dalam hatiku semakin kuat di setiap harinya. Rueng merupakan gadis keturunan bangsawan. Ibunya adalah anak dari Raja Todo yang kemudian menikah dengan anak laki-laki dari kepala dalu (baca: wilayah di bawah kekuasaan Raja Todo) Ndoso. Dari pernikahan itu lahirlah Rueng. Hingga sepasang suami-istri itu wafat, mereka hanya memiliki satu anak yaitu Rueng. Jadi, Rueng merupakan anak tunggal.

Rueng memiliki paras yang begitu cantik. Bentuk lekukan tubuhnya sangat seksi. Kulitnya putih bersih. Rambutnya panjang nan hitam. Dia memiliki semua sisi kecantikan yang melekat dalam diri gadis Manggarai. Dia sempurna. Betul-betul sempurna. Dan karena kecantikannya yang melegenda itu, di masa depan orang akan menamai dia “Loke Nggerang” (baca: Loke = kulit. Nggerang = sangat putih). Banyak pria berdarah bangsawan Manggarai yang jatuh hati padanya, bahkan Raja Bima mati-matian ingin memperisterikan dia, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menaklukkan hatinya. Sebelum akhirnya, semesta mempertemukan aku dengannya. Di hadapanku dia seperti kehilangan kecantikannya. Jika dipikir-pikir, apa yang menjadi kelebihanku sehingga gadis serupa mawar yang mekar di musim semi tahun ini bisa menaruh hati padaku? Ah.. cinta memang aneh.

“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sudah bersedia melepas gadismu itu?” tanya ayah sambil menggulung kulit jagung kering yang di dalamnya telah terisi dengan tembakau.

“Aku akan memikirkannya, ayahanda. Tetapi sebelum aku memberikan jawaban, izinkan aku menemui Rueng” jawabku sendu.

BACA JUGA:   Gonta-ganti Bawa Lelaki, Saat Ditanya Jawabnya Saudara, Ibu Kos: Banyak Sekali Saudaramu Dek

“Baiklah. Temuilah dia, dan diskusikan tentang hubungan kalian”

***

Dua hari setelah perbincanganku dengan ayah, tepatnya pada Sabtu sore, aku dan beberapa teman sebayaku pergi menemui Rueng di mbaru gendang kedaluan Ndoso. Di natas (baca: halaman) mbaru gendang kedaluan Ndoso, Rueng beserta keluarganya telah menunggu kami. Mereka mengenakan busana khas Manggarai. Tetapi busana-busana itu masih busana sederhana, sebab hanya beberapa perlengkapan yang mereka pakai.

Rueng terlihat bertambah cantik saat sedang berbusana khas Manggarai. Warna hitam kain songket yang bermotif keemasan, yang membalut kulitnya yang putih bersih menambah kesan sempurna untuknya. Aku yakin semua laki-laki yang memandanginya saat itu pasti akan terpikat. Penampilannya itu sama persis ketika aku bertemu pertama kali dengannya di acara penti beberapa bulan sebelumnya, hanya saja sekarang dia tidak mengenakan bali-belo (baca: perhiasan yang menyerupai mahkota, dan dikenakan di kepala wanita Manggarai pada saat upacara tertentu). Tetapi tampaknya ada yang salah, sebab di matanya aku melihat ada dua perhelatan batin yang saling bersinggungan, bergantian membias di kedalaman matanya yang indah. Suara hatinya melengking namun tersumpal di tenggorokan, sebab dia tak memiliki kuasa untuk mengomel tentang perasaannya kepada dunia. Namun pada saat yang sama, matanya memancar kerasan kesan senang. Mungkin karena melihat kehadiranku di sini.

Sebetulnya pertemuan itu hanyalah pertemuan biasa antara dua orang remaja, tetapi karena yang datang adalah aku, yang di mana merupakan anak dari kepala kampung sebelah, maka keluarga Rueng tidak bisa menganggap enteng kedatangan kami. Dengan sangat berwibawa aku menyalami kedua orang tuanya. Setelah itu mereka mengajak kami masuk ke mbaru gendang kedaluan Ndoso.

Sebagaimana kebiasaan masyarakat Manggarai pada umumnya, bahwa ketika ada tamu pemuda yang datang bertamu, maka anak gadis sang tuan rumah tidak boleh duduk di ruangan yang sama dengan tamu tersebut. Pemali. Sebagai gantinya, anak gadis ditempatkan di dapur untuk membantu ibu menyiapkan minuman dan makanan untuk tamu. Kebiasaan itu masih melekat dalam kebudayaan orang Manggarai. Di kemudian hari, aku harap hal seperti ini tidak perlu ditumbuhkembangkan.

“Kami telah diberitahukan oleh pembawa pesan mengenai kedatangan kalian ke sini. Tetapi pembawa pesan itu tidak menyampaikan maksud dan tujuan kalian datang kemari. Hal tersebut membuat kami bertanya-tanya, apa gerangan sehingga anak kepala kampung Pora bersedia datang kemari?” kata ayah Rueng dengan gaya bicara yang sangat pelan. Persis seperti gaya ayahku saat sedang bicara.

“Jadi begini, paman. Aku telah jatuh hati kepada anak gadismu, yaitu Rueng. Dan kedatangan kami ke sini ingin memberitahukan hal itu” jawabku.

Ayah Rueng menarik napas dalam sekali. Lalu beliau mulai berbicara lagi.

“Aku telah mengetahui hal itu dari bapakmu, bahwasanya kamu telah berencana meminang anakku. Tetapi aku menolaknya, sebab Raja Bima telah lebih dulu datang meminangnya. Lagi pula, siapa yang bisa menolak kuasa Raja Bima? Tidakkah bapakmu mengatakan kepadamu tentang ketidakbersediaanku?”

BACA JUGA:   Kisahku Bersama Putri Sang Pujaan Hati

“Sudah, paman. Ayah telah menyampaikan hal itu kepadaku. Tetapi aku rasa sangat sulit sekali menerima keputusan itu”

“Nak, beberapa hal di dunia ini terjadi di luar kemauan kita, dan mau tidak mau kita harus menerimanya” ucap beliau lirih. “Aku mengerti perasaanmu. Tetapi coba bayangkan apa yang terjadi jika kami menolak keinginan Raja Bima, bisa-bisa kampung kami sapu terbakar olehnya”

Perkataan ayah Rueng yang terakhir adalah sebuah penegasan bahwa aku dan Rueng tidak bisa bersatu. Lagi-lagi nanar menjalar di sekitar syarafku. Sekat yang menghalangi hubungan kami terlalu kokoh untuk dirobohkan. Miris sekali. Jika semua orang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, maka aku adalah orang pertama yang menyangkal tentang hal itu. Sebab, aku bahkan tidak bisa memilih apa yang seharusnya aku pilih. Aku tidak bisa memilih untuk menjadikan Rueng sebagai istriku.

Beberapa menit kemudian ayah Rueng pamit karena ada urusan mendesak di kampung tetangga. Sebelum berangkat, beliau berpesan agar kami menginap saja, sebab hari sudah mulai gelap. Kami mengiakan perkatakan beliau. Lagi pula dengan begitu, aku bisa mencuri waktu untuk berduaan dengan Rueng nanti malam. Rueng yang dari tadi hanya duduk di dapur membantu ibunya, masuk dan berbicara dengan kami. Sebelum masuk ke ruangan tempat kami duduk, aku sempat mendengar perang mulut antara Rueng dan ibunya. Karena Rueng sudah berada di ruangan ini, maka aku bisa menyimpulkan bahwa Rueng-lah yang telah memenangkan pertengkaran mulut itu tadi. Pada kesempatan itu aku berbisik kepadanya, “datanglah ke compang (baca: tempat untuk persembahan yang letaknya di tengah-tengah kampung) sebentar malam pada pukul 24:00 WITA, aku akan menunggumu di sana.” Dia menganggukkan kepala. Tanda setuju.

Pukul tengah malam, saat semua orang sedang tidur pulas, aku menyelusup keluar melalui pintu belakang mbaru gendang kedaluan Ndoso. Aku berjalan dengan sangat hati-hati, agar tidak ketahuan, menuju compang yang letaknya tepat berada di depan mbaru gendang. Beberapa menit aku menunggu, sebelum akhirnya seorang gadis berparas cantik, berkulit putih bersih, dan berambut panjang berjalan menyusulku ke tempat itu. Dia adalah Rueng, kekasihku.

Di bawah keremangan cahaya bulan dia melangkah dengan sangat anggun. Rambutnya yang panjang sesekali beterbangan karena tertiup angin. Sekitar lima meter lagi dia akan sampai di tempatku menunggunya. Dari jarak sedekat itu, aku bisa merasakan pesonanya yang sangat luar biasa. Hasrat manusiawi sebagai seorang lelaki berkecamuk kian bergelora dalam batinku. Aku terpaku melihat keindahan yang bergerak melangkah menemuiku. Saat dia sampai, dan duduk tepat di sebelahku, aku langsung mendekapnya. Dalam sekejap pilu yang berlumuran di batinku buyar, berganti dengan kegembiraan. Aku tahu kegembiraan yang baru saja aku kecup tentu hanyalah semu, sebab terlalu nihil bagi kami untuk bersatu. Aku sempat berkata kepada ayah untuk angkat parang dan berperang melawan Raja Bima, agar aku dan Rueng bisa menikah, tetapi ayah malah murkah mendengar permintaanku yang menurutnya terlalu konyol dan berisiko.

BACA JUGA:   Catatan Kelam Kuliah di Bali, Aku Menjadi Pelampiasan Nafsu Teman Lelakiku

“Kakanda Flori,. Kakanda sudah dengar kan, bagaimana keputusan ayahku?” ucap Rueng lirih

“Sudah adinda. Tetapi hatiku menolak keputusan mereka”

“Aku juga begitu, kakanda. Bagaimana jika kita kawin lari saja?” ajak Rueng serius

“Tidak semudah itu, adinda. Ada banyak konsekuensi dari tindakan senekat itu. Keluargaku dan keluargamulah yang akan menanggung murka dari Raja Bima nantinya”

“Begini saja kakanda. Aku berjanji akan mencintaimu sampai mati. Bila perlu sebagai buktinya, aku akan menyerahkan tubuhku kepadamu malam ini. Berikan aku benih, dan biarkan aku membesarkannya dalam dekapku”

“Itu sama saja bunuh diri, adinda. Sadarlah!” ucapku sambil mengusap rambutnya yang panjang.

“Kalau begitu biarkan aku mati dengan perasaan ini” katanya sambil beranjak pergi sebelum aku sempat menyela perkataannya. Aku bermaksud mengejarnya. Tetapi kukurungkan niat itu, takutnya nanti malah menyebabkan kegaduhan, dan situasi menjadi tidak terkontrol, hingga membuat orang-orang yang sedang tidur menyadari keberadaan kami.

***

Beberapa minggu setelah kami pulang dari kedaluan Ndoso, kabar tentang kedatangan rombongan dari Kerajaan Bima terdengar sampai di telingaku. Aku meronta, memaksa ayah agar mengizinkanku berangkat bersamanya ke Kedaluan Ndoso. Tetapi percuma saja, ayah tidak memberikan izinnya. Bahkan sebagai antisipasi agar aku tidak kabur, ayah mengurungku di kandang kuda yang dindingnya terbuat dari batang-batang pohon ampupu yang sangat kuat, dan menyiapkan dua orang penjaga untuk mengawasi pergerakanku. Aku berteriak agar segera dibebaskan, tetapi sekali lagi, percuma, sebab orang-orang di kampung ini tidak bisa melakukan hal di luar kehendak ayahku.

Sore harinya, ayah pulang dari Kedaluan Ndoso. Matanya sayu. Ada genangan air mata yang masih tertimbun di kelopak matanya. Perasaanku menjadi tidak enak. Aku merasakan hal yang buruk sudah terjadi. Lalu beliau melangkah menuju pintu kandang kuda dan membukanya. Beliau langsung mendekapku sambil menangis.

“Nak. Rueng telah dibunuh Raja Bima, sebab Rueng tidak mau menjadi istrinya” ucap ayah lirih, bersimpul air mata.

Mendengar pernyataan beliau, dadaku menjadi sesak. Seluruh badanku kaku. Aku linglung. Perasaanku menjadi tidak karuan. Dalam sekilas saja tanganku menggapai gagang parang yang masih tergantung di pinggang ayah, lalu dengan cepat aku melepaskan pelukan ayah, dan langsung menusuk diriku sendiri menggunakan parang itu. Sekejap saja semuanya terasa gelap. Samar-samar aku mendengar ayah berteriak, dan lama-kelamaan suara itu hilang, berganti sunyi nan gulita. Aku telah mati bersama perasaan cintaku kepada Rueng yang juga telah dibunuh dengan sangat keji oleh Raja Bima. (*)

Catatan Penulis:Cerita ini diangkat dari Legenda Loke Nggerang, tetapi hampir secara keseluruhan alur, penokohan dan lain-lain dipelintir atau lebih banyak mengandung imajinasi penulis (bersifat fiksi). Maka dari itu, mohon maaf bila cerita dalam Cerpen ini tidak sesuai dengan legenda aslinya

Biodata Penulis:

Nama Lengkap : Emanuel Jabur

Email : ejabur60@gmail.com

Nomor HP : 085215064742

Nomor WhatApp : 085215064742

Alamat Instagram : emanjabur