oleh

Bidan Positif Corona di Manggarai Tolak Dikarantina, Kapus: Sudah Terlihat Sakit, Batuk dan Pilek Sebelum Dihentikan Bekerja

MANGGARAI – Seorang Bidan yang bekerja di Puskesmas Anam, Desa Bulan, Kecamatan Ruteng menolak dikarantina, setelah dirinya dinyatakan tarkapar Covid-19.

Bidan ini berdalih meyakini jika dirinya negatif Covid-19, dan kalaupun harus dikarantina, ia bersama kedua putrinya yang juga positif Covid-19, yakni JCT (10) dan EDT (8), hanya ingin karantina mandiri di rumahnya yang terletak di Desa Rai, Kecamatan Ruteng.

“Tim kami di lapangan mengalami kesulitan. Tadi pak Camat, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas ditolak,” ujar Jubir Gugus Tugas Kabupaten Manggarai Lodovikus Moa, Kamis (03/09/2020) sore.

Terhadap penolakan itu, Gugus Tugas Kabupaten Manggarai tetap mengedepankan langkah persuasif. Namun, jika pasien tetap menolak untuk dikarantina, maka pihaknya akan melakukan upaya paksa.

“Tetap kami gunakan langkah persuasif. Tetapi jika tidak diindahkan, maka kita gunakan langkah berupa pemaksaan. Kita angkut ke wisma atlet,” ujarnya.

Selain memaksa pasien untuk menjalani karantina terpusat, Pemkab Manggarai menutup sementara pelayanan di Puskesmas Anam. Pasalnya, selain pernah melayani pasien, bidan MPG juga pernah kontak erat dengan sembilan petugas setempat.

“Bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan, diarahkan ke Puskesmas terdekat,” ujarnya.

Lodovikus menambahkan, berdasarkan informasi yang diperoleh Kepala Puskesmas Anam, bidan MPG baru diminta berhenti bertugas setelah mengetahui RJ, pamannya, meninggal dunia akibat Covid-19.

“Menurut Kepala Puskesmas, sebelum diminta berhenti itu, MPG sudah terlihat sakit. Dia sudah ada gejala batuk-batuk, pilek, dan mengaku penciumannya sudah hilang,” ujar Lodovikus.

Untuk mencegah kin meluasnya klaster transmisi lokal, tim gugus tugas berusaha secepatnya melakukan tracing terhadap semua orang yang kontak erat dengan pasien. Selain dilakukan rapid test, orang-orang yang kontak erat juga akan menjalani tes swab. (RED)