oleh

Pasien Positif C-19 di Manggarai, Ada yang Kabur Hingga Bidan yang Menolak Dikarantina

MANGGARAI – Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai telah mengumumkan 10 orang di wilayah itu dinyatakan positif virus Corona yang dari Klaster Cireng.

Berdasarkan hasil pemeriksaan PCR Laboratorium Biomolekuler RSUD Prof. WZ Johannes Kupang, kesepeluh (10) orang ini diketahui terjangkit dari pasien Covid-19 berinisial RJ asal Cireng Kecamatan Ruteng yang meninggal dunia di RSUD dr. Ben Mboi Ruteng baru-baru ini.

Salah satu yang terjangkit Covid-19 ini  berinisial (NPG), merupakan seorang Bidan yang bertugas di Puskesmas Anam Desa, Bulan Kecamatan Ruteng dan diketahui pernah mengurusi almarhum RJ.

Mengetahui, Bidan NPG ini terjangkit Covid-19, Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Manggarai memintanya untuk melakukan karantina di tempat yang telah disiapkan, namun sang Bidan menolak.

Juru bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 kabupaten Manggarai, Lodovikus Moa mengatakan, hingga kini NPG masih menolak untuk dikarantina. Sementara tujuh orang lainnya sudah karantina di Wisma Atlit Stadion Golo Dukal sejak hari ini.

Ia menegaskan, semua orang yang positif Covid-19 wajib hukumnya untuk karantina di wisma atlet Satadion Golo Dukal. Sebab menurut dia, tidak ada yang bisa jamin apabila mereka hanya malakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Namun ia mengaku akan tetap melakukan berbagai upaya pendekatan secara persuasif agar Bidan tersebut bersedia dikarantina.

“Kita akan melakukan upaya pemaksaan kalau memang mereka tetap menolak untuk dikarantina. Upaya selanjutnya terpaksa angkut Paksa” ungkapnya, Kamis 3 September 2020.

Untuk diketahui, selain Bidan ini, pasien positif Covid-19 lainnya berinisial MS (70) menolak untuk dikarantina.

MS ini merupakan suami dari saudari almarhumah RJ. Ia kabur saat hendak dijemput oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 kabupaten Manggarai.

“Yang lari itu bapak tua umur 70 tahun, saat mau di jemput tadi dia kabur, tidak tau sekarang dia di mana. Tapi kami sudah komunikasi dengan dusun dan kepala desa di sana untuk mencari tahu keberadaan bapa tua itu,” terang Lodovikus Moa. (RED)