oleh

Menanti Lahirnya “Ahok” dari Manggarai Raya

-Tak Berkategori-39 views

Oleh: Feliks Tans
(Guru Besar Undana, Kupang, dari Nara,
Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat)


Dalam tulisan ini, saya, tentu, tidak punya niat sama sekali untuk bersikap primordialistis: mengharapkan lahirnya pemimpin top sekelas Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di negeri ini dari Manggarai Raya (MR) – tempat saya lahir – dan bukan dari tempat lain. Bukan. Bukan sama sekali.

Dalam konteks keindonesiaan yang plural yang amat sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, judul itu, saya kira, merupakan sebuah terjemahan dari judul ini: Menanti Lahirnya 1001 Ahok dari manapun di Negeri ini.

Ahok, mantan Bupati Lampung, Mantan Gubernur DKI Jakarta, mantan anggota DPR dan kini menjadi Komisari Utama Pertamina, dikenal sebagai salah seorang pemimpin yang patut dicontohi di negeri ini karena kejujuran, keberanian, dan ketegasannya dalam memimpin.

Alasan penonjolan Manggarai Raya, karena itu, sebenarnnya sederhana. Setiap daerah di negeri ini, sejatinya, mempunyai hak penuh untuk memunculkan anak kandungnya – putra/i yang lahir dari daerahnya – pada panggung nasional sebagai pemimpin agung. Pemimpin agung itu diharapkan akan membuat Indonesia berbangga bukan hanya karena kehebatan karakternya tetapi juga kompetensinya yang luar biasa untuk menciptakan Idonesia yang moderen, sejahtera, dan damai dari jujung ke ujung negeri. Dari generasi ke generasi. Sepanjang masa.

Artinya, pemimpin agung seperti itu tidak harus hadir dari Jawa, dari Sumatra, dan/atau dari pulau besar lainnya di negeri ini. Manggari Raya (baca: Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur), seperti halnya kabupaten lain manapun di negeri ini, juga mempunyai hak penuh, 100%, total, untuk juga melahirkan pemimpin besar berhati mulia dan berkemampuan top seperti itu, yang, pada gilirannya, akan menjadi “garam dan terang dunia.”

Dalam bahasa John F. Kennedy, seorang pemimpin yang membuat dunia terbebas dari empat musuh utamanya, yaitu tirani, kemiskinan, penyakit, dan perang (John F. Kennedy, “Inaugural Speech.” 1960. Dalam Georgia Dunbar et al. 1991. New York: HarperCollins Publishing, hlm. 484-487). Dengan demikian, mimpi agung akan lahirnya pemimpin agung seperti itu dari Manggarai Raya, tentu, bukan sebuah manifestasi kedaerahan yang sempit-egoistis, tetapi yang mulia dan universal; sebuah panggilan untuk membebaskan setiap orang dari keempat musuh utama tersebut di Manggarai Raya, di Nusa Tenggara Timur (NTT), di Indonesia, dan, melalui Indonesia, di dunia. Persoalannya adalah bagaimana membuat mimpi itu menjadi nyata.

BACA JUGA:   Kapten Kapal Ditemukan Tewas di Perairan Labuan Bajo, Diduga Jatuh Terpeleset dari Kapal

Dalam alam Indonesia yang demokratis, tanpa tirani dan perang yang menghancurkan secara nasional, membuat mimpi itu menjadi nyata, mestinya, mudah. Mengapa? Ada dua alasan utama. Pertama, musuh manusia Indonesia secara umum, MR secara khusus tinggal dua, yaitu kemiskinan dan penyakit, termasuk “penyakit” turunannya seperti: perusakan lingkungan; korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), dan intoleransi.

Setiap orang Manggarai Raya yang berdomisili di Manggarai Raya atau di perantauan yang berniat baik, yang penuh kasih (produk setiap rumah ibadat yang mudah dijumpai hampir di setiap sudut Manggarai Raya), yang terdidik secara baik (entah secara formal, non-formal atau informal), yang berani, yang rela berkurban demi yang kecil dan menderita (bukan yang malah memperkaya diri di tengah rakyat seperti itu), mestinya, mampu melawan kedua musuh utama itu dan turunannya. Secara invidual dan/atau kolektif! Dipimpin atau tidak! Sampai hilang tak berbekas keduanya dan turunannya dari Manggarai Raya.

Kedua, Manggarai Raya, seperti kabupaten lainnya di negeri ini, telah terbukti menjadi ibu kandung tempat lahirnya 1001 manusia top dengan berbagai karakter mulia dan kompetensi yang mengagumkan dari dahulu kala hingga kini. Lahirnya arsitektur tradisional dalam bentuk rumah adat seperti yang terlihat di Wae Rebo, kain tenun Manggarai yang berkelas, budaya “lingko” pembagian lahan pertanian yang unik dan adil, seni “caci” dan seni suara “rido landu” yang tak kalah mempesona adalah bukti bahwa Manggarai Raya dari dahulu telah melahirkan budaya yang tak kalah hebatnya dengan budaya suku lain ini di negeri.

Budaya yang hebat itu, tentu, lahir dari sumber daya manusia yang juga hebat yang berkiprah di MR, di NTT, di Indonesia, dan, bahkan di dunia, entah kelihatan secara umum atau tidak, entah diberitakan secara gegap gempita atau dalam sunyi-senyap.

BACA JUGA:   Tukang Gosip: Demagognya Para Demagog

Walauun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa Manggarai Raya – dan NTT dan Indonesia – tak kunjung terbebas merdeka dari cengkraman dua musuh ini: kemiskinan dan penyakit. Juga “penyakit” sampingannya yang tak kunjung berujung: perusakan lingkungan terjadi saban hari; sampah di mana-mana, bahkan, di kota tempat para pejabat bermukim dan berteriak lantang (baca: hanya berteriak) untuk mencegah dan mengatasinya. Demikianpun KKN. Dia non-stop, bahkan, setelah pemilu demi pemilu, setelah pilkada demi pilkada.

Syukur, Indonesia, termasuk MR di dalamnya, kini masuk negara dengan kategori pendapatan kelas menengah atas (upper middle income country). Artinya kita lebih maju. Kita lebih baik. Kampung saya, Nara, Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, adalah salah satu contohnya. Terima kasih pada dana desa dari Presiden Jokowi. Terima kasih kepada Pemerintah Desa Watu Galang dengan Kepala Desanya, Ferdinandus Mboli, seorang sarjana, yang mengelola dana itu dengan baik dalam beberapa tahun terakhir: jalan di kampung itu kini sudah beraspal; perusahaan air minum desa berhasil menyediakan air bersih secara mudah, murah, dan sehat; rumah penduduk semakin baik (sudah banyak yang permanen dengan fasilitas kamar mandi, cuci, dan kakus yang relatif bersih); dan, usaha pertanian dan peternakan sukses, walaupun tetap harus hati-hati di tengah terpaan Covid-19.

Terima kasih kepada Pemda Mabar dan NTT yang, tentu, telah membimbing Pemdes Watu Galang secara secara sungguh-sungguh. Bahwa ada yang belum beres, itu, saya kira sangat manusiawi. Errare humanum est. Selalu ada waktu untuk membuatnya beres di kemudian hari.

Listrik di kampung saya itu, misalnya, belum ada, tetapi itu, saya yakin, hanya soal waktu: cepat atau lambat listrik akan menjadi bagian dari budaya Nara, sebuah kampung indah yang, seperti kampung lainnya di negeri ini, telah pula ikut serta membangun bangsa ini dengan caranya sendiri melalui SDM-nya yang bergerak di berbagai bidang, misalnya, pendidikan, agama, kesehatan, dan pertanian.

BACA JUGA:   73 Bidang Tanah Dinyatakan Sudah Lengkap untuk Pengembangan Bandara Komodo

Apakah dengan itu kita lalu bertepuk dada? Berpuas diri? Pasti tidak. Toe ta. Kita tetap harus terus berharap dan aktif mencari pemimpin sekelas Ahok yang legendaris itu.

Secara demokratis seperti Pilkada. Dalam konteks itulah Pilkada di Mabar dan Manggarai tahun depan bermakna mahapenting. Dari Pilkada itu, kita berdoa dan berharap, akan lahir pemimpin masa depan yang bersinar, tidak hanya di Manggarai Raya, tetapi juga, pada saatnya, di NTT, di Indonesia dan, melalui Indonesia, di dunia yang, walaupun fana dan mortal, tetapi tetap saja kita rawat secara saksama, rajin, dan terus-menerus.

Pada saat yang sama, di setiap rumah, di setiap lembaga pendidikan, dan di setiap rumah ibadat kita di setiap sudut Manggarai Raya, kita, orang tua, guru, dan siapapun, membiarkan anak-anak kita bermimpi. Mimpi apa? Mimpi ini: bahwa mereka, jika belajar secara lebih rajin dari hari ke hari, bekerja dengan tulus dan penuh semangat dari waktu ke waktu, dan dengan karakter yang berterima secara universal, apapun latar belakang suku, agama, ras, dan golongannya, kelak mereka akan menjadi orang besar. Orang sukses! Garam dan terang sesama di Manggarai Raya, di NTT, di Indonesia, dan, bahkan, di dunia internasional. Kraeng dan enu, mengapa tidak? (*)