Sadis, 2 Kakek dan 1 Remaja di NTT, Nekat Setebuhi Gadis Gangguan Jiwa Berkali-kali

Dilihat: 408

KUPANG – Entah apa yang merasuki tiga pria ini, nekat sekali meluapkan birahinya kepada seorang anak berusia 14 tahun.

Sebut saja Bunga, adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) asal Desa Mulakoli, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketiga oknum tersebut adalah Kakek korban, LL (80), keluarga dekat korban, AN (70), dan seorang pemuda, HL (20).

loading...

Kejadian-kejadian naas yang melibatkan tiga orang oknum itu, terjadi di waktu yang berbeda.

Sebagaimana dilansir floreseditorial.com, korban diduga disetubuhi berkali-kali oleh Kakeknya, LL, pada malam hari. Modusnya, Sang Kakek mengajak korban tidur bersama-sama di malam hari. LL, bahkan nekat menyakiti korban jika menolak diajak tidur berdua.

Informasi yang dihimpun media, korban AB, bahkan sering disekap mulutnya oleh Sang Kakek, jika menolak disetubuhi.

Aksi tak terpuji itu juga diduga kerap dilakukan oleh, AN dan HL, yang merupakan keluarga korban. AN dan HL, kerap menyetubuhi korban ketika situasi rumah sedang sepi.

Kejadian tersebut telah dilaporkan keluarga korban kepada pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Kecamatan Boawae, untuk diproses hukum.

Namun karena lambannya respon Kepolisian Sektor Boawae dalam menangani laporan tersebut, pihak keluarga lalu meminta bantuan kepada Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nurani, Lukas Mbulang.

Berdasarkan data yang dihimpun Lukas Mbulang dari keterangan keluarga, telah terjadi pelecehan seksual terhadap korban, oleh oknum dengan inisial LL (80), AN (70) dan HL (20).

Hasil investigasi LBH Nurani, diketahui bahwa korban memang mengalami gangguan mental. Sebelumnya, korban dibesarkan oleh Biara Alma, lalu kembali tinggal bersama Kakeknya, LL. Karena kerap dilecehkan oleh ketiga oknum tersebut, korban pun lari dan tinggal dengan keluarganya yang diketahui bernama, Yovita Wea.

Terpisah, Yovita Wea, kepada awak media, mengungkapan, peristiwa tersebut terendus ketika korban tengah membersihkan cengkeh.

“Waktu itu, saya menyuruh AB untuk mandi. Saya turut membantu memandikan. Ketika hendak menggosok pada area sensitif, AB selalu saja meringis dan mengeluh sakit. Saya bentak dan marahi Dia, saya tanya dengan nada keras, tapi Dia cuma diam tidak menjawab,” ungkap Yovita.

Setelah korban selesai mandi, mereka kembali duduk membersihkan cengkeh. Yovita, kembali menanyai korban dengan pendekatan yang baik dan santun. Saat itu lah, korban pun akhirnya menceritkan semua kejadian naas yang Ia alami.

“Setelah mendengar cerita AB, saya langsung mencari tahu ke rumah Sang Kakek, tempat tinggal AB. Di sana, saya bertemu Neneknya AB. Saya langsung menanyakan kebenaran peristiwa berdasarkan pengakuan AB itu,” terangnya.

Nenek korban membenarkan hal tersebut. Ia mengaku, setiap malam, korban tidur bersama Kakeknya. Jika korban menolak, Sang Kakek akan memaksa dan memarahi korban.

Nenek korban pun memberi restu agar peristiwa tersebut diadukan kepada pihak yang berwenang, dan Ia bersedia menjadi saksi jika diperlukan. (RED)

  •