Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan, BOPLBF Gelar Lokakarya Pengolahan Limbah

Dilihat: 101

ENDE – Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) menggelar lokakarya Pengolahan Limbah dalam Gerakan Sadar Wisata (GSW). Hal itu dilakukan sebagai upaya mewujudkan pariwisata berkelanjutan berbasis kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan (CHSE).

Lokakarya ini diikuti sebanyak 60 siswa/i dari tingkat SD hingga SMA se-Kabupaten Ende. BOPLBF juga menghadirkan narasumber dan fasilitator dari berbagai kalangan, di antaranya para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) Flores, pelaku ekonomi sirkular, seperti Koperasi Serba Usaha (KSU) Sampah Komodo, dan juga Dosen Prodi Ekowisata Politeknik El Bajo Commodus Labuan Bajo.

Kegiatan lokakarya ini juga tampak dihadiri oleh Plt. Bupati Ende, Jafar H. Achmad dan Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Ende, Matildis Mensi Tiwe.

loading...

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Immaculata Ende, pada Kamis, 15 Oktober 2020 itu dibuka langsung oleh Direktur Utama BOPLBF, Shana Fatina. Dia mengatakan, pariwisata berkelanjutan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability) merupakan visi pengembangan pariwisata pascapandemi.

Fatina berharap, seluruh elemen dapat melakukan pembenahan dalam upaya mempersiapkan diri, salah satunya pada aspek pengolahan limbah.

“Pariwisata Pasca Pandemi akan berubah, aspek CHSE akan menjadi pertimbangan penting bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke suatu destinasi wisata,” kata Fatina dalam keterangan tertulis yang diterima Media WN, Sabtu, 17 Oktober 2020.

Selain itu kata dia, wisata yang digemari juga adalah wisata untuk pemulihan, dalam hal ini ekowisata yang berhubungan dengan aktivitas pemulihan (healing), seperti trekking, yoga, dan hiking.

“Karena itu, destinasi wisata harus memperhatikan aspek CHSE, yang salah satunya berkaitan dengan aspek kebersihan,” ujarnya.

Pulau Flores, lanjut Fatina, sangat terkenal akan alamnya yang indah nan eksotis, serta cocok untuk destinasi wisata pemulihan. Karenanya, keindahan alam Pulau Flores harus dijaga dan dilestarikan.

“Tanpa kita sadari, masalah limbah secara perlahan menggerus keindahan ini. Ini harus menjadi perhatian kita bersama dan harus diselesaikan bersama,” terang Shana Fatina.

Shana juga menambahkan tentang pentingnya pemahaman tentang gaya hidup bebas sampah sejak usia dini dengan membiasakan perilaku 3R, yaitu Reduce (Mengurangi Sampah), Reuse (Menggunakan kembali), dan Recycle (Daur Ulang). “Dalam tiap jenjang pendidikan, 3R ini merupakan salah satu upaya solusi masalah limbah,” jelasnya.

Demikian lanjut Shana, Pemerintah, melalui BOPLBF, tentu akan terus mendorong pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat hingga menjadi lokomotif perekonomian di kawasan Flores.

Shana menambahkan, penetapan Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat sebagai destinasi super premium, adalah salah satu langkah positif yang telah dilakukan pemerintah pusat terhadap pengembangan pariwisata di kawasan Flores. “Untuk itulah BOPLBF hadir menjembatani itu,” ujarnya.

Ia mengajak berbagai pihak untuk saling bergandengan tangan secara bersama, demi mewujudkan pariwisata Flores menjadi pariwisata yang unggul.

“Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kita harus menjadi destinasi kelas dunia,” imbuh Shana.

Sementara itu, Plt. Bupati Ende, Jafar H. Achmad menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan BOPLBF sebagai sebuah langkah awal dalam upaya mewujudkan pariwisata yang memperhatikan kelestarian lingkungan.

Pemerintah Kabupaten Ende, kata Jafar, akan terus mendukung langkah-langkah yang dilakukan dalam upaya meningkatkan kebersihan lingkungan demi terciptanya kelestarian dan pariwisata berkelanjutan.

Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada BOPLBF yang telah memfasilitasi kegiatan workshop itu sebagai bentuk nyata dukungan terhadap kepedulian lingkungan.

“Dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh BOPLBF ini, kami akan lebih fokus lagi terhadap masalah kelestarian lingkungan pariwisata,” tuturnya.

Jafar mengatakan, pemerintah Kabupaten Ende akan berencana membuat regulasi, agar sekolah-sekolah mulai menggunakan tas dari olahan limbah plastik untuk dipakai ke sekolah. Itu dilakukan sebagai bentuk tindakan yang nyata dalam mengurangi limbah plastik.

Ahmad juga menyampaikan harapannya kepada generasi muda Kabupaten Ende untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian dan keindahan objek wisata yang ada di Kabupaten Ende.

“Kami berharap kepada generasi muda, terutama para peserta yang hadir pada acara ini, untuk dapat mengatur, mengurus serta menjaga kelestarian lingkungan tempat tinggal kalian ke depannya,” imbuh dia.

Bupati Ende itu berharap, kesadaran dan aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan perlu dilakukan.

“Teman-teman yang sudah hadir pada saat ini, saya minta agar pengetahuan yang sudah diperoleh pada kegiatan ini, jangan berhenti sampai di sini saja, ajak semua anggota keluarga agar memulai budaya hidup bersih dan 3R itu tadi. Mulai dari lingkungan terkecil yaitu rumah dan keluarga serta lingkungan permainan,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Sampah Komodo, Margaretha Subekti dalam paparannya mengungkapkan, masalah sampah tidak boleh dipandang sebelah mata dan harus mendapat perhatian khusus.

Kata dia, kondisi limbah plastik yang semakin mengkhawatirkan perlu solusi untuk menguranginya, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan limbah-limbah tersebut menjadi sebuah karya ataupun harus di daur ulang kembali supaya limbah plastik dapat berkurang jumlahnya.

Pemanfaatan limbah plastik secara tepat dapat mengurangi pengeluaran ekonomi, sebagai contoh, limbah plastik yang diolah menjadi karya seni berupa tas, sehingga pada saat berbelanja tidak perlu membeli kantung kresek lagi.

“Masalah sampah tidak memandang usia dan gender. Kegiatan lokakarya ini adalah bentuk nyata dukungan terhadap kepedulian lingkungan. Oleh karena itu, kegiatan dapat dijadikan sebagai tahapan awal para peserta agar memiliki kepedulian yang lebih lagi terhadap masalah limbah plastik,” ujar Margaretha

Selain menerima materi mengenai pengolahan limbah, para peserta yang telah dikelompokkan sesuai jenjang pendidikannya juga melakukan praktik pembuatan produk-produk kreatif dari limbah dan dilombakan. (RED)

  •