Tua Gendang Tahang Desak Polres Manggarai Usut Tuntas Kasus Penganiayaan Penyandang Disabilitas

Pembaca: 1.725 Orang
  •  

media-wartanusantara.id – Peristiwa dugaan penganiayaan terhadap penyandang disabilitas tuli dan bisu (tunarungu) yang terjadi beberapa waktu lalu dengan korban bernama Romanus Nala (18) dan terduga pelaku FJ dan HJ saat acara pesta pernikahan di Pante, dusun Kondong, Desa Golo Wangko, Rahong Utara, pada Jumat (13/11/2020), mendapat perhatian serius dari Tua Gendang Tahang, desa Golo Wangko, Rahong Utara, Manggarai, NTT.

Saat diwawancara media ini, Senin (16/11/) Tua Gendang Tahang, Dionisus Darman mengatakan, pihaknya telah bosan mengurus kasus pelaku yang kerap melakukan keonaran di kampung Tahang. Darman menjelaskan, jika terduga pelaku ini dalam catatan mereka sudah empat kali melakukan tindakan kriminal yang diselasiakan secara adat dan di kepala desa, belum kasus lainnya yang tidak dibawa ke ranah mediasi.

“Kami berharap agar kasus ini diselesaikan dari pihak ini (kepolisian). Jangan ada selesai begitu saja. Kami butuh kepuasan,” pinta Dionisus Darman.

Senada dengan Dionisus Darman, Tua Gendang Tahang yang lainnya, Laurensius Jehabut mengungkapkan rasa kecewa dan prihatin terhadap para terduga pelaku yang kerap kali melakukan tindakan kriminal di kampung Tahang. Bahkan, secara pribadi sebagai tokoh masyarakat dirinya merasa takut dengan terduga pelaku ini.

“Karena masalah ini yang sudah keempat kali, orang yang sama, pernah pukul kakak kami, memarahi kakak kami, sekarang pukul anak kami. Sehingga tidak salah lagi, kami mau tahu seperti apa penanganan hukum atas kriminal ini,” ungkapnya.

loading...

“Sering keputasan kami di kampung diabaikan begitu saja, hanya karena ada hubungan keluarga (Woe nelu:anak wina-anak rona). Memang kalau sudah banyak perbuatan (kasus) kita mau tinggal di mana, maunya tinggal di bawah tanah. (Kami) Selalu tidak dihormati. Kami merasa seperti bukan manusia,” imbuhnya.

Laurensius Jehabut, mengatakan, tindakan mereka melaporkan kasus penganiayaan ini ke polres Manggarai agar ada efek jera terhadap terduga pelaku.

“Sekarang anak ini (korban Romanus Nala). Kalau ditanya kedatangan kami (ke Polres Manggarai) pertama soal hubungan darah, kedua bagaimana jika menimpa kamai dan anak kami,” ujar Laurensius Jehabut.

Sebagai Tua Gendang, dirinya meminta agar pihak Polres Manggarai segera menuntaskan kasus ini.

“Berani tidak diurus oleh tuan (Polisi) di sini dengan segera mengambil keputusan ini bagaimana nanti beritanya di kampung. Dan andai nanti terjadi sesuatu yang menyimpang keputusan hukum, jangan perlu lagi dituntut hukum lepas saja. Terus terang sekarang kami takut. Mau jadi apa ini, berarti Indonesia belum merdeka. Sama dua kaki, sama dua tangan, sama punya akal,” pungkas Laurensius Jehabut.

Sebelumnya, dari pengakuan orangtuanya, korban mengalami luka memar di pundak, leher dan bagian bawah ketiak. Korban pun sudah melakukan visum di RSUD dr Ben Mboi, Ruteng.

Atas peristiwa ini, sekitar 40 orang anggota keluarga korban termasuk tokoh adat Gendang Tahang dan tokoh masyarakat mendampingi orang tua korban untuk melapor ke dua terduga pelaku penganiayaan itu ke Unit Reskrim Polres Manggarai pada, Senin (16/11/2020).

Kepada media ini, ibu kandung korban Hermina Ena menjelaskan, berdasarkan keterangan anaknya yang menjadi korban penganiyaan tersebut, bahwa anaknya yang mengalami disabilitas tuli dan bisu (tunarungu) mempraktikan jika terduga pelaku berinisial HJ yang melakukan penganiayaan terhadap anaknya dan berdasarkan keterangan saksi yang melihat kejadian tersebut ada pelaku lain berinisial FJ juga ikut terlibat.

“Terduga pelaku FJ melakukan pemukulan di Kemah, itu berdasarkan pengakuan saksi bernama Yosep Carlos. Bahkan FJ juga sempat mengancam Yoseph Carlos yang mencoba menelerai dengan menyebut kau satu ya, sambil mencekik Yoseph Carlos, tapi (Yoseph Carlos) tidak melawan,” terang Hermina Ena.

“Kemudian anak saya (Romanus Nala) yang sandar di terpal (dinding kemah), kemudian pelaku (HJ) hajar (korban),” imbuhnya.

Hermina Ena mengakui, jika anaknya tersebut selama ini tidak pernah melakukan hal yang aneh, atau ada laporan orang terhadapnya, meskipun korban sering mengikuti acara pesta.

“Ko nggo a, anak dopel daku nenggitu (atau begini, anak bisu saya, berbuat begitu, (Nakal),” ungkapnya.

Diterangkan Hermina Ena, bahwa saat pulang ke rumah, korban kembali dianiaya pelaku HJ di pertigaan jalan masuk kampung Tahang.

“Tiba-tiba pelaku datang lagi. Mai te de ase be wa mai hi ga, ka’e asi danga apa bail apa keta salan, mai tae diha ga Efan, eme berani tu’ung dua satu, itu tae di (HJ). Sempat emi watu hi ((HJ) tae de anak daku kedua, peke tapi gelang losin,” ungkap ibu korban dalam bahasa Manggarai.

“Tiba-tiba pelaku datang lagi. Saat itu adik di bawah korban mengatakan Kaka apa salahnya, tapi pelaku jawab, Efan (adik korban) kalau memang jago dua (lawan) satu. Sempat si Hila ambil batu, lempar. Namun anak saya yang kedua itu cepat lari.”

“Du leso lapor dami ce’e, aku ngo awo mbaru di (HJ). De nana co’o tara sampe mborek rangan anak daku. Mai tae diha ga, tanta toe hanang aku onggan. Nana toi taungs lite, ceing-ceing ata beo ho ata ongga anak dakun, teo ma toid liha nana, mai tae diha ga tanta ite ata tuduh akun. Ata mai rei daku co keta artin ongga anak daku sampe mborek nggo salen. Mai tae diha ga, tanta ami cua hi Oman diang ce sua sampe niagm. Hitu ancam aku diha,” ungkap ibu korban.

“Waktu kami lapor ke sini (Polres Mangarai) saya ke rumahnya HJ, menanyakan kenapa anak saya sampai dipukul babak belur. HJ menjawab, yang pukul bukan hanya dirinya saja. Nana coba kasih tau siapa-siapa di kampung ini yang pukul anak saya. (HJ) tidak kasih tahu. Tapi dia (HJ) bilang tanta anda tuduh saya. Saya hanya menanyakan apa maksud pukul sampai babak belur anak saya. Dia (HJ) bilang, tanta kami dua Oman sampai kapanpun, itu ancamannya.”

Ibu kandung korban pun mendesak pihak kepolisian agar menuntaskan kasus ini secara adil.

“Masalah ini cepat selesai, dan agar ada efek jera terhadap pelaku,” tutup Hermina Ena.

Ayah kandung korban, Hendrikus Jenadur yang turut ikut melapor ke dua pelaku ke Polres Manggarai ikut menyesal atas tindakan para pelaku ini.

“Apa salah dia (korban). Terus kalau dia orang normal bisa bicara, masuk di akal. Mungkin kalau dia salah bicara atau tingkah laku, makanya dipukul,” ungkapnya sembari berharap Polres Manggarai segara menindaklanjuti laporan mereka. (Red)


  •  
  • 69
    Shares
loading...