Calon Penumpang Asal NTT yang Selamat dari Pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Pembaca: 13.067 Orang
  •  

media-wartanusantara.id – Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak hanya empat menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. , tujuan Bandara Supadio, Pontianak.

“Telah terjadi ‘lost contact’ pesawat udara Sriwijaya rute Jakarta – Pontianak dengan ‘call sign’ SJY 182. Terakhir terjadi kontak pada pukul 14.40 WIB,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Novie Riyanto dilansir dari Antara.

Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 ini dikabarjan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. Dan kini petugas tengah melakukan pencarian.

Kisah calon penumpang yang lolos dari cengkraman maut jatuhnya pesawat ini pun ada dari Kupang, NTT.

Calon penumpang bernama Filshe Seyandha Selan itu seorang guru pada Sekolah Kristen Kasih Yobel di Pontianak, Kalimantan Barat.

loading...

Dari informasi yang dihimpun disebutkan bahwa tiket Yandha sudah oke, tapi dia batal ikut penerbangan karena dalam doa keluarganya di wilayah Oebufu, Kota Kupang, mereka mendapat pertanda bahwa ada kejadian pada tanggal 8 dan 9 Januari 2021.

Dia kemudian meminta refund tiket setelah membatalkan untuk ikut penerbangan Sriwijaya Air SJ-192 tersebut.

Dikutip dari Timor Express, Minggu (10/1/2021), pihak keluarga menjelaskan bahwa gadis bernama Yandha itu membatalkan penerbangan karena merasa kurang sehat.

“Rencananya memang tadi pagi (Sabtu, 9/1 pagi, Red) Ade Yanda terbang ke Pontianak dengan Sriwijaya Air. Namun, dirinya sendiri yang membatalkan rencana keberangkatan. Karena sampai tadi pagi mau berangkat mengeluh badan tidak enak,” kata Frangky Reke, kakak ipar dari Yandha Selan yang dihubungi Timex via telepon seluler tadi malam.

Frangky mengaku dirinya bersama istri yang adalah kakak kandung Yanda Selan langsung menghubungi Yandha ketika mendapat informasi hilangnya pesawat Sriwijaya Air tujuan Pontianak.

“Begitu mendapat kabar pesawat Sriwijaya hilang kami langsung telepon. Puji Tuhan Yandha terima dan saat itu bersama orangtua sedang berdoa mengucap syukur. Kami bersyukur sekali adik kami tidak jadi terbang,” ujar Frangky.

Franky menuturkan bahwa batalnya keberangkatan Yandha Selan tidak terlepas dari pertolongan Tuhan.

Dia menceritakan, tanggal 2 Januari kemarin, semua keluarga diundang untuk berdoa di Oebufu.

Dalam doa itu ada petunjuk bahwa pada tanggal 8 Januari atau 9 Januari ada bencana yang bakal dialami keluarga. Sehingga keluarga harus terus berdoa.

Frangky meyakini bahwa doa tersebut berperan dalam batalnya Yandha mengikuti penerbangan Sriwijaya Air SJ-182.

“Ternyata petunjuk dalam doa itu betul. Berkat doa dari orangtua dan semua keluarga, adik Yandha tidak jadi berangkat karena kondisi tidak enak badan dan sakit,” ujarnya.

Frangky mengatakan, Yandha baru bekerja setahun di Pontianak. Baru pulang libur pertama di Kupang.

“Yanda guru di Pontianak dan baru pertama pulang berlibur. Dia baru lulus tahun lalu dan langsung diterima bekerja sebagai guru di Pontianak di Yayasan Dian Harapan,” tutur Frangky. (Red)


  •  
loading...