oleh

Cerpen: Stasiun Flinders, Melbourne

Oleh: Pateng Nara

Duduk-duduk santai di tangga masuk Stasiun Flinders, Melbourne, Australia, aku buka tas “Country Road” kumalku dan mengambil “Paul Keating: Perdana Menteri”, sebuah buku biografi Paul Keating, saat itu Perdana Menteri Australia.  Aku membaca di tengah hingar bingarnya Stasiun Flinders yang superbersih dan tersohor itu.

Orang-orang pada keluar masuk, bergegas-gegas seolah-olah ada yang tak beres: mungkin kereta api sore hari yang hampir berangkt; mungkin anak yang lagi sakit kritis di rumah sakit yang harus dikunjungi; dan, barangkali, hanya karena kerinduan supaya lekas tiba di rumah, dicium suami atau istri tercinta, makan malam, “making love”, dan tidur.

Trem dari dan ke St. Kilda atau dari dan ke “Melbourne Centre” lalu-lalang;  kendaraan pribadi hilir mudik bersama taksi-taksi dengan penumpang berdasi, pria dan wanita sekaligus, langsung di depan mataku.  “Ini baru namanya negara  maju, Kraeng!” aku berkata dalam hati kepada diriku sendiri.

Aku menyelami “Paul Keating: Perdana Menteri.”  Aku ikuti Paul Keating yang sempat tersungkur pada saat tantangannya untuk menjadi PM Australia pada tanggal 3 Juni 1991 gagal. Bob Hawke mengalahkananya dalam sebuah sidang “Caucus”: 66 suara lawan 44.  Kasihankah dia karena kalah?  Ternyata tidak.  Dia pantang menyerah.  Walaupun bukan sebagai PM yang gagal direbutnya, bukan juga sebagai Wakil PM yang pernah ditawarkan kepadanya atau bukan pula sebagai “treasurer” yang pernah dijabatnya selama bertahun-tahun hanya dengan berbekalkan ijazah SMA, dia tetap di Parlemen Australia: anggota biasa, duduk di kursi paling belakang, back bench.

Untuk mengisi waktu luangnya, dia berkeliling Australia; beri ceramah tentang masa depan Australia yang jaya yang, menurut dia, harus berkiblat ke Asia.  Kita harus membina hubungan yang baik dengan Indonesia, katanya, dalam suatu wawancara di TV Channel 9.  Maka jadilah gempa bumi politik di benua orang Aborigin ini.  Mantan Menteri Keuangan terbaik dunia pada tahun 1984 itu bak kanguru raksasa yang setiap langkahnya membuat Australia berguncang.  Australia yang maju yang moderen, tetapi pada saat itu mengalami resesi berat, dibuatnya yakin bahwa dialah satu-satunya manusia yang paling cocok untuk menjadi PM dari negara yang belum punya bendera nasional itu.  Tanggal 19 Desember 1991, pada tantangan kedua, sang raksasa itu berhasil merobohkan Bob Hawke.  Paul menang angka: 56 lawan 51.  Bobpun turun takhta karena “kepemimpinannya tidak lagi menarik dan imajinatif”, kata Paul Whelan, salah seorang bekas pendukungnya.

Dalam keasyikan menekuni “Paul Keating: PM” itu, aku dikejutkan oleh seseorang yang menpuk bahuku dari belakang.  Aku menoleh dan seorang ibu setengah baya melempar senyum manis.

“Good morning!  I am sorry to disturb you!” katanya masih sambil tersenyum manis.

“No worries, no problem” jawabku, mencoba ramah dan ikut-ikutan menggunakan ungkapan yang menjadi ciri khas bangsa ini.  Bangsa “no worries”, bangsa “no problem.”  Tentu bukan karena tidak ada masalah di negeri itu, tetapi karena semua orang suka saja pakai dua frasa itu, bahkan, ketika ada masalah sekalipun.  Mengucapkan dua frasa itu, Bill, seorang teman di Universitas La Trobe, yang aku kenal minggu-minggu pertama aku di benua ini, terlintas dalam benakku.  Saat itu, ketika kami duduk-duduk santai di “Union Bar” Universitas La Trobe, dia bercerita tentang “no worries” dan “no problem”-nya bangsa ini.

“Coba kalau Kraeng berani,” Bill bercerita sambil meneguk birnya saat itu, “pukul seorang pria Australia, biar tanpa sebab.  Lalu bilang, ‘I am sorry,’ pasti dia akan bilang, ‘No problem’ atau ‘No worries.’  Hanya setelah itu Anda akan dia giring ke kantor polisi terdekat dan minta bayar $200,- Australia untuk sekali pukul.  Kalau dua kali pukul, hitung saja sendiri!  Jadi, kalau Anda konglomerat boleh pukul 10 kali atau lebih, tetapi kalau miskin, lebih baik jangan cari perkara.   Itu sudah hukum dan tertulis di setiap dinding kereta api, trem, dan bus umum di samping gambar Ratu Elisabeth, Ratu Inggris Raya, yang, percaya atau tidak, adalah juga ratu negeri ini,” lanjut Bill saat itu.  Aku tersenyum skeptis saat itu.  Dua bulan kemudian, kenyataan yang kulihat sehari-hari membuat aku yakin pada cerita Bill itu.

“Tolong kasih aku $1.  Aku lapar.  Dari tadi aku belum makan.  Aku mau beli ‘chips’”, kata wanita setengah baya itu serius.

“Oh my God,” aku bilang dalam hati pada diriku sendiri.  Aku kena getah resesi ekonomi negeri Paul Keating ini: penganggur hampir mendekati angka 11%; banyak orang, termasuk ibu itu, rupanya, tak punya pekerjaan.  Menganggur.  Hidup susah.

BACA JUGA:   Love Story, Bali yang Telah Mempertemukan Kami

Akupun meraba-raba saku bajuku.  Juga saku celana jinsku.  Tak ada uang.  Mau tak mau aku buka dompetku.  Akupun mengomel lagi.  Dalam hati.  Sial apa aku ini sampai aku bertemu lagi dengan pengemis.  Memang itu kali ketiga aku dihadang pengemis di negeri moderen ini.  Padahal aku baru tiga bulan di sini, di Melbourne ini.

Pada pertemuan pertama dengan pengemis, aku hampir tak percaya pada kenyataan yang aku temui.  Pengemis.  Mana mungkin negara yang sudah masuk masa “post-modern” ini ada pengemis.  Kalau di Jakarta, Surabaya, tentu, aku tidak heran.

“Tolong $2,” katanya memelas, “aku mau ke Rosana, tetapi aku tidak ada tiket kereta api.”  Aku kasih saja itu dua dolar Australia.  Toh hanya dua dolar, kataku dalam hati lagi.

Ada sedikit rasa bangga, juga, dalam hati.  Dua dolar memang tidak banyak.  Namun kalau dirupiahkan, itu sama dengan Rp. 3.000.  Selama di Jakarta pada tahun sebelumnya, aku tidak pernah memberikan pengemis di pinggir jalan di pinggiran “Kuningan Plaza” sebanyak itu.  Paling banyak Rp. 50.  Sering hanya Rp. 25.  Atau tidak sama sekali.  Sebab pengemis terlalu banyak.  Berjejal-jejal di setiap jembatan penyeberangan. Aku sendiripun kekurangan uang atau, paling tidak, aku membutuhkan uang untuk nonton “Pretty Woman” dengan temanku di sana.  Bila pusing melihat pengemis sebanyak itu, aku biasanya rindu pulang ke Kupang, kota asalku, yang tanpa pengemis seorangpun.  Di kota itu, uang Rp. 50 atau Rp. 25 itu aku pakai untuk beli, misalnya, korek api.

Di sini, di Australia aku beri Rp. 3.000.  Toh itu bukan uangku, pikirku.  Itu uang Pemerintah Australia yang diberikan kepadaku secara cuma-cuma.  Namun aku tetap berbangga.  Lagi, dalam hati.  Kalau orang bilang ada rasa bahagia dalam memberi dengan rela, aku rasakan kebenarannya saat itu.  Petuah John Wesley, pendiri Methodisme, mengiang di telingaku, “Gain all you can; save all you can; give all you can.”

Perjumpaan kedua dengan pengemis di negeri kaya ini terjadi saat aku duduk di ruang tungguh “Platform 2”, juga di Stasiun Flinders.  Hari itu aku mau ke Ivanhoe.  Seorang anak muda, dengan pakain kumal, compang-camping, yang tampaknya tidak pernah kena air selama berminggu-minggu, padahal di kota ini air melimpah dan tidak perlu dibayar, mendekatiku.

“Tolong 30 sen!” katanya sambil menyodorkan tangan kirinnya kepadaku.  “Aku mau telpon seseorang,” lanjutnya.  Aku kasih saja.  Hanya 30 sen.  Hanya Rp. 450.

“Thanks a lot,” katanya meninggalkan aku sendiri duduk di ruang tunggu itu.

Pada perjumpaan ketiga itu di stasiun yang sama itu, aku tidak punya uang $1.  Mau kasih $5, rasanya agak berat karena uang dalam dompetku tinggal $20 untuk makan malam dan membeli tiket nonton “Batman Returns” bersama Jodie, seorang gadis manis Aborigin, teman kuliahku dari Univeristas La Trobe.

Kalau aku mau, aku sebenarnya bisa mengambil uang di “Automatic Teller Machine” Bank Nasional Australia  yang terdapat di mana-mana di kota itu.  Kartu bankku ada dalam saku celanaku.  Namun, saat itu, egoisme terlalu kuat dalam diriku.  Aku jadi teringat nenekku di Flores yang kaya, tetapi sedikit rakus dan kikir.  Aku, walaupun miskin, ketularan penyakit orang kaya: kikir.  Akupun tersenyum, juga dalam hati, saat mengetahui betapa kikirnya diriku. Saat itu, petuah Wesley hilang ditelan hingar-bingarnya Stasiun Flinders.

“Di mana ya ada jual ‘chips’ di sini?” tanyaku padanya.

“Di sana,” katanya sambil memegang tanganku, menggiring aku ke salah satu sudut stasiun itu.

“Namaku Kraeng.  Dari Flores, Indonesia,” aku memperkenalkan diri.

“Aku Kellie,” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.

“Kellie, tinggal di mana?”

“Di sini.”

“Aku tahu di sini.  Maksudku di mana di kota ini?  Di Bundoora? Di Hauthorn?”

“Di sini.  Di stasiun ini,” katanya serius dengan nada yang sedikit tinggi.  Aku terkejut.

“Aku lagi cari kerja.  Kraeng bisa bantu aku?”

“Maaf, Kellie.  Aku hanya seorang mahasiswa.  Aku baru datang tiga bulan lalu dari Indonesia.”

“Oh ya?”

“Anda dapat uang dari pemerintah Anda, bukan?  Tunjangan pengangguran.”

“Iya, tetapi jumlahnya sedikit sekali.  Untuk bayar listrik, gas, dan transportasi saja tidak cukup,” katanya sendu.  Ada kesedihan dalam suaranya.

“Oh iya,” kataku mengangguk.

“Tolong satu bungkus ‘chips’ dan kopi hitam satu gelas,” kataku kepada penjaga warung di sudut stasiun itu begitu kami tiba di situ.  Aku melihat arlojiku.  Masih ada 10 menit sebelum aku bertemu Jodie.

BACA JUGA:   Sempit: Puisi Eky Amrosila

“Terima kasih banyak,”  katanya setelah aku membayar $2,50.

“Mari duduk di sini,” katanya mengajakku duduk di sebuah bangku di samping warung itu.  Karena masih ada waktu sedikit, akupun duduk di samping Kellie.

“Aku sebenarnya mau ke ‘Salvatioan Army’, tetapi hari ini ditutup.  Hari Sabtu tidak dibuka,” katanya.

“Apa itu ‘Salvation Army’?”

“Itu organisasi kemanusiaan.  Sebuah organisasi yang bertujuan untuk menolong orang miskin seperti aku ini.”

“Oh iya!  Benar, aku sering lihat di lampu-lampu merah di kota ini banayk anak muda dengan tanda pengenal ‘Salvation Army’ meminta uang pada orang-orang yang lewat ketika kendaraan mereka berhenti.  Jadi, uang itu untuk ‘Salvation Army’ dan ‘Salvation Army’ akan memberikannya kepada yang miskin, menderita, dan berkekurangan,” kataku.

“Betul.  Mereka beri berupa makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.  Di Indonesia tidak ada ‘Salvation Army’?” tanya Kellie.

“Aku tidak tahu persis.  Di Kupang, ‘West Timor’, tempat kerjaku, tidak ada.  Mungkin di Jakarta.  Namun tahun lalu ketika ada di kota itu, aku tidak pernah melihat atau mendengar tentang ‘Salvation Army.’”

“Mungkin tidak ada orang susah seperti aku di Indonesia,” kata Kellie sambil memandangku tajam.

“Siapa bilang?  Menurut berita terakhir ada sekitar 30 juta orang miskin di Indonesia,” kataku.

“Tiga puluh juta orang?  Penduduk Australia saja hanya sekitar 15 juta orang.  Berapa ya penduduk Indonesia sekarang?” katanya tidak percaya bahwa ada begitu banyak orang miskin di Indonesia.

“Sekitar 180 juta orang.”

“Kalau begitu yang kaya jauh lebih banyak.”

“Tentu,” jawabku dengan sedikit nada kebanggaan.

“Lalu, siapa yang tolong 30 juta orang yang miskin itu?”

“Mereka sendiri.  Pemerintah kami tidak seperti pemerintah Anda yang suka menolong rakyatnya yang miskin.  ‘Salvation Army” juga kami tidak punya.  Saat aku pulang ke Indonesia nanti, mungkin aku akan membuka organisasi seperti itu,”  kataku seadanya.

“Bagus,” katanya sambil menghirup kopinya dan menguyah ‘chips’ yang hampir habis dari bungkusan plastik yang dipegangnya.

“Maaf, Anda sudah berkeluarga?” aku mencoba mengubah topik pembicaraan dengan hati-hati.  Ada sedikit ketakutan dalam hati karena pertanyaan seperti itu di negeri itu haram sifatnya.

“Iya, tetapi sudah cerai.  Bekas suamiku sudah nikah lagi.  Aku tinggal dengan seorang anak gadisku.  Umurnya 17 tahun.  Sayangnya dia jarang di rumah,” kata Kellie tentang keluarganya.

“Jadi, Kellie punya rumah sendiri?”

“Iya, tetapi seperti aku bilang tadi, aku tidak sanggup membayar biaya listrik, gas, dan telepon.  Untuk beli makanan saja susah amat.  Tunjangan untuk penganggur dari pemerintah terlalu kecil.  Itu makanya aku lebih suka tinggal di stasiun ini.  Di sini listrik gratis dan saat bertemu orang sebaikAnda, saya beruntung,” katanya.

Aku tersenyum melihat Kellie menunjukkan kepadaku salah satu sudut hidupnya yang getir di kota itu.  Aku ingin bercerita lebih lama dengan Kellie, tetapi waktu tak memungkinkan lagi.  Aku mohon pamit sambil berharap Jodie sudah menungguku di depan “Russel Cinema”.

“Terima kasih banyak, Kraeng.  Aku selalu di sini pada jam-jam begini.  Aku harap bisa bertemu Anda lagi,” katanya menatap mataku dalam-dalam, lalu ke sekelilingnya, stasiun yang makin ribut, tak tahu apa yang harus dilakukan.  Aku meninggalkan stasiun itu.  Meninggalkan Kellie.

Aku ke “Russel Cinema”.  Bergegas-gegas. Berjalan kaki karena cukup dekat. Beberapa menit kemudian aku tiba di sana.  Kulihat Jodie duduk lagi duduk-duduk di tangga masuk bioskop itu.

“Hi, Jodie, how are you?” tanyaku sambil tersenyum.

“Fine!  Thank you?  And you?”

“I am alright.  Maaf, aku membuat Anda menunggu di sini,” aku menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris sekaligus.  Aku tahu dia lagi belajar bahasa Indonesia di Universitas La Trobe.

“No worries.  No problem.  Aku datang kecepatan,” katanya.

Kamipun langsung membeli karcis “batman Returns”; $8 dolar untuk mahasiswa dan penganggur; $11 dolar untuk yang sudah bekerja.    Jodie tunjukkan kartu mahasiswanya, lalu membayar $8.  Aku juga $8.  Mahal amat, aku menggerutu dalam hati.

Michael Keaton, Danny de Vito, Michelle Pfeiffer tampil mengagumkan dalam film itu.  Jodiepun tenggelam dalam keasyikan menonton film yang disutradarai oleh Tim Burton itu.  Aku?  Mataku, memang, melototi film itu, tetapi pikiranku masih terganggu oleh Kellie.  Kellie, bukan Tim Burton, aku berkata dalam hati, begitu berhasil bercerita secara polos tentang pahitnya hidup di dunia yang moderen itu: yang kuat yang menang, yang kalah tersingkir.

Begitu film berakhir, kami langsung menyerbu Restoran McDonald di sebarang Russel Cinema.

“Tadi aku bertemu pengemis di Stasiun Flinders,” aku bercerita kepada Jodie tentang Kellie sambil melahap “chickenburger” dengan kopi susu hangat.

BACA JUGA:   Tangisan Kelahiran, Tangisan Kehidupan

“Itu ‘street kids,’”katanya.  “Orang-orang yang tidak punya rumah atau tidak mau tinggal di rumahnya dan lebih suka tinggal di jalan.  Anak-anak perjalanan,” lanjutnya dalam bahasa Indonesia.

“Anak-anak jalanan!” kataku.

“Iya, anak-anak jalanan,” katanya.

“Iya, tetapi tadi itu seorang ibu,” kataku.

“Iya, tetapi kamus negeri ni menghendaki mereka semua itu disebut anak-anak jalanan.  Bukan ibu-ibu perjalanan, maaf, ibu-ibu jalanan,”  katanya sambil tersenyum.

Setelah santap malam di McDonald itu, kami menuju “bus stop” terdekat.  Jodie ke rumahnya di Brunswick dengan Bus 256.  Aku ke Stasiun Flinders lagi untuk selanjutnya ke Ivanhoe dengan kereta api.

“Hello, aku Dona dan ini Diane,”  dua orang gadis mencegatku di pintu masuk stasiun.  Bau alkohol dari mulut mereka yang mungil menusuk hidungku.  “Kami ingin beli minuman.  Tolong beri kami $2,50,” Diane membuka mulutnya dengan bibir yang sedikit tebal untuk ukuran orang barat.  Bau alkohol menyebar.  Aku mau memperkenalkan dirri, tetapi tidak jadi.  Aku pikir, mereka mau uangku, buka namaku.

Aku langsung saja raba saku celanaku.  Untung ada recehan $1 dolaran.  Aku kasih $3 dolar ke Diane dan berharap mereka lekas pergi.

“Tolong tambah $5 dolar lagi,” kata Dona sambil memegang tangan kananku dengan tangan kirinya dan merapat ke arahku sehingga tidak ada lagi jarak antara kami.

“Maaf, aku tidak punya uang lagi,” kataku sambil mundur seperti seekor kambing jantan yang menyadari ada bahaya di depannya.  Penyakit kikirku kambuh lagi.

“Tidak mungkin.  Pasti masih ada,”  kata Dona sambil maju merapat.  Diane juga mendekat dan memegang tangan kiriku dengan tangan kanannya.  Seperti tangan Dona, tangan Diane terasa begitu hangat di puncak musim dingin Benua Kanguru itu.  Angin selatan berhembus agak kencang menusuk tulangku dan menerpa rambut kuning keemasan kedua gadis di depanku, rambut yang dibiarkan terurai sebatas bahu mereka.  Diane tidak lagi membuka mulutnya, tetapi dengan manja menyorongkan tangan kirinya.

“Oh my God, bebaskan aku dari orang-orang ini,” kataku dalam hati.  Supaya bebas dari mereka, aku tarik tanganku secara halus dari mereka, meraba lagi sakuku, dan mencabut $5.  Kulihat Caroline Chisholm, yang tergambar pada uang kertas lima dolar itu, tersenyum lebar seolah-olah merestui kemurahan hatiku pada kaumnya.  Namun, tiba-tiba aku merasa iba melihat uang $5 itu; Caroline Chisholm, Ibu Kartini-nya Australia, akan segera dihapus dari mata uang lima dolar itu.  Gambarnya akan diganti oleh gambar Ratu Inggris.

“Terima kasih banyak,” suara mereka serempak.  Dona menjabat tanganku, menciumnya, lalu berlutut satu kaki di depanku.  Aku untuk sekejab merasa bak Raja Thailand yang sedang menerima kunjungan PM-nya untuk melaporkan keadaan negara.

“Anda terlalu baik,”  kata Diane.  Aku mencoba untuk tersenyum.   Dia menjabat tanganku dan menciumnya seraya mengucapkan terima kasih.  “Tak pernah orang memberi kami ‘free’ seperti ini sebelumnya,”  katanya sambil tersenyum.  Kulihat matanya berkaca-kaca dan akupun merasa bak Dubes Indonesia untuk Australia, Sabam Siagian, yang telah menunjukkan kepada bangsa itu betapa baik hatinya bangsaku.

“Baiklah!  Sampai bertemu kembali,”  kataku kepada mereka sambil bergegas-gegas ke “Platform 2”  menanti kereta api malam ke Ivanhoe.

“Sampai bertemu lagi,” suara mereka hampir serempak.  “Hati-hati,” sambung mereka, juga hampir serempak.

Aku dudk di ruang tunggu “Platform 2”.  Di layar komputer stasiun kereta api yang megah itu aku lihat kereta api ke Inahoe  akan berangkat pada jam 11.40 malam.  Lagi 15 menit.  Aku buka kembali tas kumalku dan mengambil koran “The Age”.

Aku tidak bisa berkosentrasi lagi.  Pikiranku masih terbawa arus Dona dan Diane yang terasa misterius.  Aku tiba-tiba ingin bercerita lagi dengan mereka.  Bukan untuk apa-apa, tetapi hanya sekadar ingin tahu lebih dalam tentang mereka.  Namun sudah terlambat.

Kereta api sudah datang dan akupun segera masuk.  Di malam yang gemerlap itu, aku meninggalkan Stasiun Flinders bersama kenangan akan dia, stasiun itu, dalam hatiku.  Sebuah stasiun megah yang telah rela bercerita kepadaku sisi lain negeri yang kaya yang moderen itu.  Sisi lain yang kadang-kadang muncul di “The Age”, tetapi tak kutemukan sedikitpun di “Paul Keating: PM”.    Dari jauh, lewat jendela kereta api, kulihat Stasiun Flinders yang megah yang gemerlapan dengan lampu-lampu kuning keemasan di sekelilingnya.  Kulihat Melbourne yang makmur, tetapi di dalamnya ada juga Kellie, Donna, dan Diane yang tersisih.

“Tuhan, tolong orang-orang yang tersisih itu,” aku berdoa dalam hati.

Kupang, Juli 2020