oleh

Cerpen: Pahlawan

Oleh: Pateng Nara

Akhir Desember 2016, langit Desa Walang cerah.  Matahari pagi yang hangat dari ufuk timur disambut kicauan ria burung pipit yang beterbangan dengan lincah dari pohon ke pohon rindang sekitar kantor desa.  Udara terasa lebih segar setelah hujan mengguyur desa keempat terbesar di Kecamatan Galang, ujung barat Pulau Flores itu.  Namun Munting, Kades Walang, sarjana akutansi tamatan sebuah universitas kecil di pulau itu, resah.

Dia terganggu statistik desanya yang dirilis sebelumnya: dari 2.500 penduduk yang tergabung dalam 700 keluarga, yang miskin 10%,  yaitu 250 orang dalam 70 keluarga.

Dia resah melihat 250 warganya yang miskin tinggal di rumah reot, santap makanan tak bergizi, dan berpakaian compang-camping; sebagian berbaring sakit tak berdaya di rumah karena tak dapat bayar pelayanan kesehatan; yang lainnya putus sekolah.

Ketidaknyamanan itu mendorong Munting berdiskusi dengan orang sedesanya mencari solusi.  Ada yang usulkan supaya bantuan pemerintah seperti beras diperuntukkan hanya bagi yang benar-benar miskin. Sudah sejak lama, katanya, bantuan pemerintah sering salah sasar karena nepotisme.  Bantuan modal usaha untuk para marhaen, misalnya, sering diterima kaum berduit atau berpartai sama dengan penguasa.

Yang tepat sasaranpun sering tidak efektif.  Akibatnya, begitu bantuan habis, kemiskinan tak pernah hilang.  Karena itu, Munting merenung, mengeluarkan rakyatnya dari kemiskinan tak bisa lagi hanya berharap pada pemerintahPersoalannya, pikir Munting, kepada siapa dia bersandar.

Dulu dia andalkan pemerintah kabupaten yang sering mengadakan pelatihan pertanian, peternakan, wirausaha, perikanan, dan perkoperasian bagi kaum papa di desanya.  Namun, gagal.  Angka kemiskinan tetap: 10%.

Dia hampir putus asa ketika dia dengar berita radio bahwa Bill Gates, seorang milioner Amerika Serikat, dan puluhan pengusaha besar Indonesia menyumbang dana banyak bagi sebuah yayasan untuk pemberantasan malaria, TBC, dan HIV/AIDS.

Terinspirasi berita itu, Munting panggil Kaung, Kepala Urusan Hukum Desa Walang.  Kaung diberi tugas membentuk sebuah yayasan.  Munting menyebutnya Campe Roeng Koe[1].  Tugasnya membantu yang berkekurangan.  “Kraeng[2],” kata Munting kepada Kaung, “kita harus mengikis habis kemiskinan dari desa ini sekali dan untuk selamanya melalui Yayasan Campe Roeng Koe.  Tugasnya adalah mencari dana dan menggunakannya secara bertanggung jawab untuk menghapus kemiskinan.  Karena itu, Kraeng Kaung saya mohon susun draf Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga-nya.”

Kaung segera menyusun AD/ART  Yayasan Campe Roeng Koe.  Setelah disusun, direvisi, dan disahkan, Kaung pergi ke Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, untuk mengurus ijin pendirian yayasan.  Begitu ijin diperoleh, Munting mengundang para ata bora,[3] suami-istri, di desanya untuk berembuk.  Menurut statistik Desa Walang, 50% penduduknya yang tergabung dalam 350 keluarga, tergolong ata bora. Mereka peternak, pedagang, dan petani sukses.

Ketika para ata bora itu berkumpul, Munting berpidato.  “Ine-Ame[4],” katanya dengan suara keras tegas menggelora, “hari ini, di sini, saya angkat Ine-Ame semua sebagai pejuang, bukan untuk berperang dan bertempur melawan penjajah karena penjajahan tidak ada lagi, tetapi melawan kemiskinan sampai kemiskinan itu hilang dari desa ini.  Ine-Ame setuju?”

BACA JUGA:   Sepucuk Surat Untuk Lucya

“Setuju!” semua menjawab secara serempak bersemangat.

“Jika Ine-Ame berhasil, saya akan mengangkat Ine-Ame menjadi pahlawan desa ini.  Karena itu, saya minta Ine-Ame sumbangkan sejumlah dana kepada Yayasan Campe Roeng Koe, sebuah yayasan kemanusiaan yang telah saya bentuk di desa ini, sesuai kesanggupan Ine-Ame.  Semakin besar sumbangan Ine-Ame semakin baik,” lanjutnya disambut tawa hadirin.  “Kini saatnya kita memberi kepada yang melarat.  Jangan seperti orang-orang di tempat lain yang hobinya hanya merampok, melahap urang rakyat. Tidak pernah memberi!  Kita tidak boleh begitu, Ine-Ame!” tambahnya dengan nada tegas.

 “Walaupun aku toe bora[5], saya dan keluarga menyumbang Rp 50 juta.  Istri dan dua anak saya sudah sepakat ketika tadi malam kami berunding tentang hal ini,” lanjut Kades disambut tepuk tangan meriah hadirin sambil berdiri. Standing ovation!

“Saya siap Rp 100 juta,” sambung Muku.

“Saya Rp 200 juta,” cetus Uma, orang terkaya Desa Wulang. Tepuk tangan hadirin membahana.

“Terima kasih, Kraeng Uma dan Kraeng Muku,” kata Kades sambil turun dari mimbar menjabat tangan mereka.

Kraeng Kaung, tolong siapkan kertas.  Edarkan kertas itu dan biarkan setiap orang yang ada di sini menulis sendiri besaran sumbangannya,” saran Kades. “Saya akan melanjutkan pidato setelah Ine-Ame semua mengisi daftar itu,” katanya memberikan kesempatan kepada peserta untuk menulis nama dan besaran sumbangannya.  Uangnya akan diberikan kemudian.

Setelah diisi, diketahui jumlah sumbangan dari 350 keluarga bora di desa itu adalah Rp. 9.990.000.000,-.

“Terima kasih, Ine-Ame,” kata Munting melihat angka itu. “Sumbangan IneAme,” lanjutnya, “kiranya bisa segera dikirim ke nomor rekening bank Yayasan.  Dana itu menjadi dana abadi untuk menghapus kemiskinan dari desa ini sekali dan untuk selamanya.” Hadirin berdiri bertepuk tangan secara gegap gempita.

 “Ine-Ame diminta mengontrol penggunaannya,” lanjut Munting, “supaya dana itu digunakan sepenuhnya untuk pemberantasan kemiskinan.  Karena itu, di hadapan Ine-Ame sekalian dan Mori agu Ngaran, Jari agu Dedek[6], saya bersumpah: saya siap digantung di ujung jalan desa ini, jika saya salah gunakan uang itu,” ujar Munting dengan lantang.

“Selain itu,” lanjutnya, “setiap Ine-Ame kiranya bisa mengangkat satu keluarga miskin di desa ini menjadi keluarga binaan Ine-Ame.  Sebagai keluarga mampu, Ine-Ame kiranya bisa melakukan sesuatu supaya keluarga yang dibina keluar dari kemiskinannya.  Itu bisa Ine-Ame lakukan dengan, misalnya, mempekerjakan bapak atau ibu di keluarga miskin itu atau salah satu anak dewasanya sebagai salah satu karyawan Ine-Ame.  Upah minimalnya, tentu, harus sesuai upah minimum kabupaten, yaitu Rp 3 juta per bulan.  Karena ada 350 keluarga mampu dan 70 keluarga miskin di desa kita, setiap lima keluarga mampu bisa bekerja sama untuk mengampu satu keluarga miskin.  Itu berarti masing-masing keluarga mampu hanya mengeluarkan Rp 600 ribu per bulan, untuk membebaskan sebuah keluarga dari kemiskinannya.  Itu, tentu, ringan.  Ine-Ame setuju?”

BACA JUGA:   Onkologi Puisi Curahan Hati All Junior, Mahasiswa STFK Ledalero Penghuni Puncak Scalabrini

“Setuju!” jawab mereka serentak.

“Walaupun keluarga kami belum berembuk tentang hal ini, saya yakin istri dan anak saya setuju,” tandas Uma. “Atau bagaimana, Ibu sayang?” tanya Uma kepada istrinya yang duduk di sampingnya sambil mengunyah siri pinang dengan wajah sangat serius.

Neka rabo,[7]saya tidak setuju,” kata istri Uma menjawab suaminya.  Suaranya pelan, tetapi cukup kuat untuk bisa didengar semua orang dalam ruangan itu.  Mukanya memerah menahan amarah.

 “Kalau begini caranya, enak betul menjadi orang miskin.  Kita, yang dari dahulu kala bekerja secara sangat keras siang malam membanting tulang, dibebani lagi dengan tugas untuk mengeluarkan mereka yang miskin dari kemiskinan dengan keringat kita sendiri,” lanjutnya dengan nada tinggi.  Uma, yang tidak mengira istrinya berpendapat demikian, tunduk tak berkutik.  Rapat raksasa yang semula gegap gempita itu menjadi sunyi-senyap bak hutan tanpa seekor burungpun yang berkicau karena takut ada seekor ular piton raksasa yang lewat.

“Itu betul, Kae[8]!” cetus istri Muku. “Kalau begitu caranya, lebih baik saya tidak usa menjadi pahlawan.  Pahlawan apa? Lebih baik menjadi manusia biasa,” lanjutnya dengan suara melengking.

Enu[9], nggitu kole hami ta[10]!” kata beberapa peserta rapat lainnya serempak.

“Baik, Ine-Ame,” jawab Munting dengan tenang.  “Rapat saya nyatakan rehat selama satu jam dari sekarang,” lanjutnya.

Waktu satu jam itu dia gunakan untuk melobi pasangan suami-istri kaya di desanya yang tidak setuju dengan idenya.  Dia mengajak mereka ke halaman belakang kantor desa.  Sambil minum kopi dan makan keladi rebus bersama mereka, Munting bercerita dengan nada sangat pilu bagaimana pahitnya hidup di gubuk reot.

“Ada,” katanya sambil berlinang air mata, “yang tidak makan berhari-hari karena tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan; ada yang mati bukan karena sakitnya tak terobati, tetapi karena tidak mampu beli obat untuk menyembuhkan penyakitnya; atau obatnya mungkin terjangkau, tetapi mereka tak mampu bayar biaya transportasi dari desa kita ini ke rumah sakit  di ibu kota kabupaten kita.”  Orang sedesa Walang sudah sering mendengar cerita seperti itu.  Namun karena Kades sendiri yang menyampaikannya secara menyayat hati, yang mendengarnya langsung jatuh hati.  Merekapun sepakat.  Orang miskin harus dibantu seperti saran Munting.  Artinya, idenya mereka terima.

Ketika rapat dilanjutkan, Munting berkata, “Terima kasih, Ine-Ame!  Akhirnya semua seiya, sekata; semua kita, tanpa kecuali, setuju bahwa kita perlu melakukan sesuatu yang tidak biasa untuk membuat desa kita ini bebas dari kemiskinan, yaitu dengan melakukan dua hal yang saya sebutkan tadi.  Uang sebanyak yang ditulis dalam daftar tadi kiranya bisa segera kita kumpulkan,” lanjut Munting.  “Uang itu,” kata Munting, “kita gunakan untuk membantu Ine-Ame mendukung keluarga ampuan kita masing-masing.  Artinya, jika Ine-Ame bermasalah dalam mengampu setiap keluarga miskin itu, Ine-Ame jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan Yayasan. Setuju?” tanyanya dengan girang karena dia tahu bahwa jawabannya pasti setuju.

“Setuju!” benar saja, semua serempak berteriak.

“Dana itu dikumpulkan selama sebulan,” tegas Munting.

BACA JUGA:   Suara Untuk Indonesia: Puisi Sr. Leonarda Susana, PIJ.

“Setuju!” kata peserta rapat sepakat.  Setelah itu rapat ditutup; peserta bubar.

Sebulan berlalu, dana yang masuk ke rekening Yayasan Campe Roeng Koe hanya Rp 4 miliar dari 150 keluarga.  Sebanyak 200 keluarga batal kumpul dana.  Setelah dicari tahu, ternyata mereka ubah pikiran: menolak ide yang semula mereka dukung.  Alasannya?  Mereka takut uang yang akan mereka kumpul akan dilahap kepala desa seperti sebelumnya: kepala desa lama makan uang pajak desa.  Mengingat pengalaman masa lalu yang tak enak itu, sumpah Kades mereka bahwa dia siap digantung jika makan uang mereka secara tak halal menjadi tak berarti.

Munting kecewa, tetapi tetap berharap.  Untuk itu dia ajak Galung, sekretaris desa, untuk mengunjungi 200 keluarga itu satu per satu.  Dia yakin dia bisa membuat mereka yakin bahwa memberi selalu berarti berkat; pemberian secara cuma-cuma tidak akan pernah berarti pemiskinan bagi si pemberi; pemberi, sebaliknya, akan terus berkelebihan karena rahmat yang akan terus mengalir kepada yang memberi, bahkan, dari kekurangan sekalipun.  Dia juga yakin bahwa ketulusannya untuk membantu yang menderita dan kepemimpinannya yang jauh dari praktik korupsi mampu mencairkan hati setiap ata bora desanya sehingga mereka bersedia memberi tanpa mengharapkan imbalan; bukan do ut des[11].

Setelah berbicara dari hati ke hati dengan mereka selama dua ratus hari, yaitu satu hari satu keluarga, ke-200 keluarga itu akhirnya yakin bahwa dana mereka tidak akan dimakan kepala desa.  Karena itu, merekapun segera mengirimkan uang mereka ke rekening Yayasan dan, bersama ata bora lainnya, bersedia pula mengampu keluarga miskin di desanya persis seperti yang dianjurkan kepala desanya.

Demikianlah, dana Rp 9 miliar lebih itu terkumpul dan setiap keluarga miskinpun, berkat kesepakatan desa, berkesempatan untuk bekerja dengan dukungan ata bora di desa mereka.  Ketika si miskin bekerja dengan penuh semangat dan dengan upah yang cukup, kemiskinanpun sirna dari Desa Walang.    Bagi Munting, itu mukjizat.  Bagi rakyatnya, itu karena kempemimpinannya tanpa cacat. Karena itulah mereka memberinya gelar Bapak Pembangunan Desa Walang.

Melihat rakyatnya makmur, Munting lega.  “Moga-moga semua desa di Negeri Pancasila ini seperti Desa Walang,” bisik Munting dalam hatinya sambil mengawasi pembangunan monumen yang padanya tertulis nama ke-350 kepala keluarga, pahlawan desanya.

Sayangnya beberapa orang  di antara para pahlawan itu kemudian terjerat kasus korupsi di desanya dan dipenjarakan di ibu kota kabupaten.  Namun Munting tetap mengganggap mereka pahlawan; nama mereka tidak dicoretnya dari monumen itu.  Sekali pahlawan, tetap pahlawan.  Tidak ada orang yang sempurna di dunia fana ini, katanya kepada dirinya sendiri.

Kupang, Awal Februari, 2021

[1] Bahasa Manggarai (BM):  Menolong Rakyat Kecil.

[2] BM: tuan

[3] BM: kaum berada

[4] BM: Bapak-Ibu

[5] BM: aku tidak kaya

[6] BM: Tuhan dan Pencipta

[7] BM: maaf

[8] BM: kakak

[9] BM: Ibu

[10] BM: kami juga demikian ya.

[11] Latin: Saya memberi supaya engkau memberi.