Di NTT, Bayi dan Sepucuk Surat Wasiat Ditemukan dalam Kardus di Biara Susteran

KUPANG – Bayi tak berdosa dengan jenis kelamin perempuan dalam kondisi masih hidup ditemukan dalam sebuah kardus di depan Susteran SSpS Santa Skolastika,alan Matahari, Kelurahan Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT, Jumat (12/6) dinihari sekitar pukul 02.30 wita.

Bayi yang ‘dibuang’ dan diletakkan dalam kardus tersebut ditemukan oleh beberapa suster S.Sp.S Servae Spiritus Sanctus (Misi Abdi Roh Kudus).

Dilansir Poskupang.com dalam kardus yang ditemukan itu, juga diselipkan sebuah surat wasiat yang dititipkan Ibu kandung sang Bayi.

Mama suster yang diberkati. Maafkan saya merelakan bayi perempuan mungil ini ke dalam dekapanmu. Sejujurnya, saya belum siap dan sanggup (mampu) merawat dan membesarkan anak ini. Jika mama suster berkenan, rawatlah, jagalah bayi mungil ini hingga ia besar. Semoga Tuhan yang Maha Kasih berkenan menenun dia lewat suster yang ajaib, karena ia hadir karena cinta. Kami merelakan karena cinta akan hidup dengan kehidupannya. Ampunilah saya dan dosa kami mama suster. Tuhan memberkati. Tertanda : MMW,

Demikian isi surat yang ditemukan dalam kardus bayi tersebut seperti dikutip dari Poskupang.com sebagaimana yang disampaikan Kapolres Kupang Kota, AKBP. Satrya Binti Perdana Tarung melalui Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Hasri Manasye Jaha, S.H, Minggu (14/6) malam.

Setelah melakukan demikian, orang tua bayi mungil tersebut melangkahkan kaki pergi meninggalkan bayi tak berdosa itu.

Dijelaskan Kasat Reskrim, Setelah beberapa lama ditinggal sendirian di tempat itu, tangis bayi mungil itu kemudian pecah.

Berdasarkan kronologis, kata Kasat Reskrim, suara tangisan bayi mungil itu pertama kali didengar oleh Suster Modesta Amsikan (58), yang tinggal di susteran/biara SSpS Santa Skolastika ketika ia hendak tidur.

“Awalnya Suster Modesta mengira suara anak kucing. Namum, suara tangis bayi makin kencang. Suster Modesta juga ragu untuk keluar dari pagar biara/susteran karena menduga ada orang iseng yang memiliki niat jahat untuk merampok,” terangnya.

Namun, suara tangisan bayi makin membuatnya tidak nyaman, sehingga Suster Modesta berusaha menelepon suster lain. Namun, tidak ada yang merespon. Dua rekannya, suster Skolastika Jenau dan suster Kristin Maria Nahak juga sudah tidur sehingga mengabaikan telepon dari suster Modesta.

Beberapa menit berselang, jelas Iptu Hasri, suster Kristin terbangun. Sr. Kristin bersama Sr. Modesta, sesudah mendengar demikian memutuskan mencari sumber suara tangisan bayi. Keduanya kemudian mencari di aula, kapela hingga ke ruang tamu. Namun, tidak menemukan.

“Secara tak sengaja, Suster Kristin Maria Nahak, membuka kain jendela dan melihat kardus air minum disertai suara tangisan bayi. Saat memeriksa isi kardus, keduanya kaget karena di dalam kardus ada sesosok bayi yang menangis,” paparnya.

Bayi perempuan dalam kardus, terang Iptu Hasri, mengenakan baju dan celana panjang warna kuning serta topi. Ada pula susu SGM, sepasang baju bayi warna kuning, selembar handuk kecil warna kuning, kain seloyor, salib kecil tanpa korpus, gelang rosario terbuat dari benang dan selembar surat ditulis tangan.

Para suster lanjut Iptu Hasri, lalu mengamankan bayi perempuan dalam biara dan memberikan susu. Karena bayi terus menangis maka bayi pun dibawa ke Puskesmas Bonipoi, Kota Kupang untuk diimunisasi dan diperiksa.

Atas kejadian tersebut, suster Modesta kemudian melaporkan penemuan bayi ini ke Polres Kupang Kota.

Pelaku tindak pidana penelantaran anak ini akan dijerat sesuai pasal 77 B UU No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak sesuai laporan polisi nomor LP/B/633/VI/2020/SPK Polres Kupang Kota tanggal 11 Juni 2020.(RED)