Ibu, Aku Minta Pena Baru

Kemarin, sedang diamnya malam berkelebat dengan segala penatnya diktat aku diusik sesaat oleh mading-mading kamar yang pada suatu kali ditulis oleh jemariku “jangan sia-siakan keringat dan asi ibu.” Kalian tahu saat itu aku menulisnya sekadar untuk mengingatkan kembali kebersamaanku dengan kedua orangtuaku. Teruntuk mereka yang telah menjadikan aku dengan segala tuaian dan benih yang ditaburkan. Aku seperti hutan belukar di dalamnya semak berduri dibersihkan oleh pepatah, petuah, dan nasehat mereka. Namun itu dulu, saat aku masih melihat ibu dan ayahku saling berceloteh di bawah pinang depan rumahku. Mereka terlihat romantis, mengenang masa muda dalam segala nuansa saling jatuh cinta. Apakah mungkin mereka sedang berusaha untuk jatuh cinta lagi? Kataku membatin. Ya, mungkin saja. Itu kata-kataku dulu, dulu sekali semenjak ayah dan ibu meninggalkan aku di usia sembilan tahun.
* * * *
Romanus, tolong ambilkan ibu beberapa kapur tulis di ruangan guru dan kau Timotius, tolong bagikan buku paket pelajaran di depan meja ini kepada seluruh teman-temanmu di sini. Perintahnya seperti mengembalikan mimpiku untuk beberapa menit yang lalu. Sekaligus menyadarkan aku akan sebuah khayalan untuk berharap ibu dan ayahku bisa dihidupkan kembali. Romanus. Sekali lagi ibu memanggilku dengan lantang. Romanus, tidakkah kau dengar apa yang ibu perintahkan kepadamu? Tanya ibu Mariana kepadaku. Baik bu, akan ku-ambilkan kapur tulis itu. Jawabku sambil keluar kelas menuju ruangan guru.
Romanus, itulah namaku yang diberikan oleh ayah dan ibuku. Kata Dedeku*, nama itu merujuk kepada nama Almarhum Kakekku. Dan di kampung halaman kelahiranku nama seorang anak pertama harus diberi marga leluhur biar para leluhur masih bisa dikenang selalu seperti namaku Romanus Rahmat, marga Rahmat merupakan marga para leluhur kami, leluhur yang menghadirkan ayah dari kakekku, ayah dari ayahku, dan aku dari ayahku.
Timotius adalah nama temanku ia dan keluarganya adalah pendatang dari Manggarai dan karena ayahnya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kantor pariwisata maka ia dan keluarganya berdomisili di kampungku di kota Ende. Perkenalan pertama aku dengan Timotius di lapangan bola kaki saat itu aku dan Timo, nama yang biasa kami panggil untuknya, biar lebih singkat berada dalam satu tim kesebelasan yang secara kebetulan berposisi sebagai gelandang serang (aku) dan gelandang bertahan (Timo) akhirnya membuat kami harus saling berkomunikasi satu sama lain agar terjalin kerja sama yang baik. Namun, aku harus jujur bahwa Timo merupakan satu-satunya sahabat dan teman sebayaku yang paling luar biasa. Ia selalu mendapatkan prestasi di kelas, sekolah, maupun di kabupaten, Timo seorang sahabat yang multitalent selalu mampu mengisi kekurangan dan keterbatasan teman-temannya khususnya aku. Selain itu satu hal yang paling aku ingat darinya. Timo seorang yang begitu takut, takut pada kegelapan. Jika lampu kompleks padam maka seluruh kampung pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil menutup gendang telinganya masing-masing sebab dengan sendirinya Timo akan menangis, menjerit, dan berteriak kecuali ayah dan ibunya cepat-cepat menyalakan senter atau pada saat itu di kampung halamanku paling sering mengunakan pelita dari sumbu konvor yang jika dinyalakan asapnya akan sangat membeludak lurus ke atas langit-langit rumah.
Mariana, ia adalah ibu guru mata pelajaran Agama kami. Berperawakkan tinggi, dengan rambut yang tergurai lurus. Bangkalai ia KTP “keriting tarik paksa. Sebab suatu hari di hari sabtu aku sempat melihat ia berada di salon kecantikkan bang Dude. Saat itu aku dan Dedeku sedang berjalan menuju pasar, sekadar ingin membeli bakso hanya saja ketika melewati salon bang Dude, aku sempat memelototi kerjaan bang Dude itu dan ternyata Ibu Mariana sedang asyik menikmati nuansa jemari-jemari bang Dude yang mengeramasi rambutnya. Mungkinkah itu bagian dari tarik rambut? “ah, apa urusannya dengan aku. Selain itu, bu Mariana merupakan satu-satunya guru yang memposiskan dirinya sebagai seornag shabat dan teman bagi kami peserta didik, metode pembelajaran yang dibawakan setiap minggu juga bercorak mulai dari; game merampungkan gambar-gambar para kudus, bernyanyi, meng-alamkan proses belajar, bercerita, dan lainnya. Pernah suatu hari saya memberanikan diri untuk bertanya “Bu, mengapa ya, cara mengajar ibu dan bapak-ibu guru yang lain berbeda?” Misalnya seperti Pak. Markus, cara mengajarnya hanya mencatat meluluh, atau Ibu Kristina cara mengajanrya hanya mendikte meluluh dan akhinya membuat kami jadi gerah begitu karena tangan kami harus selalu dipaksa untuk catat kalau tidak maka kami akan diberi sanksi untuk berdiri di depan kelas sepanjang pelajaran itu berlangsung. “Romanus, sekarang ini pusat atau metode pembelajaran harus jadikan siswa sebagai pusat pembelajaran artinya siswa harus menemukan metode belajarnya sendiri dan guru, guru hanya sebagai fasilitator yang memposisikan dirinya untuk mengarahkan, membina, menjelaskan, dan membantu apa atau bagaimana berkaitan dengan kurang pahamya siswa terhadap apa yang ingin dia pelajari. Sehingga siswa lebih kreativitas, inovatif, dan bebas mengekspresikan dirinya.” Jawab, ibu Mariana saat itu. Kok bisa begitu sih Bu, “tanyaku lagi.” Kamu pernah dengar kata Revolusi 4.0? “hehehe, belum pernah bu.” Jawabku sambil menyeringai malu. Ah kamu Romanus, bagaimana ibu mau menjelaskan kepada kamu soal revolusi 4.0 itu? Nanti saja baru ibu jelaskan kepadamu soalnya hari sudah larut dan ibu harus cepat-cepat pulang karena masih ada begitu banyak hak yang belum ibu selesaikan di rumah. Baik bu, aku juga masih ada pekerjaan rumah yang belum kuselesaikan dan teman-teman kelompok belajarku pasti sudah menunggu. Jawabku waktu itu, saat hari senja semakin jatuh dan ribuan cahaya mengayun indah memberi nyanyian selamat malam duniaku. Kalian tahu, sore itu jadi sore terakhir aku, ibu, dan pertanyaan itu.
* * * *
Hari ini, aku baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atasku. Tanpa pernah sedikitpun terbayang oleh benakku tentang masa depanku seusai menamati bangku Sekolah Menengah Atas ini. Sawah, ladang, dan berpatani seolah jadi akrab dalam pikiranku. Kuliah dan jadi mahasiswa yang kelak lulus bertoga dan diwisudakan dengan predicat cum-laude masih seperti sebuah mimpi yang harus terus dipaksakan untuk jadi asa bagi kehidupanku. Romanus, profisiat untuk prestasinya, ucapan selamat membanjiriku tangan, pipih dan tubuhku jadi capeh oleh berbagai ucapan baik dari para sahabat, teman, maupun dari para guru. Aku lulus. Ya, lulus. Lulus dengan prestasi juar satu, kalian mau tahu aku tidak sekadar juara satu di sekolah pada program studiku Ilmu Pengetahuan Sosial namun aku lulus dengan prestasi terbaik untuk semua sekolah dalam jurusanku se-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Itu benar-benar baru bagiku. Sebelumnya sekadar untuk mendapatkan prestasi sepuluh besar di kelas bukan sebuah impianku namun hari ini, entah apa yang membuatku jadi seperti seseorang yang paling dibanggakan, dirayakan sebagai kemenangan bagi sekolah dan akulah seorang pemenang itu. Sekolah bangga, pra guru bangga, teman-teman dan sahabat-sahabatku bangga, keluarga bersarku pun ikut bangga, tapi aku, “benarkah aku bangga atau sekadar untuk memberi senyum kepada semuanya, seeprti menarik diriku untuk paksakan saja senyum itu.” “Nak, kau dapat prestasi dan beasiswa, selepas dari ini semua, kami siap apa keputusanmu selanjutnya untuk meraih apa yang kamu inginkan dan cita-citaka saat ini, esok, dan nanti?” Dede dan tantaku, seolah-olah tak mampu menawan kembali keinginanku. Air mata yang jatuh menetes di pipih keduanya membuat aku semakin binggung dengan diriku. Perayaan apa yang harus aku rayakan, cita-cita seperti apa yang ingin kumenangkan? Ayah dan ibu, dengarkah kalian akan ucapan batinku ini? Beri aku satu kata dari ucapan mulut kalian? Mengapa diam? Tak seorang pun yang mampu memahami diriku saat ini bahkan aku sendiri tak mampu memahaminya. Aku mendapatkan beasiswa penuh S1 hingga S2 di salah satu Perguruan Tinggi di Provinsiku dengan jurusan Manajemen Pendidikan. Apakah itu cita-citaku?
15 September 2015
Itulah awal perjumpaanku dengan dunia baru yang sama sekali baru. Seorang anak desa dari salah satu kampung terpencil memaksa dirinya untuk mencintai satu kemungkinan dari cita-citanya mengejar impian di tanah rantau. Hidup dari keringat sendiri tanpa harus selalu memaksa dede dan bude untuk mengirim uang sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku mencoba menemukan kembali diriku dalam tulisan-tulisan kecil rapih dan rampung jadi sebuah karya imajinatif. Puisi. Dulu saat berada di bangku SMA, aku dikenal olah teman-temanku sebagai seorang puitis yang luar biasa. “ya, sekadar untuk kalangan teman-temanku dulu.” Kini aku sadar dari sebuah tulisan itu aku mampu menghidupi diriku sendiri, sekadar untuk membiayai unang kos, uang makan-minum sehari-hari, dan untuk membeli diktat-diktat kuliah, dengan menjadi salah satu kontributor di Surat Kabar Harian Lokal baik berbentuk cetak maupun online. Meskipun dengan penghasilan untuk satu karya puisi Rp. 150.000,00 dan cerpen Rp. 250.000,00, paling tidak mampu mengurangi bebas dede dan budeku di kampung halamanku.
Duniaku semakin asyik, dengan berbagai organisasi-organisasi, perkumpulan-perkumpulan dan paguyuban-paguyuban yang diikuti baik dari kampus maupun dari mahasiswa-mahasiswa sendiri. Akhirnya dunia saya akan diri saya sendiri lebih melampaui apa yang ingin saya pahami. Percakapan-percakapan baik seputar diktat, diskusi perkualiaha, minat, hobby, jadi semakin inspiratif hingga di tahun ketiga perkuliahan itu, seorang dosen saya nama Pak. Marianus Buram, membawakan materi perkuliahan berkaitan dengan Pedagogi dan Pendidikan Psikologi. Menariknya bahwa di dalam materi yanng di slidekan ia mencantumkan model pendidikan di era 20 saat ini yakni Revolusi 4.0. Lebih lanjut di menjelaskan bahwa pendidikan saat ini harus menjadi siswa sebagai pusat pendidikan dan seorang guru haruslah mampu membawakan dirinya secara profesional dan terampil. Terampil tidak sekadar kreatif namun mampu mengimajinasikan dirinya bagi para nara didik. Dengan demikian keterampilan seorang guru harus dipahami dalam pedagogi yang mana para guru merupakan seorang pedagog yang mampu membawakan perserta didik ke dalam dunianya sendiri mulai dari menemukan cara belajarnya, proses belajar, dan lain sebagainya dalam empat pilang pendidikan yakni learning to know, learning, to be, learning, to do, and Learning to live together. Dengan demikian nara didik mampu menjadi sosok dirinya sendiri atas atau untuk perkembangan dirinya selanjutnya. Kreatif, inovatif, dan inspiratif menjadi tolak ukur di dalamnya. Selain itu pendidikan era 20 ini memungkinkan para guru paling tidak mampu menguasai Id sebagai bagian dari proses pembelajaran baikk untuk dirinya sendiri maupun untuk nara didiknya.
Surga sebuah rumah. Aku rindu. Siapa yang kau rindu? Tanyaku membatin. Ibu Mariana? Aku rindu ibu Mariana. Berbagai pertanyaan tentangnya keluar dari pikiranku, bagaimana kabarmu, bu, terima kasihmu untuk penjelasan sekilas darimu tentang metode pembelajaran saat ini yang kau praktekan kepada kami dulu, Bu, aku rindu dirimu? Sedang asyik mengelamun dengan kenangan perjumpaan sore kala itu antara aku dengan ibu Mariana, sekaligus perjumpaan terakhir dengan segala rasa kehilangan akan sosok seorang ibu guru dan ibu bagiku, air mataku jatuh. Aku menangis. Menangis untuk sebuah kemenangan yang patut aku rayakan bagi diriku sendiri dan khususnya untuk Ibu Mariana. Guru yang paling luar biasa bagiku saat di bangku putih abu-abu. Teruntukmu ibu Mariana ada satu hal yang masih belum kau penuhi dari pertanyaanku untuk sebuah permintaan di sore itu, “Ibu, aku minta pena baru.”

Mageria, sebuah jumpa di taman desa, 2019.

Keterangan
*Dede : Paman
*Bude : Tanta
Semua alur yang digunakan dalam cerpen di atas hanyalah rangkuman imajinasi penulis dalam mennulis cerpen ini. Begitu pula untuk nama-nama toko dalam cerpen tersebut. Jadi penulis minta maaf untuk penggunaan nama-nama toko dalam cerpen di atas. Dan penulis sama sekali tidak memiliki maksud untuk mengkritik ataupun untuk menilai kinerja guru dalam alur cerpen ini tapi penulis hanya ingin bersuara dari pengamatan penulis sejauh ini. Mohon maaf untuk kesamaan alur, toko, dan lainnya yang mungkin saja menyinnggung para pembaca yang baik.