Wapres Ma’ruf Amin Diundang ke NTT untuk Hadiri Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik 2020

JAKARTA – Wakil Presiden Ma’ruf Amin diundang oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Nasional (LP3KN) untuk menghadiri Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik yang akan digelar pada (28/10/2020) di NTT mendatang

“Kami melaporkan mengenai persiapan yang dilakukan. Pembenahan stadion, pembenahan asrama, kerja sama dengan hotel-hotel. Akan ada 9 ribu penyanyi dari 34 provinsi,” kata Ketua Umum LP3KN Adrianus Meliala di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Rabu (22/1), seperti dikutip kumparan.com.

Jumlah peserta yang akan hadir pada Pesparani 2020 lebih banyak dari Pesparani 2018 yang jumlah pesertanya sekitar 5.500 orang.

Ia berharap Ma’ruf dapat hadir untuk menutup acara tersebut.

“Pesparani I di Ambon tahun 2018 dihadiri oleh 5.500 orang, dulu berlangsung meriah dan kami ingin mengulang kemeriahan yang sama di NTT. Awalnya kami masih belum dikenal, sekarang kami sudah dikenal oleh umat Katolik se-Indonesia,” tuturnya.

“Kami mengundang Bapak Wapres untuk menutup acara tersebut. Tahun 2018 Presiden enggak datang karena kampanye. Cuma ngirim video sapaan. Tahun ini kami harapkan Wapres hadir menutup acara tersebut,” lanjutnya.

Dalam pertemuan tadi, Adrianus juga melaporkan besaran anggaran yang dipakai untuk acara tersebut.

Adrianus mengaku kepada Ma’ruf bahwa pihaknya memiliki keterbatasan anggaran, sehingga meminta Ma’ruf untuk membantu anggaran acara tersebut.

“Wapres menyetujui. Wapres bilang ini hal yang baik karena mendukung selaras dengan narasi kerukunan. Bahkan beliau menyinggung kerukunan harus dikembangkan oleh kita semua,” ujarnya.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan pesan peran agama dalam kehidupan berbangsa.

Hal itu juga yang mendasari mengapa penyelenggaraan Pesparani ditetapkan pada 28 Oktober yang merupakan Hari Sumpah Pemuda.

“Mengapa tanggal 28? Karena kita mau ambil momentum kebangsaan. Bukan semata-mata kegiatan agama. Ini adalah kegiatan berbangsa, bagaimana kita mencari relevansi agama dalam konteks berbangsa,” jelasnya. (K/RED)