Hery-Heri Pimpin Manggarai, Lapangan Motang Rua akan Dibuat Jadi Alun-alun Kota

Pembaca: 839 Orang
Sketsa alun-alun Motang Rua Ruteng [Foto: Dok. Istimewa]
  •  

MANGGARAI – Rencana besar pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Manggarai, Heryberuts G.L Nabit-Heribertus Ngabut jika mendapat amanat rakyat dalam Pilkada 9 Desember mendatang adalah dengan membuat sebuah program unggulan untuk mendorong pembangunan serta mengatasi persolan di desa dan di Ruteng sebagai ibu kota kabupaten Manggarai. Program tersebut diberi nama program “tata kota – jelajah desa”.

Lewat program ini, lapangan Motang Rua akan disulap menjadi alun-alun kota, dengan nama alun-alun Motang Rua”.

Hal tersebut disampaikan calon bupati Manggarai Hery Nabit pada saat kampanye di beberapa tempat.

Menurut Hery, “yang dibuat dengan tata kota adalah, menjadikan kota Ruteng sebagai kota bersih, kota terang, kota yang produktif dan kota yang inklusif.

Menurut Hery, dapur pelayanan publik pemerintahan dan pusat keramaian di Manggarai ada di Ruteng.

loading...

Ruteng juga sebagai ibu kota Kabupaten dan juga sebagai beranda depan dan wajah miniatur Manggarai.

Populasi orang yang tinggal dan menetap di Ruteng adalah representasi dari semua orang dari semua wilyah yang ada di Manggarai, dan juga dari suku-suku lain yang datang tinggal dan menetap di Ruteng.

Hery Nabit mengatakan dalam kampanyenya, merubah lapangan Motang Rua menjadi alun-alun kota, sebagai sebuah aksi nyata merubah wajah kota dan juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pada bidang Ekraf (ekonomi kreatif), dan kuliner serta jajanan lainnya.

Dan juga untuk menciptakan ruang terbuka bagi publik, sebagai tempat untuk berekreasi, dan menampilkan berbagai seni serta kreatifitas secara terbuka, baik siang maupun malam hari.

Rencana membangun alun-alun kota adalah upaya untuk mewujudkan kemajuan kota. Untuk mendukung itu tentu masalah sampah dan persoalan gelapnya kota Ruteng pada malam hari menjadi hal prioritas yang mesti diselesaikan.

“Ruteng harus bersih dan lampu di Ruteng harus terang pada malam hari, baik di seputaran alun-alun tersebut, maupun di wilayah Ruteng secara umum,” terang Hery Nabit.

Sementara konsep kota inklusif lebih pada konsep mewujuddkan kota yang ramah bagi semua orang terutama membangun fasilitas publik yang muda diakses oleh kaum disabilitas.

Hal yang lain dilakukan pasangan ini adalah membangun komunikasi dengan pihak Kementerian Hukum dan HAM, untuk membicarakan tentang aset tanah di seputaran lembaga lama.

“Kita upayakan bangun komunikasi dengan pihak-pihak terkait agar lahan itu dapat digunakan untuk menjadi fasilitas publik,” ungkapnya.

“Apabila tanah tersebut bisa digunakan untuk fasilitas publik atau tempat layanan pemerintahan, maka lokasi ini juga ditata dengan baik untuk menampilkan wajah kota Ruteng agar tampak semakin baik dan kelihatan sebagai kota maju,” imbuhnya.

Sementara program jelajah desa dibuat dengan tujuan mendorong kerja sama pemerintah desa dan pemerintah kabupaten untuk mengidentifikasi persoalan-persolan di desa agar kebijakan pemerintah kabupaten sesuai kewenangannya dapat menjawab dan mengatasi persoalan yang ada di desa.

Program jelajah desa ini juga dibuat untuk mendorong pusat pertumbuhan ekonomi di desa dengan cara mendorong tumbuhnya potensi dan sektor-sektor unggulan desa. Seperti kegiatan pembukaan lahan tidur, atau lahan baru. Mesti ada kerjasamanya dengan desa.

Kalau dari pemerintah kabupaten menyiapkan anggaran 2 juta perhektar lalu dari desanya menyiapkan benih atau komoditi yang cocok untuk ditanam pada wilayah setempat. Dan atau kerjasama dengan Bumdes untuk menerima hasil dari petani desa, lalu kemudian dari Bumdes dijual ke BUMD kabupaten

Program jelajah desa ini juga dimaksudkan untuk memastikan konektivitas antar desa, desa dan kecamatan, desa dan kabupaten terutama dari segi trasnportasi.

Selain itu juga untuk mengatasi persolan petani berkaitan dengan distribusi pupuk dan dukungan infrastruktur pertanian lainnya. Serta bekerjasama untuk mengatasi persoalan kesehatan masyarakat di desa, kesehatan ibu dan anak, dan masalah stunting serta pendidikan formal dan informal.

Dihubungi terpisah, salah satu tim sukses pasangan Hery-Heri Rustam Kelilaw, mengatakan, program ini muncul dari evaluasi pemerintahan Deno Madur yang gagal mengurus desa dan Ruteng sebagai ibu kota Manggarai.

Rustam menilai, program berkantor di desa terbukti tidak memberikan kontribusi untuk mendorong pembangunan di desa, hal ini dibuktikan sebagian besar jalan akses ke desa di Manggarai ditemukan dalam kondisi rusak parah, banyak ruang kelas rusak pada sekolah-sekolah yang umumnya ada di wilayah desa, masyarakat di banyak tempat masih kesulitan air minum.

Dan juga kegagalan pemerintahan Deno Madur yang gagal mengurus Ruteng sebagai ibu kota Manggarai, sampai hari ini Ruteng pada malam hari gelap, sampah tidak diurus, drainase banyak tersumbat karena tumpukan sampah dan menyebabkan banjir dan genangan air di jalan raya dan juga di pemukiman warga pada saat hujan karena drainasenya penuh tumpukan sampah. Penataan parkir kendaraan yang semerawut, dan juga persoalan air bersih dari pipa PDAM yang sering macet,” ujar Rustam.

Selama hampir 5 tahun berkuasa, pemerintah Deno-Madur tidak mampu menunjukan kebijakan yang mengatasi persoalan-persoalan yang ada, baik di Ruteng sebagai ibu kota kabupaten maupun di desa-desa,”tegas politisi muda sekaligus ketua PKS Manggarai tersebut, yang pada Pilkada 2015 menjadi tim sukses Deno-Madur,” tutup Rustam.

Untuk diketahui, sesuai data yang dirilis kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yaitu pada data IDM (indeks desa membangun) yang dikeluarkan kementerian tersebut tahun 2019.

Di kabupaten Manggarai masih ada 5 (lima) desa masuk dalam kategori desa sangat tertinggal, kemudian ada sejumlah 93 (sembilan puluh tiga) desa yang masuk dalam kategori desa tertinggal, dan ada 46 desa yang masuk dalam kategori desa berkembang, sementara dari data tersebut belum ada desa yang masuk dalam kategori desa maju dari 145 desa yang ada di kabupaten Manggarai.

Sementara kementerian lingkungan hidup pada tahun 2017 memberikan penilaian terhadap kota Ruteng sebagai salah satu kota kecil terkotor di Indonesia. Pemerintah daerah berupaya menyelesaikan persoalan sampah untuk mengatasi sampah di Ruteng, salah satunya menyiapkan tong sampah biru yang ditempatkan di tempat-tempat strategis dan lingkungan warga namun pengadaan tong sampah tersebut kemudian bermasalah.

Sumber: newsreport.id


  •  
  • 820
    Shares
loading...