Kata Polisi Soal 2 Warga NTT Korban Sriwijaya Air Pakai KTP Orang Lain

Pembaca: 1.232 Orang
  •  

media-wartanusantara – Dua orang warga NTT yang berasal dari Kabupaten Ende turut menjadi korban jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021).

Kedua penumpang tersebut pasangan calon suami istri yang dalam manifest tercatat bernama nama Feliks Wenggo dan Sarah Beatrice Alomau dengan nomor seat 18 dan 17.

Tapi, identitas dalam manifest tersebut bukanlah orang sebenarnya.

Kedua penumpang asal Ende ini terbang dengan pesawat nahas ini menggunakan identitas KTP dari orang lain.

Nama asli dari penumpang yang tercatat atas nama Feliks Wenggo adalah Teofilus Lau Ura kelahiran 5 Maret 1998.

loading...

Sedangkan untuk calon istrinya baru diketahui nama panggilannya yakni atas nama Shelfi.

Hal itu diketahui dari pihak Keluarga Benediktus Beke, mengatakan dua orang anggota keluarga penumpang Sriwijaya Air tercatat atas nama Feliks Wenggo dan Sarah Beatrice Alomau sesungguhnya keduanya menggunakan KTP atas nama orang lain yakni KTP dari Feliks Wenggo dan KTP dari Sarah Beatrice Alomau.

Terkait hal ini, pihak Kepolisian akan menyelidiki dua orang penumpang Sriwijaya Air SJ 182 tersebut.

“Kami masih dalami dari tim investigasi dan Basarnas. Kami data para korban,” kata Kabagpenum Polri Kombes Ahmad Ramadhan, Senin (11/1/2021).

Untuk memperjelas kasus ini, Polri akan mencari kecocokan dengan bertanya ke Dinas Kependudukaan dan Catatan Sipil (Disdukcapil).

“Kami akan tanya ke Disdukcapil, apa benar gunakan KTP yang bukan miliknya,” lanjut Ramadhan seperti dikutip dari Kompas TV.

Kronologi

Melansir CNN Indonesia.com, nama Sarah Beatrice Alomau, tercatat menjadi salah satu penumpang Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh pada Sabtu (9/1) lalu.

Namun, belakangan diketahui ternyata Sarah tidak berada dalam pesawat nahas tersebut. Identitas Sarah diduga digunakan penumpang pesawat atas nama Selfhi Ndaro.

Pengacara Sarah, Richard Riwoe menjelaskan, Sarah dan Selfhi memang berteman. Kontrakan keduanya pun berdekatan. Bahkan mereka bekerja di tempat yang sama, yakni di sebuah pergudangan yang berlokasi di sekitar bandara.

Richard menyebut keduanya juga sama-sama berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Sarah berasal dari Alor, sementara Selfhi dari Ende.

Tapi menurut Richard, Sarah tak mengetahui soal penggunaan kartu identitas itu. Kata Richard, kliennya hanya tahu bahwa Selfhi hari hendak terbang ke Pontianak.

“Nah karena mereka berteman dan juga Selfhi sering main ke tempat kontrakan Sarah ya karena kan tidak saling curiga bahwa ada penggunaan KTP, itu KTP milik Sarah, hanya Sarah tahu bahwa si Selfhi ini akan berangkat ke Pontianak,” tutur Richard saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (12/1).

Diketahuinya ada nama Sarah dalam manifest Sriwijaya Air SJ 182 itu bermula saat Richard mendapatkan daftar nama penumpang dari sebuah grup WhatsApp.

Daftar itu kemudian dia bagikan ke grup WhatsApp keluarga besar NTT. Dalam grup tersebut, seorang anggota pun menyatakan ada nama anggota keluarganya di daftar tersebut, yakni Sarah

Richard lantas meminta pihak keluarga itu untuk mencoba menghubungi Sarah. Hasilnya, diketahui bahwa Sarah sedang berada di kos.

Singkat cerita, akhirnya Richard dan Sarah bersepakat untuk bertemu di Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu (9/1) sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu, mereka sekaligus hendak mengklarifikasi informasi ke pihak Sriwijaya Air.

“Kami lapor ke posko Sriwijaya pada malam itu tanggal 9 bahwa yang namanya Sarah orangnya ini, KTPnya ini aslinya, kok bisa masuk ke dalam situ [pesawat], kecuali kalau KTPnya dibawa untuk check in dan bawa terbang, lain cerita,” ujar Richard.

Sarah sendiri, menurut Richard, telah memastikan tidak pernah melakukan check in dan tidak pernah tahu bahwa KTP-nya akan digunakan orang lain untuk keperluan administrasi perjalanan penerbangan.

Richard menduga KTP milik Sarah sempat difoto atau difotocopy oleh Selfhi kemudian digunakan untuk melakukan perjalanan.

“Nah itu [Selfhi] berangkat dengan pacarnya, calon suaminya, katanya, menurut cerita, nah calon suaminya ini belakangan setelah kita klarifikasi, nama Sarah, muncul juga nama yang lain yang sebenarnya dia tidak pernah terbang yaitu calon suaminya si Selfhi Ndaro ini,” ungkap Richard.

Berkaitan dengan peristiwa tersebut, lanjut Richard, pihak Sriwijaya Air diminta untuk bertanggung jawab. Sebab, telah meloloskan penumpang yang kedapatan tidak membawa identitas asli.

Padahal menurut Richard, berdasarkan aturan, setiap penumpang mesti menggunakan identitas asli saat melakukan proses check in penerbangan.

Diungkapkan Richard, pihak Sriwijaya sempat berdalih bahwa saat ini semua penumpang memakai masker di tengah pandemi Covid-19. Sehingga tak bisa mencocokan secara pasti wajah penumpang dengan foto pada kartu identitas.

Tapi Richard menilai proses kroscek identitas mestinya tetap tertib dilakukan.

“Saya tidak mempermasalahkan wajahnya, saya mempermasalahkan identitas yang dipakai itu apa sehingga Sriwijaya meloloskan penumpang yang tidak membawa identitas asli,” kata dia.

Lebih lanjut, Richard menuturkan pihak Sriwijaya telah menerima laporan dan klarifikasi yang dia dan kliennya buat.

Richard pun berharap Sriwijaya bisa melakukan investigasi atas peristiwa ini. Menurut dia, investigasi bisa dilakukan dengan mengecek rekaman CCTV dan meminta keterangan dari petugas bandara yang saat itu bertugas.

“Bahwa maskapai penerbangan bertanggung jawab terhadap setiap identitas yang dipakai oleh setiap penumpang,” kata Richard.

(Dirangkum dari berbagai sumber)


  •  
  • 525
    Shares
loading...