oleh

Gali Pengembangan Potensi Pariwisata, BPOLBF Terus Kedepankan Koordinasi dan Kolaborasi

media-wartanusantara.id – Dalam upaya menggali potensi pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berada dalam wilayah koordinatifnya, Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus mengedepankan koordinasi dan kolaborasi dengan segenap elemen. Dalam kesempatan ini BPOLBF melakukan pertemuan dengan Bupati Manggarai, Heribertus G. L. Nabit beserta jajarannya di Kantor Bupati Manggarai, Ruteng (13/4).

Pertemuan yang berlangsung di Aula Nucalale tersebut membahas potensi kerjasama antara kedua belah pihak dalam sektor pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif yang rencananya akan dituangkan dalam bentuk Nota Kesepahaman (MoU). Pertemuan ini diikuti oleh 3 Direktur BPOLBF yakni Direktur Industri dan Kelembagaan; Nesya Amalia, Direktur Destinasi Pariwisata; Konstant Mardinandus, dan Direktur Pemasaran Pariwisata; Raisa Lestari Niloperbowo.

“Terimakasih untuk kunjungannya hari ini, kami menyambut baik kedatangan teman-teman BPOLBF hari ini, yang menandai dimulainya langkah awal untuk kerjasama yang solid antara BPOLBF dengan Pemkab Manggarai kedepanya”, ujar Bupati Hery saat mengawali sambutan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Hery juga menyampaikan tentang 3 destinasi wisata Kabupaten Manggarai yang diusulkan untuk digarap bersama yakni penataan manajemen Wae Rebo, penyusunan grand design Pulau Mules, dan penataan kawasan Gua Liang Bua.

Selain 3 destinasi di atas, Bupati Herry juga menjelaskan mengenai rencananya dalam mengembangkan wisata budaya dan religi di Kabupaten Manggarai. Karena menurutnya Kabupaten Manggarai adalah ikon inkulturasi antara budaya Manggarai dan salah satu sentra agama Katholik di Pulau Flores.

“Secara budaya, 3 kabupaten yang ada di manggarai raya ini mempunyai akar budaya yang sama yaitu budaya manggarai, dan pusat kebudayaan manggarai itu sendiri adanya di Kabupaten Manggarai. Sementara untuk agama Katholik yang ada di Manggarai ini sudah masuk ke dalam kebudayaan melalui inkulturasi, sehingga potensi wisata budaya dan religi itu sangat mungkin, terlebih untuk potensi di dalam kota Ruteng sendiri. Ruteng itu unik, karena ada kampung-kampung adat di dalam kota, yang mempunyai tatanan adat sendiri, sehingga sangat mungkin dikembangkan sebagai tujuan wisata dalam kota”, ujarnya.

BACA JUGA:   Sang Mantan Cemburu, Pengantin Pria Ini Tewas Dibunuh di Depan Istrinya

Lebih lanjut, Ia juga mengajak segenap elemen baik pihak BPOLBF maupun jajarannya yang hadir untuk bahu membahu, dan saling belajar.

“Kami juga dalam proses belajar, ada hal yang mungkin teman-teman BPOLBF tahu lebih banyak, dan ada hal yang mungkin memerlukan masukan dari kami untuk apa yang akan dilakukan bersama kedepannya, mari berjalan beriringan! ” tutup Hery.

Dalam pertemuan ini Bupati Hery didampingi oleh Sekertaris Daerah Manggarai; Fansi Jahang, Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai; Siprianus Jamun, serta Kepala Dinas Pertanian Manggarai; Yoseph Mantara.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Destinasi Pariwisata BPOLBF, Konstan Mardinandus pada kesempatan yang sama mengungkapkan, pihaknya menerima masukan dan mengapresiasi dukungan dari Pemkab Manggarai.

“Mari kita melihat hal – hal besar yang bisa dikerjakan bersama, dan mari mengawali dengan langkah awal seperti pencanangan Nota Kesepahaman ini yang pada penandatangananya nanti akan dihadiri langsung oleh ibu Shana Fatina selaku Direktur Utama BPOLBF. Terimakasih kepada bapak Bupati, semua masukannya kami terima dan akan kami sisir lagi potensi yang bisa digarap dalam tahun ini”, ujar Konstan.

Senada dengan Direktur Destinasi Pariwosata, Direktur Industri dan Kelembagaan BPOLBF, Nesya Amalia menjelaskan, pihaknya akan memulai langkah awal kerjasama ini melalui peningkatan SDM yakni melalui pendampingan- pendampingan, maupun penggarapan potensi produk pariwisata setempat seperti agrowisata kopi.

“Kami sebelumnya telah menjalin komunikasi dan langkah awal upaya pengembangan kopi manggarai sebagai produk wisata. Setelah sebelumnya kita mengajak beberapa asosiasi seperti MPIG (Masyarakat Pemerhati Indikasi Geografis) dan Asnikom (Asosiasi Petani Kopi Manggarai), serta Apekam (Asosiasi Petani Kopi Jahe Manggarai) melakukan studi banding ke beberapa daerah yang telah lebih dahulu memulai agrowisata kopi, seperti banyuwangi dan beberapa daerah lain. Harapannya, hal serupa bisa diterapkan di sini, apalagi dengan potensi Kopi Manggarai yang telah diakui melalui Sertifikasi Indikasi Geografis (SIG),” kata Nesya

BACA JUGA:   Wajah Tirani BPOPLBF Membangun Pariwisata

Sebagai tindak lanjut dari diskusi tersebut, nantinya akan dibentuk Kelompok Kerja (Pokja) percepatan pengembangan pariwisata Kabupaten Manggarai. Pokja ini berisikan anggota dari OPD (Organisasi Perangkat Daerah) bersama BPOLBF yang bisa menunjang percepatan pengembangan pariwisata di Kabupaten Manggarai. (rls/yb)

WARTA UTAMA