Manggarai Barat Butuh Pemimpin yang Entrepreneur

Penulis: Syamsudin Kadir
(Penulis buku "Selamat Datang Di Manggarai Barat")

Manggarai Barat atau Mabar merupakan salah satu kabupaten baru di propinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT. Kabupaten yang terletak di ujung paling barat pulau Flores ini terdiri dari 12 kecamatan dan 169 desa dan kelurahan.

Dalam konteks pemilihan kepada daerah atau pilkada serentak 2020, Mabar termasuk salah satu daerah di NTT yang menyelenggarakan pilkada. Hal ini karena memang periode kepemimpinan Drs. Agustinus Ch. Dula dan drh. Maria Geong, P.hD akan berakhir pada Oktober 2020 mendatang.

Sebagaimana biasanya dalam kontestasi atau pilkada, para tokoh atau politisi hadir dengan segala rupa caranya. Dari membangun citra, tebar pesona dan pendekatan masal, hingga menebar visi-misi, program strategis atau unggul dan keunggulan dirinya.

Dalam politik, fenomena semacam ini adalah sesuatu hal yang wajar-wajar saja. Justru momentum terbaik untuk melakukan hal semacam itu adalah pilkada, tepatnya pra pilkada seperti yang terjadi saat ini.

Kalau kita telisik lebih kritis dari pilkada ke pilkada berikutnya, terutama yang sudah terjadi skitar 10 tahun terakhir, salah satu isu atau program penting yang kerap tidak diperhatikan oleh para bakal calon pemimpin Mabar adalah upaya melahirkan entrepreneur baru di Mabar. Padahal hal ini sangat penting dan akan menentukan masa depan Mabar itu sendiri.

Entrepreuner tentu saja yang handal adalah salah satu kunci penting bagi perubahan dan kemajuan Mabar ke depan. Entrepreuner bukan sekadar sosok yang memiliki usaha yang melahirkan lapangan kerja sehingga bisa mengurangi jumlah pengangguran, tapi juga mental yang mesti dibina secara serius dan terus menerus dalam kehidupan warga Mabar, lebih khusus lagi generasi mudanya.

Hal semacam itu tentu sangat ditentukan oleh kualifikasi dan mental atau minimal cara berpikir pemimpin. Pemimpin yang berjiwa entrepreneur atau memiliki konsen untuk melahirkan entrepreneur baru di Mabar akan menjadi energi tersendiri bagi Mabar dalam menata masa depannya.

Generasi muda, dengan segala potensi atau keunggulannya, sangat layak mendapatkan pendidikan dan pembinaan khusus sehingga menjadi entrepreneur handal dan tentu membanggakan. Hal ini terutama karena jumlah generasi muda Mabar dari tahun ke tahun semakin banyak.

Kita tentu sangat menginginkan agar ke depan Mabar tidak lagi dihadapkan dengan permasalahan lapangan kerja yang susah, sehingga menimbulkan pengangguran yang membahayakan produktifitas kita untuk menjadikan Mabar sebagai daerah yang warganya maju dan sejahtera.

Upaya melahirkan entrepreneur muda di Mabar bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya, pelatihan entrepreneur dengan materi dan proses pembinaan yang mendukung. Di samping praktik ril, sehingga semangat untuk menjadi entreprenur dan keterampilan menjadi generasi mandiri sekaligus produktif terus terjaga dengan baik.

Selain itu, bisa juga dilakukan dengan cara mengirimkan para calon entrepreneur tersebut ke beberapa kota. Mereka mesti belajar langsung kepada para entrepreneur senior atau yang lain yang sudah sukses dalam membangun karir dan usaha. Sehingga mereka benar-benar bisa langsung belajar kepada yang berpengalaman, bukan sekadar teori, atau sekadar pelatihan atau pembinaan saja.

Pertanyaannya, apakah para tokoh yang nama-namanya muncul begitu rupa di berbagai media massa dan media sosial pada konteks dinamika politik Mabar terutama menjelang pilkada Mabar 2020 ini punya konsen terhadap isu tersebut?

Kalau mereka benar-benar ingin menghadirkan perubahan bagi Mabar ke arah yang lebih baik dan maju, maka melahirkan entrepreneur baru Mabar mesti menjadi konsen, sehingga perlu dielaborasi secara apik dan serius sebagai bagian dari janji politik di momentum pilkada yang segera menjelang.

Saya termasuk warga biasa yang sangat percaya bahwa pemenang pilkada Mabar 2020 adalah pasangan yang berjiwa entrepreneur dan punya konsen terhadap isu sekaligus program melahirkan generasi unik ini. Karena ini bukan sekadar kampanye politik, tapi benar-benar dibutuhkan secara ril oleh Mabar terutama generasi mudanya.

Sebetulnya program ini tak sulit, tapi sangat mudah. Karena generasi muda punya kemampuan membaca zaman yang cukup baik. Sebab mereka diuntungkan oleh hadirnya media informasi yang begitu mudah memberikan berbagai informasi tentang banyak hal, termasuk teori dan praktik khas ketika menjadi entrepreneur.

Peran pemimpin Mabar hanyalah pemantik sekaligus pembina semangat para entrepreneur, di samping sebagai pembuka jejaring lintas sektor, sehingga para entrepreneur mendapatkan angin segar dan ruang terbuka dalam meningkatkan kualitas dirinya sebagai entrepreneur baru.

Lebih jauh, dengan perubahan dan kemajuan Mabar yang terus diupayakan oleh pemerintahan daerah atau pemda Mabar beberapa tahun belakangan, termasuk kemajuan sektor pariwisata yang cukup kompetitif dari berbagai sisinya, serta jumlah penduduk usia produktif semakin tinggi, maka Mabar juga sejatinya membutuhkan sosok pemimpin yang berjiwa entrepreneur. Ya, pemimpin Mabar ke depan mesti entrepreneur sejati.

Momentum penentunya adalah pilkada Mabar pada 23 September 2020 mendatang. Saya sangat percaya bahwa diantara nama-nama yang muncul sebagai bakal calon Bupati atau Wakil Bupati Mabar 2020-2025 terdapat para tokoh yang berjiwa entrepreneur. Atau minimal memiliki konsen atau perhatian yang serius untuk isu atau program ini. Kita doakan saja agar mereka yang demikian itu terpilih sebagai pemenang pilkada Mabar 2020, hingga berkenan dilantik sebagai pemimpin baru Mabar. (*)

Jakarta, Rabu 20 November 2019