Sepucuk Surat Untuk Lucya

Siang itu di tepi pantai, seorang gadis sedang duduk sembari memandang ke langit. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Barangkali ada PR yang menumpuk dikepalanya. Diambilnya pena dan buku kecil bercover hello kitty dari sakunya,,buku itu sering dijadikan sahabat diamnya.
            Frengky nama yang sering melejit di diarynya. Ia adalah sosok sahabat Lucya yang paling dekat dengannya semasa kecil hingga SMA. Ditambah rumah mereka sekompleks.

Selepas tamat SMA, Frengky berpindah ke Jakarta lantaran ayahnya bertugas di sana. Sementara Lucya melanjutkan sekolahnya di PTN di kampungnya. Sekarang mereka sudah memiliki jalur masing-masing . Hari-hari biasa yang mereka lalui sebagai sahabat sudah hilang bahkan mungkin tak akan terjadi lagi. Sudah setahun Frengky hilang kabar,, bahkan telfon,sms dari Lucya pun tidak pernah dijawabnya..

‘’Seandainya waktu itu aku jujur dengannya, pasti penyesalan ini tak akan terjadi’’, demikian jeritan hati Lucya. Yah… sudah sejak lama ia mengagumi Frengky,bahkan ketika mereka beranjak smp,Lucya menyimpan hati untuk Frengky. Namun ia takut untuk mengukapkan hal itu. Ia takut dianggap perempuan murahan oleh teman-temannya bahkan oleh Frengky sendiri. Apalagi dominasi untuk menembak itu bermula dari kaum laki-laki (menembak dalam arti mengukapkan perasaan). Ia juga takut ditolak,,pikirannya saat itu berkecamuk dengan banyak ketakutan yang ada. Bisa apa dia dengan perasaan yang merengguh dirinya sekarang? Menyesal? Barangkali kata itu yang mampu mendeskripsi dirinya.

‘’Lucya,,hari ini kita bagi tugas. Ini nota belanja. Tugasmu adalah pergi ke pasar sekarang juga membeli semua barang yang ada dalam nota ini.. Sementara ibu akan membersihkan rumah sembari menunggumu membawa belanjaan yang sudah ibu pesankan untuk dimasak,ibu harap kau akan kembali pukul 14.00,,karena tamu-tamu ibu akan datang pukul 17.00’’,,demikian perintah ibu kepada Lucya. Maklum Lucya adalah anak tunggal. Ia berpisah dengan ayahnya sejak berumur 10 tahun. Sekarang rumah peninggalan Almahrum ayahnya hanya dihuni oleh ibu dan dirinya. Masih terlalu dini rasanya bagi anak yang sekecil itu hidup tanpa seorang ayah. Mengenai perintah dan omelan ibunya,sudah menjadi hal yang biasa baginya.

            Sontak Lucya menyalakan Matic tua peninggalan ayahnya menuju pasar yang jaraknya 2 km. Sesampainya ia di tempat tujuan ia pun langsung berjalan menghampiri pedagang langganan ibunya dan menyerahkan nota belanjaan tadi. Satu persatu barang –barang belanjaan disimpan dalam plastic berukuran amat besar,hingga Lucya sedikit sulit membawanya lantaran berat.

            Di tengah perjalanan menuju tempat parkir,dengan belanjaan yang ia genggam ditangan kanan dan tangan kirinya,tiba- tiba ia terantuk pada sebuah batu, semua belanjaanya pun jatuh berserakan di jalanan. Namun di tengah pristiwa itu,seorang pria yang sepertinya sejak tadi memperhatikannya kemudian membantuya. Setelah semua belanjaan seperti keadaan semulanya,Lucya pun mengucapkan terimakasih sembari berjabat tangan dengan pria itu.

            ‘’Frengky?’’,demikian tanya Lucya. Ia kaget dan tak percaya bahwa dihadapannya adalah Frengky. Sedikit- dikit ia mencubit tangannya dengan maksud apakah ini mimpi atau realita. ‘’Benarkah kau Frengky?’’,tanyanya lagi.

            ‘’Ya Lucya,,aku Frengky sahabat kecilmu dahulu,,kukira kau sudah melupakanku Luc. Tapi dugaanku ternyata salah. Kau masih ingat denganku dan tingkahmu masih seperti dahulu ya”,jawab Frengky.

           Dengan senyum yang tersipu malu,Lucya pun mengajak Frengky ke rumahnya, lantaran waktu untuk berbincang lama dengannya di tempat itu sepertinya tidak ada lagi. Belum lagi ibunya sudah lama menunggunya di rumah. Sementara Frengky ia harus menunggu eyangnya yang sedang berbelanja dan kemudian mengantar eyangnya pulang.

            Perlahan-lahan senja sepertinya akan dilahap gelap. Yahh…. Hari sudah malam,,semua tamu ibu Lucya sudah beranjak pulang ke kediamannya masing-masing.

            Disandarkan kepalanya pada jendela kamarnya yang belum ditutupi gorden. Pandangannya mengikuti jejak bintang malam yang amat hangat untuk perasaannya kala itu. Ia hanya tersenyum ketika imajinasinya dipenuhi dengan wajah Frengky dan moment tadi yang tak disangkanya.

            Tok……tok…..tok……. Terdengar ketokan di pintu rumahnya. Dengan perasaan sedikit takut dan kaget apalagi karena waktu yang amat larut, ia pun melangkah menuju pintu utama rumahnya,lantaran ibunya sudah istirahat karena kecapaian melayani tamu sore tadi.

            Dibukanya pintu itu,,tak ada orang yang dilihatnya kala itu. Hanya secarik kertas hello kitty kesukaanya tergeletak di teras. Diambilnya kemudian ia membacanya:

Lucya………

Apa kabar dengan dirimu sekarang?

Kuharap kau selalu dalam lindungan-Nya

Apa kau sudah memiliki seorang teman sejati ?

Lucya..

Maaf jika waktu itu kau menelfonku namun tak ada jawaban dariku. Maaf jika aku tak mengabarimu selama aku di Jakarta. Semenjak ayahku mengajak aku pergi bersamanya,ternyata ia sudah lama merahasiakan sesuatu. Ternyata ia sakit Luc. Saat itu batinku dipenuhi beban Luc,aku tidak ingin diganggu siapa-siapa,kecuali merawat ayahku. Hari-hariku selalu bersamanya . Aku ingin membahagiakannya di detik-detik kepergiannya. Dan sekarang aku tinggal dengan ibu dan eyangku di sini.

Lucya…

Bolehkah aku jujur?

Ketika dahulu kita merajut cerita sebagai sahabat,aku sudah merasakan hal yang lebih dari itu . Aku mencintaimu. Aku malu untuk mengatakan hal itu sejak lalu. Aku takut kau menolakku dan kemudian merusak persahabatan kita.

Salam

Frengky

 

Setelah Lucya membaca surat itu dengan kepala mengangguk,,sontak Frengky pun mendekatinya dan memeluknya. Malam itu pun menjadi saksi cinta mereka.

 

‘’Lucya… Lucya bangun,,sudah sore. Nanti kita dimarah ibu’’,kata Stadisia sepupu Lucya.

            Dengan mata yang sayup dicarinya buku dan pulpennya di atas pasir.

Ohhhhhh…

“Ternyata ini mimpi” Lucya membatin

 

Oleh: Sisilia Merung, Srikandi Muda PMKRI Jogja