Isak Tangis Warga Saat Jenazah Fidelis Pranda Tiba di Labuan Bajo

DENPASAR – Peletak dasar Pembangunan Kabupaten Manggarai Barat itu telah pergi untuk selamanya.

Wilfridus Fidelis Pranda, tutup usia setelah melewati rangkain proses perawatan melawan penyakitnya di Rumah Sakit Kasih Ibu Denpasar, Selasa (17/3) kemarin.

Kepegian Fidelis Pranda, menyisahkan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Bumi Komodo. Itu dilihat dari isak tangis masyarakat saat jenazah mendiang Fidelis tiba di Labuan Bajo, Ibukota Manggarai Barat pada Rabu (18/3) pagi.

Warga masyarakat Labuab Bajo tumpah ruah, ketika jenazah almarhum Fidelis Pranda diantarkan ke rumah duka di Perumahan Satu Golokoe Labuan Bajo.

Raut sedih dan tangisan menyeruak dari semua lapisan masyarakat dalam mengantarkan jenazah sang perintis Pembangunan Mabar itu.

Sebelumnya, Putri almarhum Fidelis Pranda yakni Viera Pranda dalam penuturannya kepada media ini mengatakan, bahwa sebelum menghembuskan nafas terakhir sang ayah Fidelis Pranda telah menjalani operasi di RSU Kasih Ibu Denpasar.

Adapun tindakan operasi itu yaitu mengangkat Tumor yang ada di otak sebelah kanan.

“Bapa itu operasi hari Jumat, jam 1 siang masuk ruangan operasi. Setengah tiga mulai operasi sampai jam setengah 7 jadi cuman 4 jam operasi,” jelas Viera Pranda.

Dikatakan Viera, jika proses operasi terhadap ayahnya itu berjalan lancar dengan hasil yang bagus.

Viera menceritakan, pasca operasi mendiang Fidelis Pranda sempat sadarkan diri.

“Habis (operasi) itu Bapak memang agak sadar, dari Sabtu siang dia sadar responya memang lemah hanya bisa gerak tangan sama kaki. Kita coba bicara, Bapa respon tapi sedikit,” terang Viera.

Habis menjalani operasi, lanjut Viera, ayahnya itu langsung dipindahkan ke ICU hingga ia menghembuskan nafas terakhir.

Sebelumnya, pada Selasa (18/3) pagi, Fidelis Pranda sempat pulang namun dipanggil lagi oleh pihak Dokter dengan alasan ada infeksi di paru-paru yang diakibatkan oleh banyak lendir di paru-paru

“Tadi pagi memang sempat pulang, namun dokter panggil kembali. Dokter bilang ada infeksi di paru-paru karena banyak lendir di paru-paru. Jadi karena lendir itu menekan jantungnya,” beber Viera Pranda.

Saat menjalani perawatan di ruangan ICU, kata Viera, semua usaha telah dilakukan terhadap almarhum.

“Semua telah diusahan dari tadi pagi, Bapa sempat bertahan. Habis itu kita bantu pakai fentilator, pakai alat bantu pernapasan itu sejak tadi pagi. Terus jam 5 (sore) hilang,” ucap Viera Peranda sambil mengusap air mata.

Viera Pranda juga menjelaskan, bahwa Fidelis Pranda sebelumnya pada akhir Februari lalu berangkat dari Labuan Bajo menuju Jakarta.

“Dari Labuan Bajo ke Jakarta jalan-jalan di Jakarta liat saya kebetulan saya di Jakarta. Jadi Bapak mau istirahat. Dengan mama ke Jakarta,” jelas Viera Pranda.

Dari Jakarta, Fidelis Pranda bersama isteri transit di Bali dan berkunjung ke salah satu anaknya yang tinggal di Denpasar.

“Karena di sini (Denpasar) ada kaka saya, mau lihat cucunya akhirnya teransit di Bali,” ucap Viera.

Saat di Jakarta, kata Viera kondisi dari ayahnya tersebut terlihat sudah menurun.

“Bapa (kelihatan) sudah capeh. Dia datang dari Labuan Bajo kesehatan sudah menurun, makan juga sedikit, kita pikir Bapa ini kenapa,” ujar Viera.

Melihat kondis seperti itu, mereka kemudian berinisiatif untuk mengantarkan Fidelis Pranda untuk melakukan pengecekan kesehatan di Laboratorium.

“Kita cek di lab ternyata trombositnya rendah sekali. Kalau trombosit rendah berarti ada sesuatu yang infeksi di dalam,” beber Viera Pranda.

“Memang waktu itu reaksi Bapa itu lambat sekali, kita ngomong juga jawabnya nanti, mau pakai baju juga setengah mati. Makan juga susah. Jalannya sudah lambat. Ngomong kadang tidak nyambung,” imbuhnya.

Ketika tiba di Bali pada tanggal 5 Maret lalu, tanggal 6 kondisi dari Fidelis Pranda sudah menurun.

“Kesadaran sudah menurun, tanggal 7 sudah gelisah tidak bisa tidur, akhirnya dia mengeluh jantung sebelah kiri ketukan akhirnya kita bawa malam minggu ke Rumah Sakit,” terang Viera Pranda.

Saat di Rumah Sakit, Fidelis Pranda menjalani perekaman jantung dengan cara CT Scan MMRI dan hasilnya terlihat ada sesuatu di otak.

“Saat itu dokter, setelah hasil MMRI (mengatakan) ada tumor di otak sebelah kanan. Kita harus ambil keputusan bahwa hanya satu jalan yaitu operasi kata dokter,” terang Viera. (RED)

Selamat jalan Wilfridus Fidelis Pranda. Jasamu dalan membangus Manggarai Barat akan selalu dikenang sepanjang masa. (RED)