oleh

Viral, Video Ritual Minta Hujan, 6 Gadis Cantik Ini Diarak Telanjang

media-wartanusantara.id — Enam gadis muda di India ditelanjangi dan diarak telanjang sebagai bagian dari ritual desa untuk memanggil hujan.

Insiden itu terjadi di satu desa yang kering di wilayah Bundelkhand, negara bagian Madhya Pradesh, India.

Video yang menjadi viral di media sosial menunjukkan gadis-gadis muda berjalan telanjang dengan batang kayu di bahu mereka yang diikat katak.

Penduduk setempat percaya ritual itu akan menyenangkan dewa hujan dan membawa hujan ke wilayah tersebut.

Komisi Nasional Perlindungan Hak Anak India telah meminta laporan dari administrasi distrik Damoh, tempat desa itu berada.

Kepolisian Madhya Pradesh mengatakan mereka belum menerima pengaduan resmi apa pun terkait acara tersebut, tetapi mereka telah membuka penyelidikan.

“Tindakan akan diambil jika kami menemukan gadis-gadis itu dipaksa berjalan telanjang,” papar inspektur polisi Damoh DR Teniwar kepada kantor berita Press Trust of India.

Video itu menunjukkan gadis-gadis itu, beberapa dari mereka dilaporkan berusia lima tahun, berjalan bersama dalam prosesi, diikuti sekelompok wanita menyanyikan lagu-lagu pujian.

Prosesi berhenti di setiap rumah di desa dan anak-anak mengumpulkan biji-bijian makanan, yang kemudian disumbangkan ke dapur umum kuil setempat.

“Kami percaya ini akan membawa hujan,” ungkap seorang wanita dalam prosesi itu.

Aparat distrik Damoh S Krishna Chaitanya mengatakan orang tua gadis-gadis itu telah menyetujui ritual tersebut dan bahkan telah berpartisipasi di dalamnya.

“Dalam kasus seperti itu, pemerintah hanya dapat membuat penduduk desa sadar tentang kesia-siaan takhayul tersebut dan membuat mereka mengerti bahwa praktik seperti itu tidak memberikan hasil yang diinginkan,” ujar dia.

Pertanian India sebagian besar bergantung pada musim hujan dan di banyak daerah, ada ritual yang ditujukan untuk dewa hujan tergantung pada adat dan tradisi setempat.

Beberapa komunitas mengadakan yagnas (ritual api Hindu). Komunitas lain menikahi katak atau keledai atau melakukan prosesi menyanyikan lagu-lagu untuk memuji dewa hujan.

Para pengkritik mengatakan ritual itu hanya mengalihkan perhatian orang-orang biasa dari kesulitan, tetapi para ahli budaya mengatakan praktik itu adalah ukuran keputusasaan bagi mereka yang percaya tidak ada tempat lain untuk meminta bantuan. **