Penulis: Sr. Leonarda susana hingi Aran, PIJ
Dari negeri kutulis ini untukmu, indonesiaku.
Dari pelosok kulantunkan suara hatiku untukmu negeriku.
Dari tanah dengarkan suara mereka yang tak lagi bersuara.
Mereka yang terbaring kaku puluhan tahun silam.
Demi Bumi pertiwi ini
Bumi pertiwi yang tak lagi mengukir sejarah dulu
Bumi pertiwi yang ingin menang sendiri di era digital ini
Pergerakkan yang mulai menghilangkan budaya dan citra bangsa ini
Sisi gelap yang mulai mengancam cemerlangnya cahaya kebenaran,
Yang dikirim Allah untuk kita.
Dan dari pedalaman kukirim air mata dengan seribu rasa, seribu luka.
Seribu kata, seribu hal yang menggoncangkan jiwa.
Dentangan keadilan dan kejujuran tak lagi berjalan.
Perbedaan satu per satu mencari cela untuk saling membelenggu
Maraknya pilitik yang tak lagi sehat datang dari mereka yang hanya ingin menang sendiri.
Tangisan kaum kecil yang menyuarakan keadilan dan kebenaran
Dihancurkan oleh segelintir orang yang ingin menjatuhkn sang tokoh terbaik
Penyuara kebenaran diera digital ini
Hanya dia.
Ya, bagiku hanya dia
Hanya dia yang mendengarkan suara mereka
Hanya dia yang bisa menangis untuk mereka.
Hanya dia yang menaruh hati untuk mereka
Tanpa peduli dgn harga dirinya sebagai orang nomor satu
Pernahkah kamu, kita dan mereka, yang punya ego.
Mendengar suara mereka?
Pernahkah kita menangis untuk mereka?
Pernah kita menempatkn ktulusan hati utk mereka?
Pernahkah ego membiarkan mereka bebas dari belenggu.
Jangan pernah membakar hati tulus mereka
Jangan pernah menodai sucinya jiwa mereka..dengan egomu
Karena ego hanya memuaskan diri sendiri tetapi menghancurkan citra bumi pertiwi di mata dunia
Jogja, 28 september 2019
Oleh: Sr. Leonarda susana hingi Aran, PIJ.













