oleh

Wabup Matim: 2024, Penurunan Prevalensi Stunting Ditargetkan Mencapai 90,50 Persen

media-wartanusantara.id — Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Matim, Bapelitbangda Matim dan beberapa Dinas terkait menggelar kegiatan rembuk stunting tingkat Kabupaten Manggarai Timur yang berlangsung di aula Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Hanura, pada Rabu (15/9/21).

Wabup Matim Drs. Jaghur Stefanus pada kesempatan itu menyampaikan, setiap tahun Pemkab Matim mengadakan rembuk stunting.

“Tujuannya untuk memastikan terjadinya integrasi pelaksanaan intervensi penurunan stunting bersama lintas sektor. Baik bersama perangkat daerah, pemerintah kecamatan, kelurahan, desa maupun nonpemerintah,” ungkapnya.

“Rembuk stunting yang dilaksanakan saat ini untuk menetapkan rencana kerja bersama lintas sektor sebagai bentuk komitmen dalam percepatan penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Manggarai Timur tahun 2022,” imbuhnya.

Adapun, rancangan rencana kerja bersama tersebut yang telah disusun melalui tahapan kegiatan diantaranya;

Pertama, memadukan hasil perencanaan partisipatif dari masyarakat yang dikemukakan pada saat musrenbang tingkat desa dan kecamatan pada tahun 2021 dengan rencana kerja pemerintah tahun 2022.

Kedua, mengevaluasi dan menganalisis situasi atas capaian kinerja penanganan stunting tahun-tahun sebelumnya.

Evaluasi tersebut, lanjut Wabup Jaghur, untuk keefektivan dan keefisienan manajemen pelayanan. Keefektivan dan keefisienan program dan kegiatan. Keefektivan dan keefisienan integrasi program dan kegiatan lintas sektor serta rasionalitas anggaran, penetapan dan capaian target.

“Berdasarkan hasil evaluasi tersebut diketahui bahwa secara umum tren prevalensi stunting di Kabupaten Manggarai Timur dari tahun ke tahun terus menurun,” tandasnya.

Dijelaskan Wabup Jaghur, pada Agustus 2019 prevalensi stunting sebesar 18,70 persen. Pada Februari 2020 menurun menjadi 16,5 persen dan pada Februari 2021 menurun lagi menjadi 14,10 persen.

Pada tahun 2022, kata Wabup Jaghur, penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Manggarai Timur ditargetkan mencapai 13,50 persen. Pada tahun 2023 ditargetkan 11,50 persen dan pada tahun 2024 ditargetkan 9,50 persen.

Penetapan target tersebut, kata dia, selaras dengan target Nasional. Tahun 2024 prevalensi stunting tingkat nasional ditargetkan mencapai 14 persen.

“Kita mesti mempunyai kontribusi untuk menurunkan prevalensi stunting tingkat nasional. Intervensi terpadu terhadap masalah stunting ini mesti terus kita lakukan secara bersama-sama,” ucapnya.

Kata dia, persebaran balita stunting di Manggarai Timur terdapat di semua desa dan kelurahan tetapi jumlahnya berbeda-beda di masing- masing desa dan kelurahan. Tahun 2022 penanganan lebih difokuskan pada 78 desa sambil tetap menangani desa-desa lainnya.

Wabup Jaghur mengatakan, dengan kegiatan rembuk stunting ini untuk menyepakati kedua intervensi tersebut yang akan kita laksanakan pada 78 desa di Kabupaten Manggarai Timur pada tahun 2022.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kadis Kesehatan Matim dr. Surip Tintin, Kaban Bapelitbangda Matim Ngkeros Maksimus, LSM Wahana Visi Indonesia, para Kepala Puskesmas, Para Camat, Para Lurah, Para Kepala Desa, para tokoh agama dan tokoh masyarakat. (Rls)

WARTA UTAMA