Leo Lelo Jadi Ketua Demokrat NTT, BKH Dituding Mempengaruhi Keputusan AHY

  •  
  •  
  •  
  •  

media-wartanusantara.id – Massa pendukung Jefri Riwu Kore tak terima dengan keputusan Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat yang telah menetapkan Leo Lelo sebagai Ketua Demokrat NTT periode 2021-2026. Menggelar demo di Depan Kantor DPD NTT pada Selasa, 4 Januari, mereka membakar sejumlah atribut partai Demokrat yang terdiri dari bendera, spanduk, Jacket dan kaos Partai Demokrat.

Mereka menuding Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Benny Kabur Harman (BKH) yang mempengaruhi keputusan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menetapkan Leo Lelo jadi Ketua DPD. AHY disebut hanya mendengar bisikan dari BKH.

“AHY adalah pemimpin egois dan tipis telinga, di mana hanya mampu mendengar bisikan Benny Kabur Harman tanpa mendengar aspirasi nyata dari warga Demokrat NTT. AHY masuk dalam perangkap politik identitas seorang Benny Kabur Harman di NTT, yang selalu mengutamakan suku dan agama,” demikian salah satu point dari pernyataan sikap yang disampaikan Koordinator Aksi, Nathan Gah, dikutip Media Warta.

Leo Leo sendiri merupakan Politisi Partai Demokrat asal Sikka, Flores Nusa Tenggara Timur. Sementara rivalnya Jefri Riwu Kore yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Kupang, merupakan politisi Demokrat kelahiran Kupang. Ia sebelumnya merupakan calon petahana Ketua DPD Demokrat NTT.

Dalam pernyataan sikap, Nathan mendesak Jefry Riwu Kore agar segera berhenti dan keluar dari keanggotaan partai berlambang mercy itu. Sebab menurut mereka, DPP tidak menghargai jasa dan kontribusi besar Jefry, di mana Ia pernah menjadi anggota DPR RI selama dua periode, serta kesuksesan Partai Demokrat selama Jeriko memimpin sebagai ketua DPD di NTT.

DPP juga disebut tidak menghargai loyalitas Jefry Riwu Kore di saat partai tersebut sempat disabotase KLB Muldoko. Di mana, Jefry adalah kader yang memberikan informasi adanya gerakan dalam internal partai. “Loyalitas dan kesetiaan bapak Jeriko dalam menjaga Demokrat NTT dari anasir KLB Muldoko, dibalas dengan penghianatan AHY (Ketua Agus Harimurti Yudoyono),” dikutip pernyataan sikap itu.

Para simpatisan ini juga menyerukan kepada semua simpatisan dan warga pecinta Demokrat di NTT, untuk tidak lagi mendukung partai binaan presiden ke-6 Susilo Bambang Yudoyono itu.

“AHY adalah pemimpin muda yang belum matang, dan belum sanggup mengelola demokrasi dalam partainya sendiri, sehingga tidak bisa dikatakan negarawan,” sebut Nathan.

Ia menyebut jika AHY dinilai sangat memalukan partai yang telah dibanggakan warga di NTT, di mana dengan keputusan yang tak negarawan ini, membuktikan jika AHY tak bisa menjadi pemimpin yang berdemokrasi. “Simpatisan Demokrat NTT menyatakan berhenti untuk merawat dan mencintai Partai Demokrat NTT,” ujarnya.

Diketahui, Leonardus Lelo menang dalam Musda Ke-IV Partai Demokrat NTT yang telah digelar 15 Oktober 2021 lalu. Leonardus Lelo mengatakan, dia dipilih sebagai ketua DPD berdasarkan hasil uji kelayakan. Sehingga setelah melalui pertimbangan DPP, dia diputuskan menjadi ketua DPD NTT.

“Saya divideo call oleh Sekjen dan BPOKK Partai Demokrat. Berdasarkan hasil fit and propert test dan pertimbangan DPP, maka keputusan ketua umum menetapkan saya sebagai ketua DPD 2021-2026,” jelasnya dalam konferensi pers di salah satu Hotel di Kupang, Selasa.

Leo Lelo mengatakan, dia akan mengakomodir Jefri Riwu Kore untuk masuk dalam dewan pertimbangan DPD Demokrat. “Saya tetap mengajak Jefri Riwu Kore untuk tetap masuk dalam dewan pertimbangan DPD Demokrat NTT,” ujarnya.

Dia menambahkan, proses Musda telah selesai, Sehingga, dia mengajak seluruh kader untuk meneruskan perjuangan dalam pilkada, pileg maupun pilpres 2024.

“Saya sampaikan terima kasih AHY dan Ketua Majelis Tinggi bapak SBY, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya. Saya akan melaksanakan amanah dan kepercayaan ini sebaik-baiknya untuk kembali mengharumkan Demokrat di NTT,” ucap Leo Lelo. (Red)